Ramadhan Sebagai Wahana Penguatan Quantum Spiritual Enlightenment

  • 16 Mar 2026 10:00 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan - Dalam upaya memperkuat aspek religiusitas masyarakat di penghujung bulan suci, RRI Tarakan menggelar Dialog Ramadhan bertajuk "Ramadhan sebagai Wahana Penguatan Quantum Spiritual Enlightenment". Dialog ini menghadirkan narasumber, Bapak H. Nur Ali, S.Ag., yang membedah pentingnya pencerahan rohani dalam menghadapi problematika kehidupan modern.

Dalam pemaparannya, H. Nur Ali menyoroti fenomena masyarakat perkotaan yang secara finansial tercukupi namun mengalami kekeringan spiritual. Kondisi ini sering kali memicu rasa was-was, kegelisahan, dan ketidakpuasan hidup yang berkepanjangan.

"Manusia memang diciptakan dengan sifat keluh kesah. Namun, volumenya bisa kita turunkan melalui rasa syukur yang mendalam, baik atas nikmat di dalam diri maupun di luar tubuh," ujar H. Nur Ali.

Salah satu poin menarik dalam dialog ini adalah kritik terhadap cara berdoa yang umum dilakukan masyarakat. H. Nur Ali menyarankan agar umat tidak lagi sekadar meminta "kekuatan" saat menghadapi ujian, melainkan meminta "pelepasan".

"Jika kita hanya minta dikuatkan, masalahnya tetap ada dan kita hanya dipaksa bertahan. Doa yang lebih tepat adalah meminta pertolongan Allah untuk melepaskan masalah tersebut. Dengan melepaskan, beban kehidupan akan terasa ringan," jelasnya. Ia juga mengingatkan agar dalam berdoa, manusia tidak "mendikte" Tuhan dengan memberikan target waktu tertentu, melainkan berserah diri dengan penuh keikhlasan.

Terkait kesejahteraan, H. Nur Ali menggunakan analogi gelas untuk menjelaskan konsep keberlimpahan. Menurutnya, keberlimpahan bukan soal besar kecilnya "wadah" (penghasilan), melainkan rasa cukup (qana’ah).

"Gelas kecil pun jika sudah penuh akan luber dan memberi manfaat. Sebaliknya, gelas besar yang tidak pernah merasa penuh hanya akan melahirkan keserakahan," tambahnya. Ia menekankan bahwa orang beragama seharusnya memiliki hidup yang tertata, bukan berantakan (amburadul), baik dalam aspek ekonomi, kesehatan, maupun rumah tangga.

Menutup dialog, masyarakat diajak untuk memaksimalkan 10 hari terakhir Ramadhan sebagai waktu transformasi nasib. Beliau menyayangkan jika waktu malam yang mustajab hanya dihabiskan untuk aktivitas sia-sia seperti sekadar nongkrong di warung kopi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....