Kisah Setiawan Gema Budi, Mualaf Netra yang Bangkit Bersama Pertuni
- 13 Jun 2026 16:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Setelah pendidikan dan kesehatan diperkuat, Gema melihat pekerjaan sebagai tahap berikutnya. Menurutnya, orang yang cerdas dan sehat lebih mudah mengejar kemandirian ekonomi.
Pertuni kini memprioritaskan pembentukan lembaga sertifikasi profesi khusus tunanetra. Lembaga itu disiapkan untuk menstandarkan kompetensi kerja anggota secara resmi.
Gema menilai sertifikat dari Kementerian Sosial belum sepenuhnya cukup. Sertifikat tersebut belum mampu mengakomodasi kebutuhan penyandang tunanetra masuk sektor formal.
Contohnya, keterampilan pijat belum mudah masuk sektor pariwisata dan perhotelan. Padahal, kemampuan itu dapat dikembangkan menjadi profesi yang lebih diakui.
“Pertuni membuat lembaga sertifikasi profesi untuk menstandarisasi kompetensi kerja khusus. Anggota kami harus teruji dan tersertifikasi,” ujarnya.
Melalui lembaga sertifikasi profesi, kompetensi anggota akan diuji secara khusus. Hasilnya diharapkan berupa sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi.
Gema menyebut Pertuni sudah mendapat nomor registrasi standardisasi kompetensi kerja khusus dari Kemnaker. Setelah itu, Pertuni perlu mewujudkan pelatihan dan uji kompetensi.
Pertuni juga membangun komunikasi dengan Bina Penta terkait penempatan tenaga kerja khusus. Komunikasi dilakukan pula dengan Dikdasmen melalui direktorat pendidikan khusus.
Bagi Gema, sertifikasi bukan sekadar dokumen administratif untuk anggota Pertuni. Sertifikasi menjadi jalan agar keterampilan tunanetra diakui dunia kerja secara layak.
|
Selanjutnya,
Rumah Gerakan di Kramat Sentiong
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....