Jejak Fajar di Logo Kemerdekaan Indonesia
- 02 Agt 2026 08:48 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Sebuah notifikasi sederhana di grup percakapan menjadi awal perjalanan besar bagi Fajar Novario dan tim Auman Design Bureau. Pada awal Mei 2026, mereka mengetahui adanya sayembara desain logo resmi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibuka oleh Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI).
Tanpa memasang target tinggi, studio kreatif asal Kota Padang itu memutuskan ikut berkompetisi sebagai ajang menguji kemampuan. Siapa sangka, keputusan tersebut justru mengantarkan Fajar bersama timnya menjadi perancang identitas visual resmi peringatan HUT ke-81 RI, mengungguli sekitar 120 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Perjalanan menuju kemenangan tidak berlangsung mulus. Setelah lolos seleksi administrasi, kurasi portofolio dan wawancara, Fajar menjadi satu dari lima finalis yang mengikuti proses inkubasi selama sekitar empat pekan di bawah supervisi ADGI untuk merancang logo dari nol.
Tantangan terberat muncul pada pekan kedua ketika konsep awal mereka mendapat kritik tajam karena dinilai terlalu rumit. “Bukan ditolak mentah-mentah, tapi dapat kritik yang lumayan pedas tuh dari asosiasi, karena terlalu muluk-muluk dan terlalu cocokologi istilahnya kayak gitu,” kenang Fajar, Minggu 2 Agustus 2026.
Alih-alih bertahan dengan konsep lama, Fajar dan tim memilih mengulang seluruh proses kreatif. Mereka mengubah pendekatan riset dengan mencari satu bentuk visual yang mampu merepresentasikan keberagaman Indonesia tanpa harus memuat terlalu banyak simbol dalam satu logo.
Inspirasi kemudian lahir dari pemikiran Presiden pertama RI Soekarno mengenai tiga unsur pembentuk bangsa, yakni kesamaan nasib, kehendak hidup bersatu, dan kecintaan terhadap tanah air. “Nah, tiga ini kita coba direlevansikan dengan gaya desain dan tema yang ada sekarang. Dari instrumen-instrumen tiga itu tadi, mereka itu merumuskan Pancasila,” kata Fajar.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk angka 81 yang menjadi identitas visual HUT ke-81 RI. Angka delapan yang saling bersilangan dimaknai sebagai simbol kolektivitas dan gotong royong, sedangkan angka satu merepresentasikan arah tujuan bersama sebagai bangsa.
Menurut Fajar, setiap elemen visual juga disusun dengan mempertimbangkan aspek teknis agar mudah dikenali masyarakat. “Takutnya kebacanya 87. Jadi aku ambil dua poin jadi counternya. Yang pertama, takutnya kebaca 87. Yang kedua, supaya dia lebih jelas terbaca 81,” paparnya.
Logo tersebut kemudian memunculkan beragam tafsir dari masyarakat. Ada yang melihat bentuk angka delapan menyerupai motif budaya Nusantara, sementara sebagian lain memaknai angka satu sebagai podium pidato.
Bagi Fajar, keberagaman penafsiran justru menjadi kekuatan utama sebuah identitas visual. “Bisa jadi orang Sulawesi bilang itu motif ‘tongkonan’, tetapi di Melayu kita bilangnya itu, di Minangkabau itu kami bilang itu kayak motif itik pulang petang gitu. Dan perbedaan itulah yang akhirnya jadi poin utamanya,” ujarnya.
Usai dinyatakan sebagai pemenang melalui voting publik dengan raihan 30.699 suara atau sekitar 44,73 persen, tantangan baru kembali datang. Fajar bersama tim harus menyusun buku pedoman visual dalam waktu efektif sekitar delapan jam agar dapat dipublikasikan bersamaan dengan pengumuman hasil sayembara.
Kondisi itu membuat panduan awal dinilai terlalu sederhana oleh sebagian publik. “Kita memang bukan disuruh untuk mengerjakan pedomannya terlebih dahulu. Kita harus mengajukan konsep terlebih dahulu. Apabila terpilih oleh masyarakat, baru kita bikin pedomannya. Namun karena voting publiknya singkat dan harus mengumumkan pemenangnya di hari yang sama, jadinya ya kita harus diburu dengan panduan yang sederhana,” tuturnya.
Di balik pencapaian tersebut, Fajar menegaskan kemenangan itu bukan miliknya seorang. Menurutnya, keberhasilan merupakan hasil kerja kolektif seluruh anggota Auman Design Bureau yang sejak awal terlibat dalam setiap proses kreatif.
“Aku tidak sendiri. Ada tim juga, karena kebetulan aku dikasih tanggung jawab atau dipercayakan sama teman-teman itu sebagai project lead. Kalau di studio itu kepala studio, design principal istilahnya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar memenangkan sayembara nasional, keberhasilan ini menjadi bukti bahwa talenta kreatif dari daerah mampu bersaing di tingkat nasional. Fajar berharap pemerintah daerah semakin memberi ruang bagi desainer lokal untuk terlibat dalam berbagai proyek identitas visual di daerahnya masing-masing.
“Jangan sampai kalau misalnya pemerintah A, daerah A ingin bikin logo, harus merekrut yang di Jakarta atau di Bandung. Padahal di daerahnya sendiri kita punya loh, gitu,” katanya menutup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....