Air Mata Jadi Air Bersih saat Ujung Mata Bor TMMD 128 Menyentak Urat Air Tanah Piaman

  • 28 Mei 2026 20:38 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Debu jalanan yang terbang liar menyambut kedatanganku, saat mobil unit RRI yang kutumpangi dari Kota Padang mulai merayap memasuki daerah pelosok di Kabupaten Padang Pariaman. Di balik kaca jendela yang mulai buram oleh tanah, tersaji pemandangan yang benar-benar menguji nurani.

Sebagai jurnalis, naluriku terusik. Ada sunyi yang tidak biasa di sini. Begitu pintu mobil dibuka, hawa panas menyergap dan sepatuku menyentuh permukaan tanah yang tidak lagi ramah. Di sudut nagari yang menjadi lokasi TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman, Nagari Batu Gadang Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, warna hijau yang biasanya menjadi mahkota kebanggaan tak lagi merona.

Bumi yang dijuluki Tanah Piaman ini seolah sirna ditelan rona kecokelatan yang mati suri. Lahan pertanian yang dulunya menjadi tumpuan hidup, kini tinggal hamparan tanah kering kerontang yang pecah seribu. Keretakan tanah itu terlihat begitu dalam dan menyakitkan, seolah-olah alam sendiri sedang berusaha menggali Asta Cita di perut bumi yang paling dalam, sembari meratapi langit yang tak kunjung menumpahkan hujan.

Setiap jengkal langkah yang kuayun, mempertemukan netraku dengan keputusasaan. Tak ada nuansa hijau di pekarangan rumah warga. Pohon-pohon luruh dan tanaman hias di teras hanya menyisakan batang kering yang meranggas, seakan bersujud meminta belas kasih. Di sinilah, di tengah derita sanitasi dan trauma pasca-galodo, aku menyaksikan bagaimana derap langkah tegap prajurit TNI menantang takdir alam. Mereka datang bukan untuk menaklukkan, namun menukar air mata menjadi air nyawa, utamanya bagi warga terdampak bencana yang hampir kehilangan asa.

“Di sini, air lebih mahal dari keringat nak,” bisik seorang ibu paruh baya bernama Nurjani, ditemui RRI pada lokasi sumur bor, Nagari Batu Gadang, Sungai Geringging pada Kamis, 21 Mei 2026.

Wajahnya yang lelah dimakan usia, masih menyisakan gurat-gurat kecemasan bercampur dengan sisa trauma bencana setahun silam. Galodo mungkin telah berlalu, namun luka yang ditinggalkan masih menganga dalam bentuk dahaga yang mencekik.

Kalimat pendeknya terngiang-ngiang di telingaku, memantul diantara retakan tanah yang melebar. Di negeri ini, waktu terasa seolah berhenti. Mewakili ribuan jiwa di Tanah Piaman yang lama bertaruh nyawa hanya demi mendapatkan satu jerigen air.

Di sana, anak-anak kecil juga tidak berkawan tawa. Jemari mungil mereka sibuk bergelut dengan ruam kemerahan yang merajalela di sekujur tubuh akibat ketiadaan air bersih. Inilah duka yang harus segera disalin menjadi cerita baru. Sebuah misi mulia prajurit TNI AD yang menukar air mata menjelma menjadi air nyawa.

Amuk Galodo dan Ironi Dahaga Warga

Pilu di Tanah Piaman terasa berkali lipat lebih sesak jika diri menoleh sedikit saja ke belakang. Belum hilang dari ingatan, di penghujung November 2025, Sumatera Barat luluh lantak dihantam amuk air (galodo) dari langit dan gunung. Hanya berselang beberapa bulan setelah bencana air bah berlalu, warga merintih karena setetes air begitu sulit mereka didapati.

“Dulu kami lari ketakutan karena air bah menghantam rumah. Sekarang kami malah mengejar air yang hilang itu untuk bertahan hidup,” ungkap Upik, warga Nagari Batu Gadang Kuranji Hulu, menyampaikan keluhannya kepada satgas TNI di lokasi TMMD 128.

Di titik nadir inilah, TMMD 128 hadir untuk jawaban yang melampaui lebih dari sekedar proyek fisik. Ini adalah misi pemulihan martabat bangsa, dimana TNI AD hadir menjinakkan air agar tidak lagi menjadi pembawa duka, melainkan kawan yang setia mengalir.

Pelaksanaan TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman menjadi jawaban atas tantangan geografis pada beberapa nagari yang selama ini kesulitan mengakses air bersih.

Pergulatan Loreng Hijau di Kedalaman Tembus Rahim Batu

Matahari siang itu seolah berada tepat di atas kepala. Deru mesin bor TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman tak sedikit pun surut. Aku menyaksikan pemandangan heroik. Prajurit TNI AD dengan seragam basah kuyup oleh peluh, bahu-membahu menaklukkan pipa-pipa besi. Wajah mereka terpercik lumpur, namun sorot matanya tajam, fokus membedah rahim batu yang mengeras akibat kemarau panjang pascagalodo.

Menembus kedalaman puluhan meter bagi prajurit TNI ibarat menjalankan Operasi Mata Air. Tidak ada kata menyerah karena pengeboran berlangsung juga bukan perkara mudah, sebagaimana ditegaskan Dansatgas TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman, Letkol Inf M. Nurman Setiaji kepada RRI, Kamis, 14 Mei 2026.

“Kami melakukan pengeboran di titik-titik krusial dengan target kedalaman mencapai 80 hingga 110 meter. Tantangannya adalah lapisan batuan sedimen keras dan granit yang terbentuk akibat aktivitas tektonik. Kami menggunakan mesin bor hidrolik khusus untuk menembus rahim batu agar bisa menyentuh urat air yang stabil dengan debit air mencapai 2 hingga 3 liter per detik,” jelas Dansatgas.

Masih di lokasi pengeboran sumur, terdengar suara lantang dari salah seorang prajurit Kodim 0308/Pariaman, Serda Jendri.

"Kita tidak boleh berhenti sebelum airnya memancar jernih,” timpal prajurit itu sembari menyeka keringat yang bercucuran di sekujur tubuh.

Kalimat itu, janji suci prajurit kepada rakyatnya. Saat katup pipa dibuka, air bening menyembur keluar dengan derasnya. Suara gemericiknya seketika memecah kesunyian nagari, menggantikan isak tangis yang selama ini menghantui.

Urat Air Memutus Rantai Stunting, Menyemai Emas Hijau (Kelapa)

Keberhasilan mata bor TMMD 128 Piaman menembus perut bumi kini berdampak jauh. Air bersih yang memancar ibarat senjata ampuh yang memangkas ancaman senyap stunting. Dengan prevalensi stunting yang masih bertengger pada angka belasan persen, kehadiran air bersih menjadi garansi kesehatan.

“Sejak sumur kami hancur dihantam galodo, nasib anak-anak seperti berada di ujung tanduk. Hampir setiap hari mengeluh gatal-gatal, terutama anak saya yang masih balita," kenang Aminah, warga Kampung Pinang saat berkomunikasi sosial dengan Satgas TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman di lokasi sumur bor.

Ibu dua anak ini mengaku, dulunya terpaksa menggunakan air keruh sisa luapan sungai untuk berbagai kebutuhan hidup. Inilah yang membuat anaknya sering mengalami diare dan malnutrisi.

Kini, peta takdir itu telah diubah. Rehan, siswa Sekolah Menengah Pertama yang keluarganya tercatat sebagai keluarga penerima manfaat program, kini bisa belajar dan beribadah (wuduk) dengan nyaman tanpa takut gatal-gatal lagi.

“Terima kasih bapak TNI, saya ingin hebat seperti bapak tentara,” ujar Rehan saat memutar kran air bersih pada salah satu rumah ibadah yang menjadi sasaran kegiatanTMMD 128 Kodim 0308/Pariaman.

Data yang dihimpun RRI di lapangan menyebutkan, tahun 2025 penanganan stunting di wilayah Kodim 0308/Pariaman yang mencakup Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman menunjukkan tren berbeda. Kabupaten Padang Pariaman masih berjuang menurunkan angka stunting pada kisaran 26,6%. Sementara Kota Pariaman mencatat penurunan signifikan di bawah rata-rata provinsi.

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis menyatakan, paradigma penanganan stunting harus diubah. Menurutnya, selama ini masyarakat lebih banyak berfokus pada asupan gizi atau intervensi spesifik, namun seringkali melupakan faktor lingkungan yang jauh lebih fatal.

“Penanganan stunting seringkali hanya dikaitkan dengan asupan makanan atau gizi. Padahal, akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak memegang peranan yang sangat krusial. Secara medis, air bersih adalah fondasi dalam intervensi gizi sensitif yang berkontribusi hingga 70% dalam keberhasilan penurunan stunting,” ujar Bupati John dengan tegas.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman menjadikan penurunan stunting sebagai prioritas utama dengan memperkuat aksi konvergensi, melalui TP-PKK dan melakukan skrining TBC serta stunting pada 25 Puskesmas.

Pemko Pariaman juga merinci, tahun 2025 terjadi penurunan kasus secara signifikan dengan angka yang berada di bawah rata-rata Provinsi Sumatera Barat. Tren penurunan ini hasil kerja bersama lintas sektor, termasuk melalui 8 aksi konvergensi stunting. Data yang dihimpun menunjukkan komitmen kuat dari kedua pemerintah daerah, baik kabupaten maupun kota, memaksimalkan pencegahan dan penurunan stunting tahun 2025.

Air yang memancar dari rahim batu Piaman nyatanya tak berhenti pada urusan perut dan kulit semata. Ia adalah energi kinetik bagi ekonomi yang sempat lumpuh.

Di sepanjang jalur pembukaan jalan TMMD 128 Nagari Batu Gadang, air ini mulai meresap ke akar-akar pohon kelapa, menghidupkan kembali emas hijau yang menjadi urat nadi ekonomi warga. Jika air adalah napasnya, jalan yang dibuka TNI adalah pembuluh darah yang memastikan komoditas unggulan ini tak lagi membusuk di perbukitan, melainkan melesat menuju pasar dengan harga yang memartabatkan petani.

Pembukaan jalan sepanjang 2 kilometer di Nagari Batu Gadang adalah jembatan yang mengubah potensi emas hijau dari sekadar tanaman yang tumbuh di hutan menjadi komoditas yang mengalirkan uang dan kesejahteraan ke rumah-rumah warga. TNI tidak hanya membuka akses jalan yang menghubungkan dua nagari, namun juga membangun saluran distribusi yang menopang kesejahteraan warga.

Sebelum adanya pembukaan jalan oleh TNI, banyak area perkebunan emas hijau di Nagari Batu Gadang yang berada di perbukitan atau area pelosok yang sulit dijangkau. Petani dulunya harus memikul hasil panen berkilo-kilo meter melalui jalan setapak yang licin dan terjal. Namun sekarang dengan dibukanya jalan baru, kendaraan pengangkut dapat langsung menuju titik panen. Ini adalah penyambung napas bagi produktivitas petani.

Emas hijau hanya akan menjadi emas jika sampai ke pasar dengan biaya rendah. Jalan yang dibuka dalam program TMMD memangkas biaya operasional transportasi secara signifikan. Keuntungan yang semula habis untuk membayar buruh angkut atau ongkos ojek pangkalan yang mahal, kini bisa masuk ke kantong petani sebagai laba bersih. Tanah yang semula retak dan tidak ramah seringkali merupakan lahan tidur karena akses yang mustahil.


Urat Air Menopang Ketahanan Pangan di Lahan Tidur

Kehadiran para prajurit TNI di Nagari Batu Gadang, Sungai Geringging tidak hanya datang dengan deru mesin pengeruk jalan atau bising cangkul yang membelah bukit. Lebih dari sekadar membangun infrastruktur fisik, ketukan sepatu lars mereka di atas tanah Pariaman dan Padang Pariaman membuka kembali "urat air" kehidupan yang lama tersumbat untuk menopang program ketahanan pangan yang berbasis pada kearifan lokal.

Pembukaan akses jalan baru terbukti menjadi pemicu emosional dan ekonomi yang luar biasa bagi warga setempat. Jalur yang dulunya terisolasi dan hanya dipenuhi ilalang kini bertransformasi menjadi koridor produktif. Langkah demi langkah, masyarakat kembali ke ladang, mengayunkan parang dan membersihkan sisa-sisa semak yang bertahun-tahun mengubur potensi ekonomi mereka.

Ekosistem pertanian baru pun lahir. Di kanan-kiri jalan yang baru dibuka, hamparan pohon kelapa kembali dirawat dan tanah-tanah gembur mulai dipersiapkan untuk menyambut komoditas unggulan, salah satunya jagung.

Pada momentum TMMD 128 inilah, Kodim 0308/Pariaman menyisipkan program non-fisik yang menyentuh langsung hajat hidup para petani yakni penyaluran bantuan bibit jagung di atas lahan seluas satu hektar. Lahan ini bukan sekadar area bercocok tanam biasa, melainkan diproyeksikan sebagai demplot atau laboratorium percontohan hidup agar petani lokal bisa belajar menerapkan sistem pertanian yang jauh lebih efektif dan modern.

Pilihan menjatuhkan sasaran pada komoditas jagung bukanlah tanpa perhitungan yang matang. Jagung menawarkan masa tanam yang relatif singkat dan terukur, sesuatu yang sangat dibutuhkan petani untuk memutar roda ekonomi keluarga secara cepat.

Lebih dari itu, Sumatera Barat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan pakan ternak lokal. Menanam jagung di jalur TMMD berarti memotong rantai pasok yang panjang, langsung menghubungkan keringat petani dengan pasar yang sudah pasti menanti sebagaimana diungkapkan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah pada pembukaan TMMD, Selasa, 21 April 2026.

Melalui sinergi lintas sektoral ini, sebutir bibit jagung yang ditanam hari ini adalah investasi masa depan. Saat daun-daun jagung mulai menguning dan buahnya siap dipanen, output dari lahan satu hektar ini mampu mendongkrak pendapatan domestik keluarga petani.

Ketika dapur warga kembali mengepul dan lumbung-lumbung di tingkat nagari kembali terisi, di situlah esensi pertahanan negara yang sesungguhnya tegak berdiri. TNI tidak hanya sedang membangun jalan, mereka sedang menuntun masyarakat pulang untuk menjemput kedaulatan pangan masyarakat.

Mata Bor TMMD 128 Ukir Prestasi Anak Bangsa

Dahulu, keseharian anak-anak di pelosok nagari adalah tentang ketidaknyamanan yang sunyi. Di dalam ruang kelas, tangan-tangan kecil yang seharusnya lincah menari di atas kertas, justeru sibuk menggaruk kulit yang memerah. Rasa gatal akibat air keruh yang mereka gunakan sehari-hari bukan sekadar gangguan fisik yang mencuri fokus belajar. Bagaimana mungkin seorang anak bisa menghafal rumus atau merangkai puisi jika tubuhnya terus-menerus merintih karena iritasi.

Ketika mata bor TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman menembus kerasnya batuan bumi dan menyemburkan air bening yang melimpah, di situlah kemerdekaan belajar dimulai. Anak-anak belajar kini bisa belajar dengan perasaan nyaman.

Mereka tidak lagi menempuh jarak berkilo - kilometer untuk mendapat satu jeriken air dari sumber yang jauh. Tenaga yang dulu terkuras di jalan, kini disimpan untuk memecahkan soal-soal di buku catatan. Air bersih memberikan rasa nyaman yang bersifat psikologis. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan seragam yang bersih dan tubuh yang segar. Rasa percaya diri tumbuh, mencetak prestasi dengan jiw yang optimis.

“Setiap tetes air yang mengalir dari kran TMMD adalah bahan bakar bagi imajinasi anak-anak. Jika dulu mimpi mereka terbatas pada cara bertahan hidup, kini mereka punya ruang untuk bermimpi menjadi dokter, insinyur, atau pemimpin bangsa,” ungkap Tini, tenaga pendidik pada salah satu Sekolah Dasar di Nagari Batu Gadang, Sungai Geringging.

Dengan tubuh yang sehat, minat belajar yang sempat layu kini kembali mekar. Konsentrasi tidak lagi terpecah antara pelajaran dan rasa tidak nyaman pada kulit. Prestasi pun bukan lagi sesuatu yang mustahil untuk diraih.

Saat Mata Bor Kasad Menembus Asa Generasi Emas

Di bawah komando Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Maruli Simanjuntak, TNI AD tidak hanya hadir dengan senjata, tetapi dengan mata bor. Program TNI AD Manunggal Air menjadi jawaban atas jeritan sunyi warga yang selama puluhan tahun terjebak dalam krisis air bersih. Bagi Jenderal Maruli, air adalah hulu dari segala urusan kesehatan, ekonomi dan masa depan generasi penerus.

Tidak heran jika jenderal bintang empat ini memberikan perhatian yang demikian besar untuk pemenuhan air bersih masyarakat di berbagai pelosok negeri. Hal itu terungkap dalam perbincangannya dengan Reporter RRI Padang (Sri Darni) di Padang Pariaman beberapa waktu lalu.

Bagi anak-anak negeri, musuh terbesar mereka bukanlah soal matematika yang sulit, melainkan penyakit kulit dan gatal-gatal akibat air yang tidak layak pakai. Dengan hadirnya air bersih di sekolah dan rumah, terjadi transformasi besar dalam keseharian anak-anak. Sumur bor TMMD 128 memastikan, satu-satunya yang harus dipikirkan anak-anak adalah buku pelajaran mereka, bukan rasa perih di kulit.

Jenderal Maruli Simanjuntak sangat memahami, untuk mencetak prestasi, seorang anak harus merdeka dari rasa sakit fisik yang sepele namun fatal. Sumur bor ini adalah investasi jangka panjang untuk Generasi Indonesia Emas.

Setiap liter air yang mengalir dari pompa-pompa TNI AD adalah saksi bisu lahirnya calon-calon pemimpin bangsa yang tumbuh tanpa hambatan gatal, tanpa beban memikul air dan tanpa keraguan untuk melangkah maju. Sejatinya prestasi tidak akan pernah tumbuh subur di atas tanah yang kering dan tubuh yang sakit.

Prasasti Bakti di Hati Rakyat

TMMD 128 di Padang Pariaman bukan sekadar tentang laporan administratif. Ini adalah tentang kemanunggalan sejati. Di setiap tetes air yang mengalir, terselip doa dan rasa terima kasih yang mendalam. Kekeringan mungkin sempat menaklukkan lahan, namun ia gagal menaklukkan semangat gotong royong dan kemanunggalan antara TNI dan rakyat.

Piaman tak lagi menangis. Di bawah naungan bakti prajurit, air kehidupan itu kini mengalir abadi. Ketika senja mulai turun, sayup-sayup terdengar deru pipa yang mengalirkan kehidupan. Satgas TMMD 128 Kodim 0308/Pariaman telah berhasil menggali Asta Cita di perut bumi dan rahim batu, memastikan setiap tetes peluh telah berhasil menukar air mata duka menjadi air nyawa bagi masa depan Piaman.

Sebuah prasasti cinta yang dipahat dengan keringat, akan tetap mengalir kenangan dan cerita indah yang pastinya dikenang masyarakat sepanjang abad.

Air bersih di Tanah Piaman tidak turun begitu saja dari langit, tapi ditarik dengan tenaga dan doa dari perut bumi. Wujud nyata perintah KASAD, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang direalisasikan prajurit TNI dengan sepenuh hati. TNI tidak boleh membiarkan rakyatnya dahaga. Sejatinya, lumpur di seragam lorenghijau adalah tanda kehormatan dan senyum warga saat mereguk air bersih adalah prestasi tertinggi untuk bangsa***

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....