DBD Masih Mengancam Bulungan, 15 Kasus Tercatat hingga Awal Juli

  • 10 Jul 2026 19:55 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tanjung Selor - Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bulungan belum mereda.

Hingga awal Juli 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bulungan mencatat 15 kasus DBD.

Kondisi ini membuat Bulungan masih berstatus sebagai daerah endemis karena kasus terus ditemukan selama tiga tahun berturut-turut.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinkes Bulungan memperkuat langkah pencegahan melalui vaksinasi DBD bagi anak-anak serta mengintensifkan pengawasan di wilayah yang selama ini menjadi kantong penyebaran penyakit.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bulungan, Rustam Iwandi, mengatakan status endemis masih melekat pada Bulungan karena setiap tahun selalu ditemukan kasus DBD.

"Bulungan masih berstatus daerah endemis. Suatu daerah dikategorikan endemis apabila selama tiga tahun berturut-turut selalu ditemukan kasus DBD, dan kondisi itu masih terjadi di Bulungan," ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes, hingga awal Juli tercatat 15 kasus DBD. Kecamatan Sekatak menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni tujuh kasus, disusul Tanjung Selor lima kasus dan Tanjung Palas satu kasus.

Sementara Tanjung Palas Utara dan Bunyu tetap menjadi wilayah yang dipantau karena memiliki riwayat kasus DBD setiap tahunnya.

Meski demikian, Rustam menjelaskan penyebaran DBD tidak merata di seluruh kecamatan. Beberapa wilayah justru menunjukkan tren penurunan kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satunya Kecamatan Tanjung Palas Utara yang mengalami penurunan kasus setelah berbagai upaya pengendalian dilakukan, termasuk pelaksanaan vaksinasi DBD.

"Kami terus melakukan pengawasan di daerah yang menjadi kantong kasus agar penyebaran tidak semakin meluas. Di Tanjung Palas Utara juga terlihat adanya penurunan kasus dibandingkan tahun sebelumnya," katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Bulungan telah memberikan vaksin DBD dosis pertama kepada sekitar 725 pelajar SD dan SMP sejak awal 2026.

Dalam waktu dekat, vaksin dosis kedua akan diberikan kepada sasaran yang sama untuk meningkatkan perlindungan terhadap infeksi virus dengue.

"Program vaksinasi akan kami lanjutkan dengan pemberian dosis kedua agar perlindungan anak-anak terhadap DBD semakin optimal," jelas Rustam.

Ia menegaskan anak-anak menjadi sasaran utama vaksinasi karena merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami komplikasi hingga kematian akibat DBD.

"Sebagian besar kasus kematian akibat DBD terjadi pada anak-anak. Karena itu mereka menjadi prioritas dalam program vaksinasi," tegasnya.

Meski vaksinasi terus diperluas, Dinkes menekankan pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan vaksin.

Peran masyarakat tetap menjadi kunci dalam memutus rantai penularan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

"Vaksinasi merupakan perlindungan tambahan. Namun upaya paling efektif tetap dimulai dari lingkungan yang bersih dan bebas sarang nyamuk. Tanpa keterlibatan masyarakat, kasus DBD akan sulit ditekan," pungkasnya. (rln)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....