TPID Padang Perkuat Sinergi Kendalikan Inflasi Jelang Nataru
- 05 Des 2025 13:59 WIB
- Padang
Menjelang Natal dan Tahun Baru 2025, Kota Padang menghadapi tekanan inflasi akibat gangguan pasokan imbas bencana banjir bandang dan longsor. Distribusi sentra hortikultura yang terdampak membuat stabilisasi harga menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.
Merespons situasi tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Padang menggelar High Level Meeting (HLM), Rabu (3/12/2025). Pertemuan ini menjadi wadah koordinasi lintas lembaga dalam memperkuat sinergi pengendalian inflasi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Barat (Sumbar), Abdul Majid Ikram mengatakan, inflasi Kota Padang per November 2025 tercatat 3,38% (ytd), berada di batas atas sasaran. Menurutnya, kondisi tersebut perlu ditangani melalui penguatan pasokan pangan, terutama hortikultura.
"Banjir bandang dan longsor telah menyebabkan kerusakan lahan dan terganggunya distribusi sehingga harga cabai merah dan bawang merah meningkat cukup signifikan di Kota Padang. Namun, sejalan dengan pemulihan jalur distribusi yang terus dilakukan, harga berbagai komoditas berangsur turun," ucapnya.
Selanjutnya, BMKG memperkirakan kondisi cuaca ke depan cenderung lebih kondusif. Kondisi ini dapat mendukung pemulihan pasokan komoditas hortikultura. Selain itu, Bulog dan Dinas Pangan Provinsi Sumbar mengungkapkan, stok beras dan komoditas pangan lainnya dalam kondisi mencukupi.
Bantuan pangan juga terus mengalir ke masyarakat dengan proses distribusi yang terus diakselerasi. Bulog juga menegaskan, pasokan tambahan telah disiapkan guna mengantisipasi potensi lonjakan permintaan. Sementara itu, Pertamina juga menyatakan, stok BBM dan LPG cukup aman, serta mengutamakan penyaluran LPG ke daerah-daerah yang terdampak bencana.
TPID menegaskan komitmen menjaga inflasi tetap terkendali melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, opsi pasokan antarprovinsi, dan intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM). Dengan sinergi seluruh pihak, inflasi akhir tahun ditargetkan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5% ±1%.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....