Kemenag Dorong Pencegahan LGBT di Kalangan Pelajar melalui Tiga Pilar
- 29 Jul 2026 08:23 WIB
- Tarakan
RRI.CO.ID, Tarakan — Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tarakan, H. Syopyan, menegaskan bahwa pencegahan fenomena lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) harus dimulai dari tiga pilar utama, keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikannya saat ditanya terkait pandangan Kemenag terhadap maraknya isu LGBT, khususnya di kalangan generasi muda.
"Ini menjadi tugas kita semua dalam rangka menghadapi fenomena maraknya LGBT. Saya ingin memastikan bahwa LGBT ini adalah penyimpangan seksual yang harus kita hadapi, wabil khusus kepada generasi muda kita. Kita tidak ingin generasi muda yang sudah terpapar," ujar Syopyan.
Menurutnya, langkah pertama yang diambil Kemenag Tarakan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat. Edukasi itu disampaikan melalui jalur pendidikan formal dan juga melalui para penyuluh agama.
"LGBT ini adalah sebuah perbuatan tercela yang harus dipahami oleh masyarakat. Sejarah Nabi Luth, betapa Allah sangat murka dengan perilaku LGBT ini. Edukasi ini kita lakukan pertama melalui pendidikan, kemudian melalui para penyuluh kita. Teman-teman di Kementerian Agama ini adalah para ustaz dan ustazah yang memiliki ruang untuk menyampaikan pesan-pesan betapa bahayanya LGBT," jelas Syopyan.
Ia enekankan peran keluarga sebagai pondasi utama. Nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak di rumah dinilai penting agar anak tidak terjerumus ke perilaku menyimpang.
"Peran keluarga tentu pendidikan yang baik itu diawali dari lingkungan keluarga dulu. Maka ketika orang tua ingin menyampaikan, mereka juga harus memiliki pengetahuan itu, kemudian menularkan kepada anak-anaknya. Sehingga praktik-praktik LGBT dan hal-hal yang menyimpang itu dapat dihindari," kata Syopyan.
Di sisi pendidikan, Kemenag Tarakan mengandalkan madrasah yang memiliki kurikulum berbasis agama. Mata pelajaran seperti akidah akhlak, fikih, Al-Quran Hadis, bahasa Arab, dan SKI menjadi sarana penanaman nilai.
Pada kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah, Syopyan mengaku langsung turun ke madrasah-madrasah untuk memberikan edukasi. Tiga poin utama yang ditekankan: yaitu larangan bullying, pendidikan inklusi, dan penolakan terhadap perilaku LGBT.
"Pastikan bahwa pihak madrasah, siswa madrasah itu tidak ada yang berperilaku itu," tegas Syopyan.
Kemenag saat ini juga mengembangkan "Kurikulum Berbasis Cinta" atau KBC sebagai program prioritas Menteri Agama. Program ini bukan kurikulum baru, melainkan penguatan unsur cinta dalam pembelajaran.
"Unsur-unsur cinta ini ditanamkan kepada siswa madrasah dengan lima panca cinta: cinta kepada Allah, cinta kepada lingkungan, cinta kepada negara, cinta kepada sesama. Ini bagian untuk menumbuhkan tidak adanya bullying, tidak adanya diskriminasi," ujar Syopyan.
Ia menambahkan, unsur yang sama juga dikembangkan untuk pendidikan agama Islam di sekolah umum.
"Secara umum kurikulumnya tidak secara khusus menyebut, tetapi hal-hal yang terkait tadi menjadi poin penting dalam pembelajaran kepada anak," kata Syopyan.
Syofyan memaparkan, saat ini Kemenag Tarakan membina 45 lembaga pendidikan. Rinciannya: RA atau setingkat TK sebanyak 14 lembaga, MI 11 lembaga, MTs 9 lembaga, dan MA 9 lembaga.
Selain itu terdapat 14 pondok pesantren. Kebanyakan pesantren di Tarakan juga membuka madrasah di dalamnya.
"Rata-rata mereka juga sekolah, membuka madrasah di dalam pesantren itu. Jadi cukup besar potensinya. Total sekitar 54 kalau digabung," ujar Syopyan.
Syopyan menegaskan sikap agama terhadap LGBT sangat melarant
"Agama sudah tegas melarang itu. Karena ini penyimpangan perilaku seksual, menyukai sesama jenis, dan berperilaku seksual yang menyimpang. Perkawinan yang sah adalah yang berbeda jenis. Kalau ada yang sesama jenis, negara kita tidak menerima, tidak mengakui," pungkas Syopyan. (Rajab)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....