Belajar dari Keluarga Ibrahim As
- 10 Jun 2025 06:58 WIB
- Tarakan
KBRN, Tarakan: Dalam dialog Religi Pagi Pro 1 RRI Tarakan edisi senin (9/6), Ustadz dr. Muhammad Aris Rakka mengajak umat Islam untuk meneladani keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai contoh pendidikan keluarga yang ideal. Melalui tausiyahnya, Ustadz Rakka menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak, tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi dengan keteladanan, doa yang tulus, dan penciptaan lingkungan yang kondusif.
Ustadz Rakka mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan umat Islam bahwa hari-hari tasyrik adalah momen istimewa untuk meneladani keteguhan iman dan pengorbanan Nabi Ibrahim AS. "Nabi Ibrahim adalah sosok yang luar biasa dalam pengabdian dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Melalui kisah beliau, kita diajarkan pentingnya keikhlasan dan kepatuhan total kepada Allah," ungkapnya.
Salah satu teladan penting dari Nabi Ibrahim adalah konsistensinya dalam berdoa. Ustadz Raka menyoroti doa-doa Nabi Ibrahim yang senantiasa memohon keturunan yang sholeh dan generasi yang mendirikan sholat. "Doa beliau bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk anak cucunya agar menjadi generasi yang senantiasa menegakkan sholat. Inilah bukti betapa pentingnya pendidikan spiritual dalam keluarga," jelasnya.
Lebih lanjut, Ustadz Rakka menegaskan bahwa pendidikan karakter anak tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. "Karakter itu tidak cukup diajarkan, tetapi harus dicontohkan. Kalau orang tua ingin anaknya rajin ke masjid, orang tuanya harus duluan memberi contoh," tegasnya.
Seorang pemirsa Dialog Religi Pagi, Bahtiar dari Sebengkok, Tarakan, menguatkan bahwa pendidikan anak memang berakar dari orang tua. "Orang tua harus sadar sejak awal bahwa pendidikan anak itu tanggung jawab mereka, bukan sepenuhnya diserahkan pada sekolah atau orang lain," ujar Bahtiar.
Ustadz Rakka juga menyinggung bahwa kualitas waktu bersama anak jauh lebih penting dibandingkan kuantitas. Nabi Ibrahim yang tidak banyak menghabiskan waktu bersama Nabi Ismail tetap mampu menjadi teladan yang luar biasa karena kualitas kebersamaan yang dibangun.
| Baca juga: Manifestasi Iman dalam Ibadah Kurban |
Ustadz Rakka menegaskan bahwa kualitas kebersamaan antara anak dan orang tua tidak dilihat dari banyaknya waktu bersama, tetapi waktu yang digunakan. "Kalau waktu kita terbatas, pastikan waktu yang sedikit itu benar-benar berkualitas, penuh kasih sayang, dan menjadi momen berharga untuk membentuk karakter anak," imbuhnya.
Ustadz Rakka juga mengingatkan pentingnya memperhatikan sumber nafkah keluarga, karena makanan yang masuk ke tubuh anak akan memengaruhi akhlaknya. "Kalau sumber nafkah kita tidak halal, bagaimana anak kita akan tumbuh dengan baik? Hal ini harus menjadi perhatian serius para orang tua," tegasnya.
Ustadz Rakka menutup Religi Pagi dengan mengajak pemirsa untuk kembali meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim sebagai acuan dalam membangun keluarga yang berakhlak mulia. Melalui doa, keteladanan, dan lingkungan yang baik, keluarga akan menjadi pondasi kokoh dalam melahirkan generasi penerus yang bertakwa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....