BPS: Kemiskinan Sumbar Turun Tipis, Ketimpangan Justru Meningkat
- 11 Agt 2026 04:14 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat, pada Maret 2026 garis kemiskinan di perkotaan dan perdesaan Sumbar mengalami kenaikan dibandingkan September 2025, Senin, 10 Agustus 2026. Pengeluaran makanan mendominasi hingga 76,35 persen, dengan beras dan rokok kretek filter sebagai penyumbang terbesar di kota maupun desa.
BPS Sumbar mencatat, garis kemiskinan di Perkotaan dan Perdesaan pada Maret 2026 sebesar Rp 808.511 atau naik 4,12 persen dibandingkan September 2025. Selama periode September 2025 hingga Maret 2026, tercatat jumlah penduduk miskin di Sumbar sebesar 311,14 ribu orang atau turun sebesar 1,16 ribu orang, sementara tingkat kemiskinan pada periode yang sama pun juga menurun mencapai 0,04 persen dari 5,31 persen menjadi 5,27 persen.
Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin mengatakan, porsi terbesar pengeluaran masyarakat miskin masih dihabiskan untuk perut. "Sebanyak 76,35 persen garis kemiskinan masih didominasi oleh kebutuhan makanan, sedangkan sisanya 23,65 persen merupakan kebutuhan nonmakanan," ujarnya.
Hasan menjelaskan, komoditas nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap garis kemiskinan di Kota dan Desa pada Maret 2026 yakni, perumahan dan bensin. “Pengaruh komoditas perumahan dan bensin terhadap garis kemiskinan di perkotaan sebesar 7,04 persen dan 3,39 persen. Sementara di perdesaan, perumahan dan bensin memilki pengaruh sebesar 6,35 persen dan 2,90 persen,” katanya.
jika dirinci menurut wilayah, tercatat jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 3,50 ribu orang, dari 115,18 ribu orang pada September 2025 menjadi 118,68 ribu orang pada Maret 2026 dengan persentase penduduk miskin sebesar 3,82 persen. “Kami juga mencatat, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin di perdesaan turun sebanyak 4,66 ribu orang, yakni dari 197,12 ribu orang pada September 2025 menjadi 192,46 ribu orang pada Maret 2026 dengan persentase penduduk miskin sebesar 6,88 persen,” ujarnya.
Kepala BPS Sumbar, Hasan menambahkan, terjadi peningkatan pada Indeks Kedalaman Kemiskinan di perkotaan pada Maret 2026, mengindikasikan jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin melebar di perkotaan, namun justru menyempit di perdesaan. “Sementara, berdasarkan Indeks Keparahan Kemiskinan pada periode yang sama, tercatat wilayah perkotaan juga mengalami peningkatan dan penurunan terjadi di perdesaan,” katanya.
Sementara itu, Gini Ratio Sumbar pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,285 poin atau naik 0,005 poin dari 0,280 pada September 2025. Secara regional, ketimpangan di perkotaan lebih tinggi, dengan Gini Ratio 0,304, sementara di perdesaan hanya 0,231.
Hasan menegaskan, meski garis kemiskinan di Sumbar berhasil diturunkan, namun jurang kesejahteraan antara kelompok pengeluaran atas dan bawah justru melebar. Pola ini mengindikasikan bahwa perbaikan ekonomi yang terjadi belum dinikmati secara merata, kelompok berpendapatan tinggi menikmati pertumbuhan lebih besar, sementara kelas menengah bawah hanya bergerak tipis di atas garis kemiskinan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....