Kipang H. Anas Bertahan Hampir 58 Tahun, Warisan Kuliner Minang Tetap Dijaga

  • 19 Jun 2026 20:39 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Usaha kuliner tradisional Kipang H. Anas tetap bertahan hingga sekarang meski telah melewati berbagai tantangan zaman. Usaha keluarga tersebut sudah berjalan sejak 1968 dan kini memasuki usia hampir 58 tahun.

Pemilik usaha, Nasrul Anas, mengatakan, usaha kipang itu diwariskan langsung dari orang tuanya. Ia mulai terlibat mengelola usaha sejak usia 17 tahun saat masih duduk di bangku kuliah.

“Dari SMA sampai kuliah kami sudah diajari membuat kipang oleh orang tua,” ujar Nasrul Kini, usaha tersebut dikelola bersama istrinya, Muziarni, yang lebih banyak menangani bagian toko dan pelayanan pelanggan.

Sementara itu, Nasrul masih aktif terlibat dalam proses produksi di dapur. Menurutnya, mempertahankan cita rasa tradisional menjadi salah satu komitmen utama keluarga dalam menjaga usaha warisan tersebut.

Awalnya, Kipang H. Anas hanya memproduksi satu varian, yakni kipang kacang. Namun, seiring perkembangan usaha dan perubahan selera pasar, kini tersedia tiga varian rasa yaitu kipang kacang, kipang hitam, dan kipang emping ketan.

Nasrul menjelaskan seluruh varian tetap menggunakan campuran kacang agar rasa lebih gurih. Menurutnya, ciri khas tersebut menjadi pembeda dibanding kipang lain yang hanya menggunakan bahan dasar ketan hitam atau ketan putih.

Meski bertahan puluhan tahun, usaha ini sempat mengalami penurunan penjualan. Nasrul mengaku kondisi tersebut mulai terasa sejak awal tahun 2000-an setelah muncul anggapan kacang dapat memicu berbagai penyakit seperti kolesterol dan jantung.

“Penjualan kipang kacang sangat berpengaruh waktu itu,” katanya. Kondisi tersebut membuat keluarga mulai berinovasi menghadirkan varian baru agar usaha tetap berjalan.

Saat ini, pemasaran tidak hanya dilakukan secara manual melalui toko. Keluarga juga mulai memanfaatkan media sosial seperti Instagram untuk menjangkau pelanggan lebih luas.

Sebagai makanan tradisional Minang, kipang dinilai memiliki pasar tersendiri. Namun, Nasrul mengakui minat generasi muda terhadap makanan tradisional mulai berkurang karena lebih tertarik pada makanan kekinian.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....