Aditya Dhammajaya Sampaikan Lima Perenungan Hidup

  • 02 Sep 2026 09:37 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Penyuluh Agama Buddha Kemenag Kota Tarakan, Aditya Dhammajaya, S.Ag, menjadi narasumber dalam program Mimbar Agama Buddha di RRI Pro 1 Tarakan. Dalam siaran tersebut, Ia memaparkan materi spiritual bertema "Menyelami Abhinhapaccavekkhana Patha" yang memuat lima kenyataan hidup untuk direnungkan setiap umat.

Aditya menjelaskan bahwa bacaan Abhinhapaccavekkhana Patha berasal dari Anguttara Nikaya dalam Kitab Tipitaka. Bacaan ini berisi lima hal mendasar yang sering dihindari manusia, yaitu usia tua, sakit, kematian, perpisahan, serta tanggung jawab atas perbuatan sendiri. Menurutnya, perenungan ini diulang bukan untuk memicu kemurungan, melainkan melatih penerimaan dan kejernihan batin.

Pada perenungan pertama dan kedua, Ia menekankan kenyataan tentang fisik manusia yang terus berubah seiring berjalannya waktu. "Aku mengalami usia tua, aku tidak terbebas dari usia tua," ungkap Aditya. Beliau menambahkan bahwa tidak ada tubuh yang kebal dari penyakit, sehingga kesehatan harus senantiasa dijaga.

Mengenai topik kematian dan perpisahan, Aditya mengingatkan bahwa kehilangan merupakan kepastian yang dialami semua makhluk hidup. "Semua yang kucintai dan kusayangi akan berpisah dan meninggalkan aku," ungkapnya. Aditya menilai kesadaran akan rentang waktu yang terbatas justru mendorong seseorang untuk lebih cepat memaafkan dan menghargai keberadaan sesama.

Poin kelima berfokus pada hukum kamma atau perbuatan yang menempatkan kendali hidup kembali ke tangan setiap individu. "Aku adalah pemilik dari kammaku sendiri, pewaris dari kammaku sendiri," kata Aditya. Ia menekankan bahwa perbuatan yang dilakukan hari ini merupakan benih yang akan dituai di masa depan.

Lebih lanjut, Aditya menyampaikan bahwa pemahaman ini sangat relevan untuk menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang beragam di Kota Tarakan. Kesadaran bahwa setiap orang menghadapi kepastian hidup yang sama dapat menekan perselisihan. Hal tersebut menjadi landasan kuat untuk saling menghormati antarumat beragama di daerah.

Sebagai penutup, Aditya mengajak para pendengar untuk mengamalkan perenungan ini dalam kehidupan sehari-hari sebelum beristirahat. "Semoga apa yang kita renungkan bersama hari ini menjadi bekal untuk menjalani hari dengan lebih penuh kesadaran," tutur Aditya. Siaran diakhiri dengan doa keselamatan untuk semua makhluk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....