Alasan Masih Banyak Warga Bertahan di Lereng Gunung Api
- 14 Jul 2026 07:46 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung berapi aktif terbanyak di dunia. Meski ancaman erupsi selalu membayangi, jutaan warga hingga kini masih memilih tinggal di kawasan lereng gunung.
Fenomena tersebut bukan semata-mata karena mengabaikan risiko, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, ekonomi, budaya, hingga keterikatan emosional dengan kampung halaman.
Bagi sebagian masyarakat, lereng gunung berapi menawarkan sumber penghidupan yang sulit ditemukan di daerah lain. Abu vulkanik yang mengendap selama bertahun-tahun menjadikan tanah sangat subur untuk pertanian. Berbagai komoditas seperti sayuran, kopi, buah-buahan, hingga tanaman hortikultura dapat tumbuh dengan produktivitas tinggi. Selain itu, sebagian warga juga memperoleh penghasilan dari sektor pariwisata, penambangan pasir, maupun aktivitas ekonomi lain yang berkembang di sekitar kawasan gunung.
Faktor budaya juga menjadi alasan kuat masyarakat enggan meninggalkan tempat tinggalnya. Banyak keluarga telah menetap secara turun-temurun di wilayah tersebut selama puluhan bahkan ratusan tahun. Ikatan dengan tanah leluhur, adat istiadat, makam keluarga, hingga kehidupan sosial yang telah terbentuk membuat relokasi bukan keputusan yang mudah. Penelitian mengenai masyarakat di kawasan rawan Gunung Merapi menunjukkan bahwa keterikatan terhadap lingkungan sosial menjadi salah satu faktor dominan yang memengaruhi keputusan untuk tetap tinggal.
Di sisi lain, persoalan ekonomi juga menjadi tantangan besar. Tidak semua warga memiliki kemampuan untuk membeli lahan atau rumah di tempat yang lebih aman. Proses relokasi sering kali membutuhkan biaya besar serta penyesuaian terhadap pekerjaan dan lingkungan baru. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat memilih bertahan sambil berharap aktivitas vulkanik tetap terkendali dan sistem peringatan dini dapat memberikan waktu yang cukup apabila terjadi peningkatan aktivitas gunung.
Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus mengingatkan bahwa tinggal di sekitar gunung berapi harus dibarengi dengan kesiapsiagaan. Berbagai langkah mitigasi dilakukan, mulai dari pemetaan kawasan rawan bencana, pemantauan aktivitas gunung, pembangunan jalur evakuasi, hingga penyusunan rencana relokasi bagi masyarakat yang berada di zona berbahaya. Upaya tersebut bertujuan meminimalkan korban jiwa apabila terjadi erupsi maupun bencana susulan seperti banjir lahar hujan.
Pengalaman sejumlah daerah menunjukkan bahwa relokasi menjadi pilihan ketika risiko sudah tidak dapat ditoleransi. Namun, pelaksanaannya memerlukan pendekatan yang tidak hanya memperhatikan aspek keselamatan, tetapi juga keberlanjutan mata pencaharian, akses pendidikan, fasilitas kesehatan, serta kehidupan sosial masyarakat. Tanpa jaminan tersebut, proses pemindahan penduduk sering menghadapi berbagai kendala dan penolakan.
Pada akhirnya, keberadaan permukiman di dekat gunung berapi aktif merupakan gambaran kompleks mengenai hubungan manusia dengan alam. Kesuburan tanah dan peluang ekonomi memang menjadi daya tarik, tetapi ancaman erupsi tetap tidak bisa diabaikan. Karena itu, keseimbangan antara pembangunan, mitigasi bencana, edukasi masyarakat, serta kepatuhan terhadap rekomendasi otoritas kebencanaan menjadi kunci agar masyarakat dapat hidup lebih aman di wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....