Nurul Batik, Bertahan dari Warisan Keluarga hingga Sukses Menembus Pasar Digital
- 19 Jul 2026 15:23 WIB
- Padang
Poin Utama
- Nurul Batik adalah UMKM batik yang didirikan sebagai usaha keluarga dan berhasil bertahan konsisten di Kota Padang menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan perubahan tren belanja digital.
- Usaha ini berlokasi di Jalan Ampang Timur Nomor 63, Padang dan dimiliki oleh Nurul Ilmiyah yang menamakan bisnis dengan namanya sendiri.
- Nama 'Nurul Batik' merupakan pemberian dari orang tua pemilik sebagai bentuk doa dan harapan agar usaha keluarga dapat terus berkembang dan maju.
RRI.CO.ID, Padang - Berawal dari usaha keluarga yang dirintis di Pulau Jawa, Nurul Batik kini sukses menjadi salah satu UMKM yang tetap bertahan di Kota Padang. Bisnis ini mampu konsisten berdiri di tengah berbagai tantangan, mulai dari krisis ekonomi hingga perubahan tren belanja masyarakat ke platform digital.
Berlokasi di Jalan Ampang Timur Nomor 63, Padang, Nurul Batik merupakan usaha yang dimiliki oleh Nurul Ilmiyah. Meski menggunakan nama sang pemilik, Nurul menjelaskan bahwa nama tersebut bukanlah bentuk pencitraan pribadi, melainkan pemberian dari orang tuanya yang sejak awal menamai usaha keluarga dengan nama anak sebagai doa dan harapan agar usaha terus berkembang.
"Usaha ini adalah warisan dari orang tua. Dulu orang tua memberi nama usaha menggunakan nama anak supaya membawa berkah dan menjadi motivasi," ujar Nurul saat menjadi narasumber Pojok UMKM Pro 4 RRI Padang.
| Baca juga: Ornamen Tradisional dan Branding UMKM |
Ia menceritakan, usaha batik keluarganya telah dirintis jauh sebelum hadir di Sumatera Barat. Sang ayah yang berasal dari Minangkabau merantau ke Pulau Jawa sejak lulus SMP dan menggeluti berbagai pekerjaan sebelum akhirnya memilih bisnis batik sebagai mata pencaharian utama.
Kesempatan membuka usaha di Padang muncul saat pemerintah melakukan pelebaran Jalan Ampang yang kemudian menjadi salah satu jalur evakuasi utama. Melihat potensi kawasan tersebut, keluarga Nurul mendirikan toko batik yang hingga kini masih beroperasi.
"Di Padang kami mulai sejak tahun 2011. Saat itu saya masih kuliah semester dua," kata Nurul.
Berbagai tantangan berhasil dilalui hingga akhirnya pandemi COVID-19 menjadi ujian terberat. Selama masa pembatasan aktivitas masyarakat, penjualan Nurul Batik sempat mencapai titik nol.
"Pandemi menjadi masa paling berat. Penjualan benar-benar tidak ada sampai aktivitas masyarakat kembali normal. Itupun setelah pandemi berakhir, pasar sudah berubah ke online," jelasnya.
Menurut Nurul, persaingan di pasar digital menjadi tantangan baru bagi para pelaku UMKM. Selain harus beradaptasi dengan pemasaran daring, mereka juga dihadapkan pada persaingan harga yang sangat ketat.
Meski demikian, Nurul mengaku mulai menemukan titik terang setelah mengikuti berbagai pelatihan yang difasilitasi Dinas Koperasi Kota Padang. Salah satunya melalui program Pluzi Academy yang membekali pelaku UMKM dengan kemampuan digital marketing.
Kini, setelah sekitar 15 tahun hadir di Kota Padang, Nurul Batik terus berupaya mempertahankan eksistensinya dengan memadukan penjualan offline dan online. Bagi Nurul, perjalanan panjang usaha keluarganya menjadi pelajaran bahwa ketekunan, kemauan untuk beradaptasi, serta dukungan berbagai pihak menjadi kunci agar UMKM mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....