Ketahanan Keluarga Minangkabau: Kearifan Lokal yang Menjawab Tantangan Pangan

  • 25 Apr 2026 10:25 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Ketahanan keluarga dalam masyarakat Minangkabau menjadi salah satu perhatian di tengah meningkatnya isu krisis pangan global. Dr. Wirdanengsih, penulis buku keluarga sekaligus Ketua Pusat Kearifan Lokal Sumatera Barat Universitas Negeri Padang, menyebut, konsep ini telah lama hidup dalam tradisi masyarakat Minang.

Menurutnya, ketahanan pangan dalam keluarga Minangkabau tidak hanya berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut prinsip hidup yang berkelanjutan. “Ketahanan pangan dalam keluarga Minangkabau itu bukan hanya soal makan hari ini, tetapi bagaimana keluarga mampu mandiri, menyimpan untuk masa depan, dan berbagi dengan sesama,” ujar Wirdanengsih dalam suatu perbincangan di Pro 4 RRI Padang.

Ia menjelaskan, keluarga Minangkabau merupakan keluarga luas yang hidup dalam sistem komunal di rumah gadang. Nilai kebersamaan, tolong-menolong, dan solidaritas menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan keluarga.

Dalam praktiknya, terdapat tiga prinsip utama yang dijalankan, yakni kemandirian, kemampuan menabung, dan kepedulian sosial. Ketiga prinsip ini membentuk pola hidup yang tidak hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan saat ini, tetapi juga keberlanjutan di masa depan.

Kemandirian diwujudkan melalui pemanfaatan lingkungan sekitar rumah sebagai sumber pangan. “Prinsipnya adalah memanfaatkan apa yang ada di sekitar rumah, sehingga ketergantungan pada dunia luar bisa diminimalisir,” ujar Wirdanengsih.

Masyarakat Minangkabau umumnya memiliki “parak” atau kebun yang ditanami sayur, rempah, hingga tanaman obat. Selain itu, mereka juga memelihara ikan, ayam, atau ternak lain serta mengelola sawah untuk memastikan kebutuhan pokok terpenuhi.

Dalam hal pengolahan makanan, masyarakat Minangkabau dikenal adaptif terhadap sumber daya alam yang tersedia. Beragam olahan seperti randang pakis, randang jengkol, hingga berbagai makanan berbahan lokal menunjukkan kreativitas dalam membangun kemandirian pangan.

Tidak hanya itu, sistem penyimpanan melalui rangkiang menjadi bukti adanya perencanaan jangka panjang dalam ketahanan pangan. “Keluarga harus mengajarkan generasi muda untuk mengolah dan memproduksi makanan sendiri, agar ketahanan pangan tidak hilang di masa depan,” kata Wirdanengsih.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....