Geliat Budaya Literasi Buku dan Adat di Bawah Jembatan Pantai Purus Padang

  • 12 Jul 2026 13:15 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Menanggapi fakta bahwa pemahaman remaja terhadap budaya daerah hanya berkisar 35 persen, TBM ini fokus mengajarkan sastra lisan, petuih adat, dan seni tari tradisional tanpa biaya.
  • Selain membaca, para pemuda dibekali pelatihan praktis seperti produksi sabun mandi, sablon baju, hingga keahlian mendesain di laboratorium komputer sebagai modal kemandirian ekonomi.
  • Menghadapi tantangan tingginya angka anak putus sekolah dasar di kawasan pantai yang masih mengeja, pihak TBM bersama guru sukarelawan rutin mengajarkan calistung lewat metode membaca nyaring.

RRI.CO.ID, Padang - Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Suka Maju Sejahtera yang berlokasi di dekat Danau Cimpago kini terus berkomitmen menghidupkan budaya literasi bagi generasi muda. Pengelola tempat tersebut membagikan kisah perjuangannya dalam mengasuh ruang baca saat mengudara dalam program Obrolan Komunitas pada Sabtu, 11 Juli 2026 di RRI Pro 1 Padang.

Gedung perpustakaan yang berdiri tepat di bawah jembatan Pantai Purus ini menyediakan sekitar 5000 koleksi judul buku bacaan. Masyarakat setempat bisa berkunjung ke lokasi tersebut setiap hari Senin sampai Sabtu dari pagi hingga sore secara gratis.

Yudi Rizki Pratama selaku pengelola generasi kedua mengaku baru aktif mengurus taman bacaan sejak tahun 2023 lalu. Lembaga ini sengaja digabungkan dengan pusat kegiatan belajar sekolah paket untuk merangkul para anak-anak jalanan di sekitar pantai.

Fokus utama dari aktivitas taman bacaan ini justru lebih menonjolkan aspek pengenalan adat serta kelestarian budaya tradisional Minangkabau. Langkah ini diambil karena ada kekhawatiran mengenai minimnya pemahaman para remaja masa kini terhadap nilai luhur warisan leluhur.

Survei internal pengelola menunjukkan tingkat pemahaman kelompok remaja terhadap kebudayaan daerah saat ini hanya menyentuh angka 35 persen. Anak-anak pesisir pantai kini mulai diajarkan sastra lisan seperti petuah adat hingga gerakan seni tari tradisional secara cuma-cuma.

Sanggar seni bentukan taman bacaan tersebut kini sudah berhasil merangkul sebanyak 25 orang anggota aktif dari warga lokal. Mereka sering diundang mengisi acara pernikahan hingga festival pariwisata resmi guna melatih kepercayaan diri di depan khalayak umum.

Aktivitas membaca di perpustakaan pinggir pantai ini juga dikembangkan melalui program pelatihan inovasi serta keterampilan wirausaha secara praktis. Para remaja diajarkan cara memproduksi sabun mandi serta sablon baju sebagai modal berharga untuk mencari penghasilan sendiri nantinya.

Fasilitas laboratorium komputer yang tersedia di dalam ruang belajar juga dimanfaatkan untuk melatih keahlian mendesain bagi para pemuda. Rangkaian kegiatan produktif tersebut sengaja dirancang demi membentengi mental anak disabilitas dari pengaruh buruk lingkungan jalanan kawasan wisata.

Tantangan paling berat yang dihadapi pengelola adalah masih banyaknya kasus anak putus sekolah semenjak tingkat sekolah dasar setempat. Kondisi sosial ekonomi keluarga yang rendah berakibat pada kemampuan membaca para anak jalanan yang masih mengeja serta terbata-bata.

Pihak pengelola bersama guru sukarelawan terus meluangkan waktu berharga untuk mengajarkan calistung lewat metode membaca nyaring setiap minggu. Masyarakat luas yang berniat menyumbangkan buku bacaan bekas bermuatan konten positif bisa langsung menyerahkan dokumen ke kantor administrasi.

Jumlah kunjungan ke taman bacaan ini tergolong stabil berkisar antara angka 200 hingga 300 orang setiap bulan berjalan. Generasi muda diharapkan tidak hanya ketergantungan gawai pintar melainkan mau membaca buku demi menyongsong Indonesia Emas tahun 2045.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....