Kisah Setiawan Gema Budi, Mualaf Netra yang Bangkit Bersama Pertuni
- 13 Jun 2026 16:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Dari pengalaman hidupnya, Gema menolak menjadikan disabilitas sebagai cerita belas kasihan. Ia percaya penyandang tunanetra perlu dibantu bangkit melalui kemampuan dan kesempatan.
Kesedihan memang bagian dari perjalanan seseorang yang kehilangan penglihatan. Namun, kesedihan tidak boleh menjadi satu-satunya wajah penyandang disabilitas netra.
Gema ingin masyarakat melihat tunanetra sebagai manusia yang tetap memiliki daya. Mereka dapat belajar, bekerja, memimpin, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Saya terinspirasi dari Gus Dur, sejarah tidak pernah membohongi Indonesia. Indonesia pernah dipimpin oleh penyandang disabilitas netra,” ujarnya.
Gema menjadikan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai salah satu sumber keyakinan. Baginya, hambatan penglihatan tidak pernah menghapus kapasitas seseorang untuk memimpin.
“Nah, ini yang lagi kita perjuangkan, bahwa kita bukan menjual kesedihan. Bukan belas kasihan,” ucapnya.
Pemahaman itu kemudian ia bawa dalam kerja kerja bersama Pertuni. Organisasi tersebut menjadi tempat Gema memperluas pengalaman pribadi menjadi gerakan bersama.
|
Selanjutnya,
Kisah Awal Pertama Masuk Pertuni
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....