Kisah Setiawan Gema Budi, Mualaf Netra yang Bangkit Bersama Pertuni
- 13 Jun 2026 16:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Gema memakai istilah mualaf netra karena pernah mengalami perpindahan hidup yang tajam. Ia pernah berada di dunia orang melihat, lalu harus belajar dari awal.
Menurutnya, pengalaman itu berbeda dengan tunanetra yang sejak kecil sudah beradaptasi. Mualaf netra masih membawa ingatan tentang warna, wajah, dan kebebasan bergerak.
Ingatan tersebut bisa menjadi kekuatan, tetapi juga dapat berubah menjadi luka. Seseorang terus membandingkan hidup sebelum dan sesudah penglihatannya hilang.
Karena itu, Gema memahami ketika tunanetra baru mengalami tekanan psikologis mendalam. Mereka bisa kehilangan pekerjaan, keluarga, keberanian, bahkan keinginan untuk terus hidup.
Pengalaman seperti itu pernah ia temui saat mendampingi seorang pekerja migran Indonesia. Perempuan tersebut mengalami kecelakaan kerja di Singapura hingga menjadi tunanetra.
Saat dipulangkan ke Indonesia, tekanan hidup perempuan itu justru bertambah berat. Ia diceraikan suaminya, lalu sempat ingin mengakhiri hidup karena kehilangan harapan.
“Itu mau bunuh diri karena sudah stres, lalu saya kasih motivasi. Yang penting kamu mau belajar dulu,” ujarnya.
Gema kemudian hadir bukan hanya sebagai pengurus organisasi, tetapi juga sesama penyintas. Ia mengajak perempuan itu memahami bahwa hidup sebagai tunanetra masih dapat dijalani.
Pendampingan tersebut tidak berhenti pada kata-kata penghiburan semata. Gema membantu mengurus KTP dan Kartu Keluarga, lalu mengarahkannya mengikuti pelatihan.
Perempuan itu kemudian masuk sentra Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Dari sana, ia mulai belajar keterampilan dan perlahan menemukan keberanian hidupnya kembali.
“Sekarang dia baru sadar, ternyata saya bisa bermanfaat. Karena semua sudah ada garisnya,” katanya.
Kisah itu membuat Gema semakin yakin mualaf netra membutuhkan ruang aman. Mereka perlu bertemu orang senasib, agar tidak merasa berjalan sendirian.
Bagi Gema, advokasi tidak cukup hadir dalam bentuk program dan rapat. Advokasi harus menyentuh luka, ketakutan, dan harapan orang yang baru kehilangan penglihatan.
|
Selanjutnya,
Tetap Bangkit Tanpa Menjual Kesedihan
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....