Hari tanpa Tembakau Sedunia, Masyarakat Dapat Layanan Pemeriksaan Paru Gratis
- 31 Mei 2026 12:23 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026, mahasiswa Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas bersama RSUP M. Djamil Padang menggelar kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan gratis di lapangan kantor Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Minggu, 31 Mei 2026. Kegiatan pengabdian masyarakat dari pegiat kesehatan ini dilakukan bertepatan dengan pelaksanaan Car Free Day (Hari Bebas Kendaraan Bermotor).
Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap 31 Mei ini, pada tahun 2026 Organisasi kesehatan dunia atau WHO mengusung tema “Membongkar Topeng Manipulasi Industri: Melawan Kecanduan Nikotin dan Tembakau”. Para dokter respirasi dan paru Sumbar menilai industri tembakau kini semakin agresif menggunakan pemasaran digital dan narasi “harm reduction” palsu untuk menarik generasi muda.
Ketua Program Studi Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr. Oea Khairsyaf kepada RRI di Padang mengatakan, mendorong pendekatan akhir terhadap seluruh produk nikotin. “Produk yang dimaksud mencakup rokok konvensional, rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin, sama bahayanya bagi kesehatan. Belum ada satu pun kesimpulan yang menyebutkan rokok menguntungkan bagi kesehatan, ataupun bagi kantong saku penggunanya,” ujarnya.
Dokter Oea Khairsyaf menambahkan, melalui aksi nyata pengabdian masyarakat ini, pegiat kesehatan paru kampus dan RSUP M. Djamil mendorong masyarakat di Sumbar beralih pola hidup sehat tanpa tembakau. “Melalui rangkaian kegiatan ini, seperti senam paru sehat, penyuluhan bahaya rokok dari dokter paru, pemeriksaan kadar CO dalam napas secara gratis hingga konsultasi kesehatan dari tenaga kesehatan, kami ingin masyarakat mendapatkan edukasi dan layanan kesehatan yang laik dan gratis,” katanya.
Sementara itu, Joni Supardi seorang mantan perokok berat berusia 68 tahun, mengakui menyesal tidak menjalani pola hidup yang sehat sejak muda. “Saya aktif merokok sejak usia 13 tahun dan memutuskan berhenti merokok sudah 2 tahun ini, berbagai masalah kesehatan, seperti vonis kanker sempat menganggu aktivitas keseharian saya, sekarang saya bebas berjalan sampai 5 kilo pun tidak ada masalah terkait pernapasan,” ujarnya usai memeriksakan kondisi parunya di tenda layanan kesehatan.
Joni berharap, generasi muda Sumbar, baik pencandu ataupun yang belum terpapar rokok, memilih menghindari mengonsumsi, baik rokok konvensional maupun elektrik. Menurutnya, selain baik bagi kesehatan jangka panjang, membelanjakan rupiah untuk rokok justru menjadi pemicu utama kemiskinan di tengah masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....