Fenomena Flexing di Media Sosial dan Dampaknya
- 26 Mei 2026 10:53 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Media sosial saat ini bukan hanya menjadi tempat berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk menunjukkan gaya hidup kepada banyak orang. Tidak sedikit pengguna yang sengaja menampilkan kemewahan, pencapaian, atau barang mahal demi mendapat perhatian dan pengakuan dari publik.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah flexing yang semakin sering muncul di berbagai platform digital. Mulai dari foto kendaraan mewah, liburan mahal, hingga tumpukan uang tunai, semuanya dipamerkan demi membangun citra tertentu di media sosial.
Bagi sebagian orang, flexing dianggap sebagai bentuk motivasi atau hasil kerja keras yang pantas diapresiasi. Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga dapat memunculkan tekanan sosial bagi orang yang melihatnya setiap hari.
Tanpa disadari, banyak pengguna media sosial mulai membandingkan hidup mereka dengan apa yang terlihat di internet. Perasaan minder, iri, hingga keinginan memaksakan gaya hidup di luar kemampuan sering muncul akibat paparan konten semacam itu.
Dilansir dari American Psychological Association, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, terutama ketika muncul kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Perbandingan sosial yang terus terjadi dapat meningkatkan stres dan menurunkan rasa percaya diri.
Fenomena flexing juga mendorong sebagian orang untuk lebih fokus pada pencitraan dibanding kenyataan hidup sebenarnya. Tidak sedikit yang rela berutang atau membeli barang demi terlihat sukses di depan publik digital.
Kondisi ini membuat media sosial perlahan berubah menjadi ruang kompetisi gaya hidup yang melelahkan. Orang berlomba tampil sempurna meski kenyataannya belum tentu sesuai dengan apa yang diperlihatkan di layar.
Di sisi lain, masyarakat juga mulai semakin kritis terhadap konten flexing yang dianggap berlebihan. Banyak pengguna internet kini lebih menghargai konten yang jujur, sederhana, dan memberikan manfaat dibanding sekadar pamer kemewahan.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi tempat berbagi inspirasi dan informasi yang sehat. Menggunakan media sosial dengan bijak jauh lebih penting daripada sekadar mengejar validasi dari jumlah likes dan komentar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....