Pahami Kebutuhan Belajar Anak Disabilitas Melalui Asesmen Akademik

  • 08 Sep 2026 12:43 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Asesmen paling efektif mulai direkomendasikan untuk murid kelas 3 SD yang mengalami hambatan lambat belajar, setelah melewati masa adaptasi awal sekolah.
  • Selain kesabaran petugas, kendala terbesar terletak pada resistensi orang tua yang sulit menerima kondisi anak, serta kecanduan gawai yang merusak fokus belajar anak.
  • Hasil tes tidak bertugas memvonis anak, melainkan memetakan potensi dan kebutuhan belajar mereka, dengan saran evaluasi ulang minimal 1 kali dalam setahun.

RRI.CO.ID, Padang - Proses asesmen akademik bagi anak berkebutuhan khusus terus disosialisasikan oleh UPTD LDPI Kota Padang secara konsisten. Hal ini disampaikan dalam program Ruang Disabilitas dan Inklusi di RRI Pro 1 Padang yang membedah pentingnya langkah tersebut.

Program yang tayang pada Sabtu, 5 September 2026 ini menghadirkan Yulia Susanti sebagai narasumber utama. Analis peserta didik tersebut menjelaskan fungsi asesmen untuk mengenali potensi dasar serta kebutuhan khusus setiap anak.

Layanan evaluasi belajar ini diprioritaskan bagi murid sekolah dasar yang mengalami kendala lambat belajar di kelas. Penanganan medis atau akademis bagi penyandang disabilitas fisik hanya dilakukan jika terdapat indikasi hambatan kognitif.

Pengujian idealnya mulai direkomendasikan saat anak menginjak kelas 3 SD setelah melewati masa transisi awal. Tim ahli memerlukan waktu sekitar 2 hingga 2,5 jam untuk menguji setiap peserta didik secara individual.

Proses pengujian kemampuan anak ini didampingi langsung oleh psikolog serta tenaga ahli pendidikan khusus profesional. Pengujian berfokus pada instrumen mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika sebagai dasar utama kemampuan literasi.

Literasi Bahasa Indonesia dipakai untuk mengukur tingkat pemahaman bacaan serta kemampuan anak dalam mengolah kata. Sementara materi Matematika digunakan untuk melihat sejauh mana anak mampu mengenali angka dan logika berhitung.

Yulia Susanti mengungkapkan tantangan besar yang kerap dihadapi para petugas saat berinteraksi langsung dengan anak-anak. "Memang kesabaran ekstra sekali, habis itu sebenarnya yang paling prioritas itu adalah hati kita," ujarnya.

Kendala terbesar di lapangan justru datang dari sikap orang tua yang sulit menerima kondisi riil anak. "Penerimaan orang tua ini yang memang sulit sampai sekarang, mereka tetap membantah," kata Yulia menegaskan.

Selain faktor penerimaan orang tua, penggunaan gawai tanpa batasan juga merusak fokus belajar anak saat sekolah. Anak-anak menjadi kecanduan bermain gim hingga pikiran mereka terdistraksi dan tidak mampu menyerap materi pelajaran.

Tim UPTD LDPI Kota Padang menegaskan bahwa hasil tes tidak pernah memvonis seorang anak bodoh. "Asesmen akademik itu bukan untuk mencari kekurangan seorang anak, tapi untuk mengenali apa kemampuannya," tegasnya.

Pihak lembaga menyarankan pengujian berkala dilakukan minimal 1 kali dalam setahun demi memantau perkembangan anak. Langkah penanganan ini membutuhkan kolaborasi erat serta konsistensi dari guru di sekolah maupun orang tua.

Keberhasilan tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus sangat bergantung pada dukungan lingkungan serta pola asuh tepat. Setiap anak terlahir dengan potensi unik masing-masing dan berhak mendapatkan akses pendidikan tanpa diskriminasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....