Ketenangan Batin Terganggu akibat Beban Hutang

  • 12 Jul 2026 04:14 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Keterkaitan erat antara kondisi keuangan dan kesehatan mental menjadi topik utama dalam siaran rohani Mimbar Agama Buddha. Aditya Dhammajaya, S.Ag mengungkapkan bahwa masalah finansial seperti hutang yang tidak terkendali dapat merampas ketenangan batin secara drastis.

Dalam siaran di RRI Pro 1 Tarakan, dijelaskan bahwa beban hutang sering kali memicu kecemasan akut, insomnia, hingga keretakan hubungan keluarga. Secara psikologis, tekanan dari para penagih hutang dapat membuat seseorang kehilangan martabat dan stabilitas emosionalnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan sabda Sang Buddha dalam Dhammapada syair 216, kesedihan dan ketakutan selalu berakar dari keinginan yang tidak terkontrol. Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan egonya untuk menyamai standar hidup orang lain, maka ketakutan akan masa depan finansialnya dipastikan bakal muncul.

Guna mengatasi gangguan psikologis akibat tekanan ekonomi tersebut, Aditya mengajak para pendengar untuk kembali membersihkan batin dari sifat keserakahan. "Seorang petani sederhana yang hidup dari hasil kebunnya sendiri, tanpa hutang sepeser pun, sesungguhnya lebih bahagia," ungkap Aditya memberikan perumpamaan nyata.

Sikap membanding-bandingkan diri dengan pencapaian material orang lain di media sosial disebut sebagai salah satu pemicu utama stres finansial saat ini. Oleh karena itu, latihan spiritual seperti berdana direkomendasikan untuk melatih batin agar lebih mudah melepas kemelekatan terhadap materi.

Pada sesi akhir siaran, narasumber menekankan bahwa kebebasan dari hutang (anana sukha) mendatangkan kegembiraan batin yang bersifat substansial. Ketika batin terasa ringan karena tidak memiliki kewajiban moral maupun material kepada pihak lain, maka kualitas hidup seseorang otomatis meningkat.

Siaran ini memberikan perspektif baru bagi masyarakat bahwa kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh kebijakan kita dalam mengelola nafsu keinginan. Menjaga gaya hidup sederhana bukan berarti kekurangan, melainkan sebuah bentuk kehati-hatian demi menjaga kedamaian pikiran yang sejati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....