Sulam Ameh, Kilau yang Tak Pernah Padam dari Ranah Minang
- 26 Agt 2026 09:15 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Di tengah perkembangan berbagai kerajinan modern, Sulam Ameh tetap menjadi salah satu warisan budaya yang mempertahankan keindahan seni tangan dari Ranah Minang. Bagi Darmawati, seorang pengrajin Sulam Emas asal Sumatera Barat, membuat sulaman bukan sekadar pekerjaan, tetapi keterampilan yang telah diwariskan secara turun-temurun dari keluarganya.
“Saya belajar menyulam ini dari nenek moyang, dari emak, jadi memang sudah turun-temurun,” ujar Darmawati saat menjadi narasumber dalam Siaran Budaya Nusantara Pro 4 RRI Padang. Sulam Ameh merupakan kerajinan kain yang dihiasi menggunakan benang emas dengan teknik sulaman tangan, sehingga menghasilkan motif yang tampak mewah dan berkilau.
Salah satu hasilnya adalah selendang gadang, yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan adat maupun pesta atau baralek di kalangan masyarakat Minangkabau. Proses pembuatan Sulam Ameh membutuhkan ketelitian dan kesabaran karena kain terlebih dahulu dibuatkan gambar atau pola sebelum mulai disulam.
“Pertama kainnya dilukis dulu, setelah itu diragang atau direntangkan pakai pemedangan, baru kemudian dijahit dengan tangan,” ujar Darmawati. Kain direntangkan menggunakan alat pemedangan atau kayu agar permukaannya tetap kuat dan stabil selama proses penyulaman yang seluruhnya dilakukan dengan tangan.
Untuk menghasilkan satu selendang gadang dengan motif sulaman yang penuh, Darmawati membutuhkan waktu lebih dari satu bulan, sedangkan pembuatan sebuah baju sulaman dapat diselesaikan sekitar 15 hari. Selain benang emas, beberapa produk juga menggunakan benang berwarna-warni sehingga menghasilkan motif yang semakin beragam dan menarik, mulai dari pakaian, selendang, tas hingga alas kaki.
Menurut Darmawati, Sulam Ameh memiliki karakteristik yang berbeda dengan Sulaman Koto Gadang meskipun keduanya sama-sama berkembang sebagai kerajinan khas Sumatera Barat. Perbedaan tersebut antara lain terlihat dari teknik pengerjaan dan penggunaan benang, sementara Sulam Ameh dikenal dengan penggunaan benang emas yang memberikan kesan khas dan elegan pada hasil akhirnya.
Keberadaan pengrajin Sulam Ameh hingga kini masih cukup banyak, bahkan pesanan untuk berbagai produk sulaman masih datang dari sejumlah pelanggan. Namun, tantangan terbesar justru terletak pada regenerasi karena tidak banyak generasi muda yang tertarik menekuni pekerjaan menyulam dan lebih memilih bekerja di luar rumah, meskipun masih ada anggota keluarga serta sejumlah ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggal Darmawati yang turut meneruskan keterampilan tersebut.
Sebagai pelaku UMKM, Darmawati juga telah mengikuti berbagai kegiatan yang difasilitasi Dinas Koperasi, seperti bazar, pameran, pelatihan, hingga menjadi tempat belajar bagi mahasiswa yang ingin mengenal teknik Sulam Ameh secara langsung. Di usia 67 tahun, ia masih tekun menyulam karena pekerjaan tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya, sekaligus menjadi pengingat bahwa kilau benang emas bukan hanya mempercantik kain, tetapi juga menyimpan cerita, keterampilan, dan harapan agar warisan budaya Ranah Minang tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....