Menembus Belantara demi Tiga Murid: Potret Perjuangan Pendidikan di Ujung Malinau
- 07 Okt 2026 07:34 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Malinau — Sebuah foto yang memperlihatkan tiga anak tengah khusyuk belajar di dalam ruang kelas sederhana viral di media sosial baru-baru ini. Di balik kesederhanaan foto tersebut, tersimpan cerminan nyata dari perjuangan keras menjaga asa pendidikan bagi anak-anak di daerah pedalaman Kalimantan Utara.
Lokasi tersebut rupanya berada di Bang Biau, Kabupaten Malinau—sebuah permukiman terpencil yang dikelilingi hutan lebat. Foto itu memicu perhatian publik hingga membuat Anggota DPR RI asal Kalimantan Utara, Rahmawati Zainal, turun tangan mencari kejelasan informasi.
"Saya sudah meminta klarifikasi langsung dari Sekda Malinau, Pak Ernes, dan beliau membenarkan kondisi tersebut. Sekolah itu merupakan kelas filial di Bang Biau, agar anak-anak di sana tidak perlu jalan kaki berhari-hari turun ke Long Barang hanya untuk bersekolah," ujar Rahmawati.
Langkah ini diambil Pemkab Malinau bukan tanpa alasan. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Dr. Muhammad Fiteriady, S.STP., M.Si., mengungkapkan betapa ekstremnya akses geografi menuju sekolah induk di SDN 001 Lung Barang.
Untuk mencapai Lung Barang dari Bang Biau, seseorang harus berjalan kaki selama satu hari penuh membelah rimba dan medan pedalaman yang terjal. Tak terbayangkan jika anak-anak usia sekolah dasar harus menempuh perjalanan berbahaya tersebut setiap harinya.
"Jaraknya sangat jauh dan tidak memungkinkan bagi anak-anak untuk pergi-pulang setiap hari. Karena itu, demi mendekatkan akses layanan pendidikan, sekolah filial di Bang Biau tersebut kini telah resmi kami mandirikan menjadi SDN 005 Mentarang Hulu," terang Fiteriady.
Fiteriady menegaskan, populasi penduduk yang menyebar serta terbatasnya anak usia sekolah di kawasan pedalaman tak menghalangi kewajiban negara untuk memenuhi hak belajar warga negaranya.
"Berapa pun jumlah muridnya, entah itu puluhan atau hanya tiga orang, anak-anak di perbatasan dan pedalaman tetap berhak mendapatkan pendidikan yang layak," tegasnya.
Guna menyiasati keterbatasan jumlah siswa dan tenaga pendidik, Dinas Pendidikan menerapkan metode *Sekolah Kecil* atau *Sekolah Terpencil* dengan sistem kelas rangkap. Kendati berada di pelosok, SDN 005 Mentarang Hulu sebenarnya telah resmi berdiri sejak Juni 2014 dan mengantongi Akreditasi B.
Pemerintah daerah juga terus berkomitmen memberikan perhatian khusus bagi para guru yang mengabdi di benteng terdepan pendidikan tersebut.
"Dukungan untuk para pendidik di wilayah khusus terus kami berikan, mulai dari Tunjangan Khusus Guru (TKG) terpencil, penyediaan fasilitas tempat tinggal yang layak, hingga upaya peningkatan konektivitas secara bertahap," pungkas Fiteriady.
Di balik riuhnya perbincangan di media sosial, kehadiran guru dan tiga murid di Bang Biau menjadi bukti bahwa di pelosok negeri terluar sekalipun, nyala lilin pendidikan tak pernah biarkan padam. (CRZ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....