Pena di Pusaran Maut: saat Rajawali Udara Membelah Langit Minang yang Berkabut

  • 05 Agt 2026 20:04 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang — Baling-baling Helikopter HS 1310 meraung memecah sunyinya langit Pasaman Barat di penghujung November 2025. Dari balik kaca jendela yang berembun, pandanganku tertuju pada hamparan Nagari Maligi yang terisolasi, terkepung luka pascabencana yang meremukkan Ranah Minang ketika itu.

Hari ke hari, kondisi warga kian memprihatinkan. Terjangan banjir bandang dan tanah longsor tidak hanya merusak pemukiman, namun juga memutus total infrastruktur transportasi jalur darat menuju wilayah terdampak. Jembatan-jembatan penghubung patah, jalan utama tertimbun lumpur pekat hingga menyebabkan ribuan jiwa terperangkap dalam keterisolasian.

Bencana parah di penghujung November 2025 telah meninggalkan luka mendalam dengan total kerusakan dan kerugian menembus Rp33,5 triliun. Angka statistik yang dingin ini menyimpan jerit pilu kemanusiaan. Tercatat Rp15,63 triliun harta benda hancur berkeping dan Rp17,91 triliun potensi penghidupan yang mendadak lenyap ditelan lumpur. Sektor infrastruktur menjadi korban terparah dengan nilai kerugian Rp14,16 triliun, disusul permukiman Rp1,45 triliun, ekonomi Rp2,27 triliun dan sosial Rp602 miliar. Dari 16 daerah yang terdampak, Kabupaten Agam menanggung duka paling kelam dengan kerugian Rp10,49 triliun, disusul Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Solok, Tanah Datar dan Pesisir Selatan.

Peta negeri dari balik jendela kabin. Saat jalur darat lumpuh total diterjang banjir bandang di penghujung November 2025, armada udara TNI menjadi andalan utama misi kemanusiaan. Menembus cuaca ekstrem, kepakan sayap besi menyisir pelosok Ranah Minang yang terkoyak oleh kepungan bencana, menghubungkan kembali asa yang sempat terputus. (Foto: Sri Darni/RRI Padang).

Di tengah krisis bahan pokok yang makin menipis dan akses komunikasi yang lumpuh total, armada udara (helikopter) menjadi satu-satunya tumpuan sekaligus gantungan harapan terakhir untuk menjalankan misi kemanusiaan.

Hari itu, Sabtu, 20 Desember 2025, akulah satu-satunya reporter yang berkesempatan melangkah ke dalam perut besi sang Rajawali, membawa nama RRI Padang sebagai mata, telinga dan penyambung suara di udara. Tidak hanya membawa alat perekam dan catatan, aku juga menaruh separuh hatiku pada setiap terpaan angin helikopter.

Di dalam kabin yang bergemuruh, aku terbang bersama para malaikat pengantar logistik yang ketika itu bertaruh nyawa menembus kabut tebal demi menyalurkan secercah harapan bagi warga terdampak bencana.

Dari ketinggian, Ranah Minang kulihat tak lagi sama. Lekuk perbukitan yang biasanya hijau asri kini terkoyak oleh garisan cokelat tanah longsor dan kepungan banjir yang menyisakan duka mendalam. Desa-desa di bawahnya tampak bagai pulau-pulau kecil yang meratap di tengah lautan material bencana.

Pena yang Gemetar di Pintu Harapan

Misi udara ini bukanlah hal yang mudah, sebagaimana diungkapkan Komandan Lanud Sutan Sjahrir, Kolonel Nav Wahyu Bintoro dalam wawancara eksklusifnya dengan RRI Padang. Dengan tegas ia menyatakan, betapa krusialnya kepakan sayap besi di tengah kepungan isolasi geografis.

"Misi kemanusiaan ini adalah tentang waktu dan jiwa manusia. Ketika jalur darat lumpuh total akibat longsor dan banjir, langit satu-satunya pintu harapan yang tersisa untuk menjangkau saudara-saudara kita di Maligi," tegas Kolonel Nav Wahyu Bintoro dengan nada penuh penekanan.

Komandan Lanud Sutan Sjahrir (Kol. Nav. Wahyu Bintoro) bersama Reporter RRI Padang (Sri Darni) usai wawancara eksklusif di Mako Lanud Sutan Sjahrir pada Sabtu, 20 Desember 2025. Danlanud menyampaikan apresiasi atas kinerja dan sinergi RRI Padang dalam mendukung pemberitaan misi-misi kemanusiaan sebagai bukti negara hadir untuk rakyatnya. (Foto: RRI Padang).

Bagi prajurit TNI lanjutnya, tidak ada kata menyerah meski dalam situasi terparah sekalipun. Logistik harus mendarat, karena di setiap kotak bantuan, ada napas kehidupan warga yang bergantung pada keberanian para penerbang.

Menjadi satu-satunya jurnalis di penerbangan kemanusiaan ini ibarat mencetus kesaksian pena di pusaran maut. Terjadi pergulatan batin yang begitu hebat. Ada beban moral yang menancap tajam karena jika perjalanan ini tak kurekam dengan ketajaman nurani, siapa lagi yang akan mengabarkan kesunyian perjuangan di bawah sana? Di tengah guncangan turbulensi dan kepungan cuaca buruk, jemariku gemetar menggenggam pena, mencatat detik demi detik perjalanan yang begitu sentimental.

Napas Kemanusiaan di Kabin HS 1310

Di dalam kabin HS 1310, suasana terasa begitu intens. Di balik kendali burung besi tersebut, ada ketenangan luar biasa dari sang pilot, Kapten Laut (P) Rayendra Jaka Loekmana yang kini menjabat sebagai Danlanudal Matak. Dengan cengkeraman jemarinya yang kokoh pada kemudi, matanya menatap tajam membelah dinding tebal kabut Minangkabau.

Bagi pilot kelahiran Jember, 14 April 1989, terbang di ketinggian langit Ranah Minang yang berduka bukan sekadar menjalankan perintah operasi militer, melainkan panggilan nurani seorang prajurit. Di tengah jarak pandang yang serba terbatas dan turbulensi angin pegunungan yang kerap menghempas helikopter, ia harus membuat keputusan hitungan detik demi keselamatan kru, logistik dan jurnalis yang dibawanya.

Kisah humanis dan hangatnya persaudaraan melintasi batas profesi. Reporter RRI Padang bersinergi dengan pilot serta kru armada udara TNI dalam misi dropping logistik menuju Maligi, Pasaman Barat, menyatu tanpa sekat demi menyambung harapan warga terdampak bencana. (Foto: RRI Padang).

"Terbang menembus kabut tebal dalam kondisi cuaca ekstrem seperti ini memacu adrenaline, tapi saat saya membayangkan wajah anak-anak dan orang tua di Maligi yang kelaparan menantikan bantuan, rasa cemas itu sirna. Setiap kali helikopter terguncang turbulensi, saya berdoa dan berbisik dalam hati, bertahanlah burung besiku, kita harus sampai. Harapan mereka ada di tangan kita hari ini,” kenang Kapten Rayendra sembari mengingat kembali detik-detik menegangkan di udara.

Deru mesin yang memekakkan telinga berpadu dengan ketegangan para kru yang fokus bekerja dengan presisi tinggi. Tak banyak kata terucap, namun tatapan mata saling menguatkan. Di belakangku, tumpukan kardus berisi mie instan, obat-obatan,dan selimut berdiri kokoh. Sebagai satu-satunya orang luar di antara seragam militer, aku merasakan hangatnya persaudaraan yang melintasi batas profesi. Tanpa harus melihat sekat perbedaan, kami menyatu dalam satu tekad, apa pun hambatannya, bantuan harus segera mendarat. Di bawah sana, warga telah berhari-hari menunggu datangnya bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Ketika Negara Mendarat di Tanah yang Terisolasi

Saat baling-baling helikopter menciptakan pusaran angin gencar dan rodanya menyentuh daratan Maligi yang basah, pemandangan di luar jendela membuat dadaku sesak oleh haru. Puluhan warga bertelanjang kaki menembus lumpur, menatap ke arah helikopter dengan binar mata yang tak lagi padam. Anak-anak berlarian kecil memegang kain sarung, sementara para tetua menangkupkan tangan penuh rasa syukur.

Ketika pintu helikopter terbuka dan aroma tanah basah menyeruak masuk, aku menyaksikan sendiri bagaimana uluran tangan para pahlawan dirgantara, mulai dari teknisi hingga sang pilot Kapten Rayendra disambut jemari-jemari gemetar warga yang kelelahan.

Diantara keriuhan itu, warga Nagari Maligi bernama Buyung (58) menangkupkan kedua tangannya dengan mata berkaca-kaca, menahan haru saat menerima sebungkus logistik.

"Beberapa hari ini kami terputus dari dunia luar, tidak tahu harus makan apa lagi karena jalan darat hancur diterjang banjir. Tapi hari ini kami sadar, kami tidak dilupakan.]Terima kasih kepada negara yang selalu hadir untuk kami, bahkan hingga ke pelosok yang terkepung bencana seperti ini. Melalui tangan-tangan pejuang dirgantara dan helikopter ini, negara benar-benar memberikan yang terbaik untuk menyambung hidup masyarakatnya,” ujar Buyung.

Di momen itu, laporan utamaku serasa melebur menjadi sebuah kesaksian jiwa.

Wawancara eksklusif Reporter RRI Padang dengan pilot armada udara TNI (HS 1310) sesaat sebelum bergerak melakukan misi kemanusiaan menuju daerah terdampak bencana di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat. (Foto: RRI Padang).

Menyelami langit Minangkabau yang sedang berduka bersama helikopter HS 1310 mengajarkanku arti terdalam dari sebuah pengabdian jurnalistik. Menjadi jurnalis tunggal dalam misi ini bukan tentang kebanggaan mendapatkan cerita eksklusif, melainkan tentang amanah besar untuk menjadi saksi atas daya tahan manusia dan kepedulian yang tak bertepi.

Melalui frekuensi RRI Padang yang membawa narasi ini ke ruang dengar masyarakat luas, aku menyuarakan setiap deru mesin, kepakan awan, dan senyum haru warga Maligi. Ini tentang sebuah pesan: sejatinya di tengah gulita bencana, masyarakat di Ranah Minang tak pernah berjalan sendirian.

Meretas Keterisolasian Lewat Udara

Ketika bumi Ranah Minang hancur terbelah, jalur darat lumpuh total diterjang banjir bandang dan tanah longsor, armada udara menunjukkan taji dan kedigdayaannya. Dalam suasana ketidakpastian yang mencekam, bentangan langit bertransformasi menjadi jalan tol kemanusiaan. Tanpa menunggu rampungnya pembangunan beton dan aspal, para penerbang andalan negara bertaruh nyawa menembus cuaca ekstrem. Dari pintu kargo yang terbuka, kantong logistik, obat-obatan, dan bahan pangan diturunkan di ceruk-ceruk sempit lereng bukit.

Perjuangan armada udara TNI (HS 1310) mendistribusikan logistik di ceruk-ceruk sempit lereng bukit, sekaligus menjadi jalan tol kemanusiaan untuk sesama yang membutuhkan pertolongan pasca bencana. (Foto: RRI Padang).

Di bumi yang retak dalam kepungan duka, bentangan langit menjadi saksi, tak ada satu pun nyawa yang dibiarkan berjuang sendirian. Sejatinya, kepakan sayap besi di udara bukan sekadar gema deru mesin, melainkan bukti sah negara hadir memeluk rakyatnya***

“Penerbangan kemanusiaan bersama HS 1310 menuju Maligi adalah salah satu epilog paling berkesan dalam jejak langkah saya sebagai jurnalis di RRI Padang. Menantang badai dan cuaca ekstrem bersama ketangguhan pilot serta kru udara demi dropping logistik memberi pelajaran mendalam tentang arti perjuangan yang sesungguhnya.

Di atas ketinggian dan di tengah kepungan bencana, saya belajar keberanian bukan sekadar melintasi bahaya, melainkan tentang bagaimana kebersamaan dan kepedulian mampu menyampaikan harapan ke titik paling terisolasi” (Maligi, 20 Desember 2026).

Sinergi tanpa batas. Kenangan manis di balik kisah -kisah humanis yang memampang perjuangan anak bangsa dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....