Kisah Rizki Menjadi Relawan Disabilitas Rumah Istimewa Padang

  • 20 Sep 2026 11:33 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Rizki awalnya tidak mengenal dunia disabilitas, namun keterlibatannya sebagai panitia Hari Disabilitas Internasional pada Desember 2023 menjadi titik balik kesadarannya untuk menjadi relawan.
  • Tantangan utama relawan bukan berasal dari teman-teman disabilitas, melainkan dari pandangan masyarakat yang masih sering memberikan rasa kasihan berlebih atau candaan yang tidak sensitif.
  • Penyandang disabilitas tidak butuh dikasihani, melainkan membutuhkan ruang dan kesempatan untuk berkembang serta mengukir prestasi.

RRI.CO.ID, Padang - Siaran program Ruang Disabilitas dan Inklusi mengudara langsung melalui frekuensi FM 95,9 MHz serta dapat ditonton kanal YouTube RRI Pro 1 Padang. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 19 September 2026 ini dipandu penyiar Rani Zoe bersama mahasiswa Universitas Adzkia Padang bernama M. Ahmilul Rizki.

Diskusi interaktif ini membahas secara mendalam tentang peran penting relawan dalam mendampingi para teman disabilitas. Rizki membagikan pengalaman nyata dirinya selama menjadi relawan aktif pada Komunitas Rumah Istimewa sejak tahun 2023.

Pemuda ini berterus terang bahwa dirinya sempat tidak mengenal sama sekali dunia anak berkebutuhan khusus. Takdir membawanya masuk jurusan Pendidikan Khusus Universitas Adzkia setelah sempat gagal masuk program studi favoritnya.

Titik balik kesadarannya muncul ketika ia ikut menjadi panitia peringatan Hari Disabilitas Internasional pada bulan Desember 2023 lalu. Momen perjumpaan langsung tersebut memantik rasa bahagia hingga menghilangkan seluruh rasa lelah di dalam dirinya.

Rumah Istimewa yang berlokasi di daerah Gaduik Padang tersebut, menjadi wadah utamanya melakukan berbagai aksi sosial. Tempat tersebut menampung puluhan penyandang disabilitas dan didukung sekitar 8 hingga 10 relawan mahasiswa.

Kegiatan rutin yang dijalani meliputi pendampingan mobilitas tempat baru serta fasilitasi layanan program terapi wicara. Selain itu, komunitas tersebut juga rajin menggelar pertemuan silaturahmi untuk mempererat rasa kekeluargaan antar sesama anggota .

Tantangan terberat relawan justru datang dari stigma masyarakat luar yang kerap memandang penyandang disabilitas sebelah mata. Banyak orang masih salah kaprah dengan memberikan rasa kasihan yang sebenarnya sama sekali tidak dibutuhkan.

Rizki menyampaikan pesan mendalam terkait sikap tepat yang harus ditunjukkan oleh masyarakat awam lingkungan sekitar. "Teman-teman disabilitas tidak perlu dikasihani, mereka hanya butuh diberi ruang untuk meluapkan prestasi," ungkap Rizki.

Pada sesi interaktif, seorang pendengar bernama Uncu Dipo ikut bergabung memberikan pertanyaan lewat telepon. Pria asal Kota Solok itu menanyakan kiat membagi waktu antara jadwal kuliah, bekerja, dan kegiatan menjadi relawan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Rizki menjelaskan bahwa kunci utamanya adalah keberanian keluar dari zona nyaman serta konsistensi menjaga komitmen awal. Pengalaman menjalani Praktik Lapangan di SLB Workshop Simpang Tinju Padang semakin menempa tingkat kesabarannya.

Ia berpesan kepada anak muda agar tidak perlu merasa takut atau canggung untuk mulai berinteraksi atau terjun dalam kegiatan relawan. Dunia relawan mengajarkan proses kedewasaan diri yang sangat berharga dalam menghargai setiap perbedaan potensi manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....