Wabah Salmonella Eropa: Tren Makan Mi Instan Mentah Jadi Sorotan
- 08 Jul 2026 18:01 WIB
- Serui
Poin Utama
- Lebih dari 100 orang terinfeksi bakteri Salmonella Stanley di 13 negara Eropa dan Inggris sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026, dengan 49 pasien memerlukan rawat inap.
- Mayoritas korban adalah anak-anak dan remaja yang mengonsumsi mi instan bumbu ayam dalam keadaan mentah langsung dari kemasan tanpa dimasak.
- Produk mi instan terkontaminasi diproduksi dari satu pabrik di Ukraina, namun ditemukan beberapa strain Salmonella berbeda (Stanley, Richmond, Newport, Senftenberg) mengindikasikan kontaminasi dari multiple sumber.
- Otoritas keamanan pangan melakukan penarikan massal produk, dan masyarakat diimbau membuang sisa stok yang terkontaminasi dan menghentikan kebiasaan mengonsumsi mi instan mentah.
RRI.CO.ID, Serui - Sebuah fenomena konsumsi pangan yang tidak biasa kini tengah memicu kekhawatiran besar di Eropa. Lebih dari 100 orang dilaporkan terinfeksi bakteri Salmonella, di mana kasus tersebut dikaitkan kuat dengan tren mengonsumsi mi instan dalam keadaan mentah.
Dikutip dari detikhelth. Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) serta otoritas kesehatan Inggris Raya, sebanyak 106 kasus terkonfirmasi dari strain Salmonella Stanley telah menyebar di 13 negara Eropa dan Inggris sejak akhir tahun lalu hingga pertengahan 2026. Sifat bakteri ini tergolong agresif, memaksa sedikitnya 49 pasien harus dilarikan ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan intensif.
Menyerang Anak-Anak dan Remaja
Hal yang paling disoroti oleh tim medis adalah profil para korban. Wabah ini secara dominan menyerang kelompok usia anak-anak dan dewasa muda. Inggris mencatat angka kasus tertinggi dengan 29 pasien, diikuti oleh Lithuania (23 kasus), Jerman (14 kasus), dan Denmark (10 kasus).
Penyelidikan epidemiologi kemudian mengungkap benang merah yang mengejutkan: sebagian besar pasien yang jatuh sakit diketahui sempat mengonsumsi mi instan bumbu rasa ayam merek tertentu dalam kondisi kering dan mentah, langsung dari kemasannya tanpa dimasak terlebih dahulu.
Pihak berwenang menegaskan bahwa kebiasaan menjadikan mi instan mentah sebagai camilan "kriuk" sangat tidak direkomendasikan. Produk tersebut diproduksi dan dikemas dengan asumsi bahwa konsumen akan memprosesnya menggunakan air mendidih sebelum dikonsumsi.
Di Latvia, tiga kasus infeksi yang menyerang anak-anak sekolah dasar terkonfirmasi terjadi setelah mereka mengonsumsi mi instan mentah secara sengaja dan mengabaikan petunjuk penyajian pada kemasan.
Misteri Temuan Multi-Strain Bakteri di Pabrik
Pelacakan logistik yang dilakukan oleh ECDC berhasil mengidentifikasi bahwa produk mi instan yang terkontaminasi tersebut diproduksi oleh satu pabrik yang sama di Ukraina. Kendati demikian, hasil investigasi justru memicu teka-teki baru bagi para peneliti.
Alih-alih hanya menemukan satu jenis bakteri, tim laboratorium di berbagai negara justru mendeteksi beberapa strain Salmonella yang berbeda dari merek mi yang sama:
- Jerman dan Lithuania mendeteksi strain Salmonella Stanley pada varian rasa ayam biasa dan pedas.
- Pengujian pada batch lain di Lithuania mendeteksi strain Salmonella Richmond dan Salmonella Newport.
- Estonia menemukan strain Salmonella Senftenberg pada produk rasa ayam di wilayah mereka.
Banyaknya variasi strain ini mengindikasikan bahwa sumber kontaminasi di tingkat fasilitas produksi kemungkinan besar lebih dari satu titik. Pihak produsen di Ukraina sendiri dilaporkan telah melakukan audit internal, namun hasil pengujian pada bahan baku bubuk penyedap rasa mereka justru menunjukkan hasil negatif Salmonella. Proses investigasi mendalam pun masih terus dikebut untuk mencari komponen bahan baku mana yang menjadi pembawa bakteri.
Risiko Masih Mengintai Dapur Konsumen
Sebagai langkah cepat, otoritas keamanan pangan di negara-negara terdampak telah melakukan penarikan massal terhadap produk dan batch yang dicurigai. Di Jerman, varian mi instan ayam ukuran 60 gram dengan kode batch L0126 (kedaluwarsa April 2027) telah ditarik sepenuhnya dari peredaran.
Meski tindakan pengamanan di tingkat pasar sudah dilakukan, ECDC memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Mi instan memiliki masa simpan yang sangat panjang, sehingga risiko penularan baru masih sangat tinggi jika konsumen masih menyimpan sisa produk yang terkontaminasi di dapur mereka tanpa disadari.
Masyarakat diimbau keras untuk memeriksa stok makanan mereka, membuang produk yang masuk dalam daftar penarikan, dan yang paling penting: menghentikan kebiasaan mengonsumsi mi instan dalam keadaan mentah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....