Galungan dan Kuningan Momentum Kehadiran Leluhur dan Berkah bagi Sentana

  • 27 Jun 2026 03:30 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hari Raya Galungan dan Kuningan tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran). Bagi umat Hindu di Bali, momentum suci ini juga diyakini sebagai waktu khusus bagi para roh leluhur (pitara) turun ke dunia untuk menemui sentana (keturunan) mereka guna memberikan anugerah.

Hal tersebut disampaikan oleh tokoh spiritual Hindu sekaligus pendiri dan Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas. Ida Bhawati mengatakan bahwa keyakinan ini berakar kuat dalam tradisi keagamaan di Bali.

"Penting dipahami bahwa umat Hindu umumnya tidak selalu memaknai kata turun itu seperti berjalan kembali ke dunia fisik. Banyak yang memahaminya sebagai kehadiran spiritual atau berkah leluhur kepada keturunannya pada periode hari suci tersebut," ujar Ida Bhawati Hermawan.

Dalam struktur teologi Hindu Bali, terdapat hubungan spiritual yang tidak pernah terputus antara keluarga yang masih hidup dengan para leluhur. Galungan dan Kuningan menjadi waktu yang sangat sakral untuk mengingat, menghormati, dan memohon doa restu.

Lebih lanjut, Ida Bhawati menjelaskan mengapa Galungan dan Kuningan sangat identik dengan kehadiran leluhur. Hal itu disebabkan karena ikatan spiritual dan penghormatan yang kuat sentana (keturunan) kepada pitra (leluhur). Sehingga Galungan dan Kuningan dijadikan momen khusus untuk memberikan persembahan sebagai wujud bakti anak-cucu.

Selain itu, karena Galungan melambangkan kemenangan Dharma, maka diyakini para dewa dan roh suci leluhur ikut turun memberikan berkah melimpah kepada umat yang konsisten menjalankan kebenaran.

Selanjutnya 10 hari setelah Galungan, yaitu pada hari Kuningan, diyakini menjadi batas akhir keberadaan roh leluhur di dunia fisik keluarga. "Pada hari Kuningan diyakini para leluhur dan kekuatan suci akan kembali ke alamnya setelah menerima penghormatan dari keluarga yang ditinggalkan," kata Ida Bhawati.

Di antara berbagai sarana upakara saat hari raya Kuningan, keberadaan endongan membawa pesan filosofis yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia. Endongan secara harfiah diartikan sebagai perbekalan, yaitu bekal bagi para leluhur dan bekal bagi umat manusia.

Sebagai wujud bhakti dan rasa syukur, umat Hindu menghaturkan perbekalan ini untuk mengiringi kembalinya para Dewa dan roh leluhur menuju alam niskala (Swarga Loka). Sedangkan bagi umat yang ditinggalkan di dunia fisik, endongan adalah pengingat bahwa hidup di dunia adalah sebuah perjalanan panjang yang memerlukan bekal materi maupun spiritual.

Sarana upakara di Hari Raya Kuningan identik dengan simbol-simbol perlengkapan perang. Endongan (tas perbekalan) selalu bersanding dengan Tamiang sebagai perisai perlindungan diri, sekaligus lambang perputaran roda alam (Cakra Manggilingan). Selain itu ada Ter Panah (senjata) yang menyimbolkan ketajaman pikiran dan ketenangan dalam bertindak. Sampian Gantung simbol penolak bala dari mara bahaya keduniawian.

Kombinasi sarana ini mengingatkan manusia akan hakikat hidup yang menyerupai medan pertempuran (Bharatayuddha di dalam diri). Untuk memenangkan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan), manusia tidak bisa maju dengan tangan kosong. Bekal paling utama dan ampuh dalam mengarungi dinamika kehidupan bukanlah harta benda, melainkan Jnana (ilmu pengetahuan suci) dan ketenangan pikiran.

Hari Raya Kuningan menuntun manusia selalu uning (tahu/paham) dan eling (ingat/sadar) untuk terus mengisi diri dengan bekal kebajikan, memperisai diri dari ego, dan melangkah di jalan kebenaran. Kepercayaan mengenai leluhur yang datang saat Galungan dan Kuningan merupakan ciri khas yang sangat kuat bagi umat Hindu di Bali dan menjadi bagian penting dari penghormatan kepada leluhur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....