Sumbar dan Minangkabau Dinilai Punya Kontribusi Besar dalam Merawat Kebangsaan

  • 30 Sep 2026 09:21 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis dalam perjalanan sejarah dan kehidupan kebangsaan Indonesia. Kontribusi tersebut tidak hanya terlihat secara administratif sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi juga secara sosiologis melalui peran tokoh, masyarakat, serta perantau Minangkabau di berbagai daerah di Indonesia.

Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik, mengatakan budaya Minangkabau menjadi salah satu perekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kontribusi Sumatera Barat telah terlihat sejak zaman pergerakan, masa setelah kemerdekaan, hingga pembangunan Indonesia saat ini.

“Budaya Minangkabau menjadi perekat dari Negara Kesatuan Indonesia. Kontribusi Sumatera Barat secara sosiologis dapat dilihat dari bagaimana Sumatera Barat berkontribusi terhadap Indonesia, mulai dari zaman pergerakan, kemudian pasca kemerdekaan, dan juga sampai dengan sekarang kita membangun Indonesia menuju negara yang maju,” ujarnya, Rabu, 30 September 2026.

Akmal menjelaskan, secara administratif posisi Sumatera Barat memang sama dengan provinsi lainnya. Namun secara sosiologis, Sumatera Barat memiliki keunggulan karena banyak tokoh dan masyarakat asal Minangkabau yang berkontribusi di berbagai wilayah Indonesia.

“Kalau ditanya posisi dan kontribusi Sumatera Barat secara administratif tentu sama dengan provinsi-provinsi lain. Tetapi secara sosiologis Sumatera Barat sebenarnya memiliki keunggulan,” katanya.

Ia menyebut masyarakat Minangkabau, khususnya para perantau, telah tersebar hampir di seluruh Indonesia. Keberadaan mereka dinilai turut memperkuat hubungan sosial dan kebangsaan antardaerah.

“Secara sosiologis, kita bisa melihat bagaimana tokoh-tokoh Sumatera Barat hadir, bagaimana perantau-perantau Sumatera Barat yang ada di seluruh pelosok Indonesia, ada di hampir 415 kabupaten, 38 provinsi, dan juga 93 kota yang ada di Indonesia,” katanya.

Akmal menilai, kontribusi tersebut menjadikan masyarakat Minangkabau sebagai salah satu unsur yang ikut merekatkan kebangsaan Indonesia. Bahkan, menurutnya, diplomasi budaya Sumatera Barat dapat terlihat dari kedekatan masyarakat Indonesia dengan berbagai produk budaya dan kuliner Minangkabau.

“Jadi kalau balik dia bertanya posisi dan kontribusi Sumatera Barat yang menjaga kebangsaan, kami ingin mengatakan etnis Sumatera Barat adalah salah satu perekat kebangsaan yang menjadikan Indonesia ini masih ada sampai saat ini. Jadi kalau secara keseluruhan, kalau masih orang Indonesia suka dengan nasi Padang, itulah salah satu diplomasi budaya Sumatera Barat yang menjaga semangat kebangsaan kita,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat periode 2005–2009, Gamawan Fauzi, melihat kontribusi Minangkabau terhadap Indonesia tidak terlepas dari kemajuan pendidikan masyarakatnya sejak sebelum kemerdekaan. Ia menyebut pendidikan telah mendorong lahirnya tokoh-tokoh Minangkabau yang memiliki wawasan luas dan kemudian terlibat dalam perjuangan kebangsaan.

“Bayangkan sebuah etnik, belum bernama Republik waktu itu, tahun 25. Itu jumlah sekolah di Sumatera Barat sama jumlahnya dengan sekolah di seluruh Pulau Jawa dan Bali. Itu dalam ulasan Tempo bulan Juni tahun 1989,” kata Gamawan.

Menurutnya, kemajuan pendidikan tersebut membuat masyarakat Minangkabau relatif lebih terdidik dan memiliki kesempatan untuk menimba ilmu hingga ke berbagai negara. Kondisi itu kemudian membentuk pola pikir yang tidak lagi bersifat lokal, tetapi berkembang menjadi lebih luas dan kosmopolitan.

“Jadi orang Minang relatif lebih terdidik dibandingkan suku-suku bangsa lainnya di Indonesia sebelum kemerdekaan. Mereka sudah pergi ke mana-mana, pergi bersekolah. Bayangkan tahun 1938 sudah ada doktor orang Sumatera Barat atau orang Minang. Dan sejumlah tokoh-tokoh lainnya belajar ke Timur Tengah, belajar ke Belanda dan sebagainya,” ujarnya.

Gamawan menyebut sejumlah tokoh nasional seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir merupakan bagian dari tokoh Minangkabau yang memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Menurutnya, kemajuan pendidikan turut membangkitkan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan dan membangun Republik Indonesia.

“Kemajuan pendidikan inilah yang kemudian membangkitkan semangat suku Minang untuk mendirikan Republik. Sehingga dalam catatan yang diteliti oleh Nurcholish Madjid, 70 persen tokoh-tokoh pendiri Republik ini berasal dari Sumatera Barat atau dari Minangkabau. Bahkan ada yang mengatakan 80 persen,” katanya.

Ia menambahkan, semangat persatuan yang dibawa tokoh-tokoh Minangkabau juga telah terlihat dalam pergerakan pemuda menjelang kemerdekaan. Sumpah Pemuda 1928, menurutnya, menjadi salah satu momentum penting ketika gagasan persatuan Indonesia dan bahasa Indonesia sebagai bahasa bersama ditegaskan.

“Nah, bayangkan karena pendidikan yang jauh lebih maju inilah kemudian mereka ini bangkit bersama-sama dan memberikan kontribusi bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sehingga kalau kita lihat di dalam khasanah perjuangan Republik Indonesia itu sangat diwarnai oleh tokoh-tokoh yang berasal dari Minangkabau,” ujarnya.

Gamawan menilai, pengalaman pendidikan dan pergaulan internasional membuat tokoh-tokoh Minangkabau memiliki cara pandang yang lebih luas terhadap persoalan bangsa. Mereka melihat kondisi Indonesia dalam konteks perjuangan bangsa-bangsa lain yang saat itu masih berada di bawah penjajahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....