Kisah Setiawan Gema Budi, Mualaf Netra yang Bangkit Bersama Pertuni

  • 13 Jun 2026 16:18 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

MENJADI “mualaf netra” bukanlah sesuatu yang pernah diinginkan Setiawan Gema Budi dalam hidupnya. Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia periode 2024–2029 itu pernah melihat dunia, sebelum perlahan belajar hidup dalam gelap.

Gema, sapaan akrab pemuda kelahiran Tuban pada 12 Februari 1993, merupakan difabel netra total blind. Ia tumbuh sebagai anak yang terbiasa bersekolah di jalur reguler sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Bagi Gema, menjadi "mualaf netra" bukan hanya kehilangan kemampuan melihat wajah dan jalan. Ia juga harus merapikan ulang cita-cita, keberanian, dan cara memandang masa depan.

Istilah itu ia gunakan untuk menggambarkan seseorang yang sebelumnya dapat melihat. Namun, karena sakit atau kecelakaan, orang tersebut harus beradaptasi sebagai penyandang disabilitas netra.

Perjalanan Gema menuju dunia baru itu tidak terjadi dalam satu malam. Sejak duduk di Madrasah Ibtidaiyah, penglihatannya sudah mulai terganggu akibat sakit katarak.

Kondisi itu bertambah berat ketika Gema beranjak remaja dan mengalami kecelakaan olahraga. Kok bulu tangkis mengenai matanya, lalu membuat hidupnya berubah jauh dari rencana semula.

Pada usia ketika anak muda biasanya mulai mengejar mimpi, Gema justru harus belajar menerima kehilangan. Cita-citanya menjadi polisi perlahan menjauh, bersama bayangan masa depan yang dulu begitu jelas.

“Dari situlah saya down, karena cita-cita saya dulu menjadi polisi. Tetapi saya punya inspirasi yang bagus dari kakek saya,” ujarnya kepada PRO3 RRI, Jakarta, Sabtu, 13 Juni 2026.

Dorongan dari kakeknya membuat Gema tidak berhenti pada rasa kehilangan tersebut. Dari keluarga berlatar pendidikan, ia mulai percaya bahwa hidup masih menyisakan jalan lain.

Namun, jalan baru itu tidak langsung membawanya menuju bangku kuliah. Gema lebih dulu memilih keluar dari rumah untuk belajar keterampilan hidup mandiri.

Ia kemudian belajar massage refleksi dan shiatsu di sentra Kementerian Sosial. Selama dua tahun, keterampilan itu menjadi bekal awal untuk membangun kepercayaan dirinya kembali.

Di sela pelatihan tersebut, keinginan Gema untuk kuliah tidak pernah benar-benar padam. Ia beberapa kali mengikuti tes perguruan tinggi, meski harus menerima kegagalan lebih dulu.

Pada 2012, Gema sempat diterima di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Namun, saat itu ia belum yakin membayangkan masa depan tunanetra dalam bidang hukum.

“Tapi pikiran saya waktu itu, mau jadi apa tunanetra di hukum. Padahal sudah banyak tunanetra yang ambil jurusan itu,” ucapnya.

Keraguan tersebut membuat Gema kembali melanjutkan pelatihan keterampilan yang sedang ditempuh. Sampai akhirnya, pada 2013, ia diterima di Universitas Negeri Malang.

Di kampus tersebut, Gema tidak masuk melalui jalur khusus penyandang disabilitas. Ia mengikuti jalur reguler, sama seperti mahasiswa nondisabilitas lainnya.

Kesungguhan itu mengantarkan Gema meraih gelar sarjana Pendidikan Luar Biasa. Ia lulus dari Universitas Negeri Malang dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,30.

Pencapaian tersebut membuat Gema dikenal sebagai difabel netra pertama di Tuban yang meraih sarjana. Ia menjalani wisuda di Malang pada 10 September 2017.

Pengalaman sebagai mahasiswa perlahan membuka cara pandang Gema tentang kehidupan disabilitas. Ia menyadari, persoalan tunanetra tidak berhenti pada perjuangan pribadinya sendiri.

Ada banyak orang kehilangan penglihatan, lalu merasa seluruh hidupnya ikut hilang. Kesadaran itu membawa Gema masuk lebih jauh ke Persatuan Tunanetra Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....