"Baralek: Tradisi vs Resepsi"

  • 25 Jun 2026 21:16 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Tradisi Baralek (pesta pernikahan) di rumah atau di gedung memiliki pertimbangan tersendiri. Pilihan ini bergantung pada anggaran, jumlah tamu, dan konsep adat yang diinginkan. Hal itu terangkum dalam Program Ngobrol Asik Ala Urang Awak atau MAOTA RRI Padang yang mengangkat tema "Baralek: Tradisi vs Resepsi", dengan menghadirkan Ketua LKAAM Sumatera Barat (Sumbar), Fauzi Bahar Dt. Nan Sati dan Founder Info Minang & Minang Organizer, Renaldo. Dialog yang dipandu Rini Kamal dan Yudi Maswar itu membahas fenomena pergeseran pelaksanaan pesta pernikahan masyarakat Minangkabau dari rumah gadang atau rumah keluarga menuju gedung pertemuan.

Dalam diskusi tersebut, Renaldo menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar pasangan dan keluarga lebih memilih menggelar resepsi di gedung karena dinilai lebih praktis dan efisien. Menurutnya, faktor waktu, tenaga, serta biaya menjadi pertimbangan utama masyarakat modern dalam menentukan lokasi pesta pernikahan.

"Untuk saat ini memang kebanyakan yang memilih resepsi di gedung. Karena lebih fleksibel waktunya, menghemat tenaga dan biaya. Mereka juga tidak ingin merepotkan keluarga besar," ujar Renaldo.

Ia menambahkan, penyelenggaraan pesta di rumah membutuhkan keterlibatan keluarga dari awal hingga akhir kegiatan. Mulai dari persiapan lokasi, kebersihan, hingga pelaksanaan acara yang menguras energi. Karena itu, banyak keluarga kini memilih gedung agar setelah acara selesai mereka dapat langsung beristirahat tanpa dibebani pekerjaan tambahan.

Menanggapi hal tersebut, Fauzi Bahar menilai perubahan cara pelaksanaan baralek merupakan sesuatu yang wajar mengikuti perkembangan zaman. Ia mengibaratkan perubahan tersebut seperti sarana transportasi yang terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

"Kalau saya tanya dulu Rasulullah ke Mekah naik unta, apa sekarang kita naik unta juga? Jadi memang ada plus minusnya. Perubahan itu sesuatu yang alami sesuai perkembangan zaman," kata Fauzi Bahar.

Meski demikian, ia mengakui bahwa suasana kebersamaan dan semarak baralek di kampung terasa berbeda ketika pesta digelar di gedung. Namun dari sisi efektivitas, Fauzi menilai resepsi di gedung lebih menguntungkan karena tidak menimbulkan kelelahan berlebih bagi keluarga, mempelai maupun para kerabat yang terlibat dalam penyelenggaraan acara.

"Kalau saya katakan, hemat di gedung. Sudah baralek kok letihnya minta ampun kalau di rumah. Yang praktis agar tidak saling menyalahkan dan tidak terlalu banyak pekerjaan, bagus di gedung. Kalau dilihat dari efektivitasnya, efektif beralih di gedung," tegas Ketua LKAAM Sumbar tersebut.

Dialog MAOTA itu menyimpulkan bahwa baik tradisi baralek di rumah maupun resepsi di gedung memiliki kelebihan masing-masing. Namun di tengah perubahan gaya hidup masyarakat, penyelenggaraan pesta di gedung semakin menjadi pilihan karena lebih efisien, sementara nilai-nilai adat dan makna kebersamaan tetap diharapkan dapat dipertahankan dalam setiap prosesi pernikahan Minangkabau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....