Belajar Dharma lewat Sepiring Makanan Sederhana
- 22 Jun 2026 12:42 WIB
- Tarakan
RRI.co.id, Tarakan - Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Aditya Dhammajaya, S.Ag., mengajak umat untuk merefleksikan makna kehidupan melalui aktivitas sehari-hari. Dalam siaran Mimbar Agama Buddha di RRI Pro 1 Tarakan, ia menekankan bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut. Sebaliknya, makanan adalah media belajar batin yang sangat efektif jika disikapi dengan bijak.
Menurut Aditya, pelajaran pertama yang dapat dipetik dari makanan adalah rasa syukur yang mendalam. Setiap butir nasi yang tersaji melibatkan proses panjang dan kerja keras banyak pihak, mulai dari petani hingga pedagang. Kesadaran akan keterkaitan ini mengajarkan manusia untuk tidak egois dan menghargai jerih payah sesama makhluk.
Selain rasa syukur, aktivitas makan juga menjadi sarana melatih kesadaran penuh atau mindfulness. Di tengah era modern yang serba tergesa-gesa, banyak orang makan sambil bermain gawai atau bekerja. Akibatnya, mereka kehilangan momentum untuk hadir seutuhnya di saat ini dan mengabaikan sinyal alami dari tubuh mereka sendiri.
Aditya juga menyoroti pentingnya pengendalian diri untuk membedakan antara kebutuhan batin dan keinginan indrawi. Keinginan manusia sering kali tidak memiliki batas, sementara kebutuhan fisik sesungguhnya sangat terukur. "Ketika kita mampu berkata, 'Saya sudah cukup,' padahal masih ada kesempatan untuk mengambil lebih banyak, sesungguhnya kita sedang melatih kebijaksanaan," ujarnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan mengenai hukum ketidakkekalan (anicca) melalui analogi makanan yang bisa mendingin atau membusuk. Pemahaman ini diharapkan dapat mendorong umat untuk memanfaatkan energi dari makanan demi memupuk kebajikan. Melalui siaran ini, aktivitas makan yang biasa kini bertransformasi menjadi latihan spiritual yang kaya makna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....