Warga Tarakan Manfaatkan Waktu Emas Raih Berkah Ramadhan

  • 05 Mar 2026 13:06 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan – Pemanfaatan waktu-waktu produktif ibadah atau "waktu emas" menjadi kunci utama bagi masyarakat Kota Tarakan untuk meraih kualitas iman yang maksimal selama bulan Ramadhan.

Dalam dialog interaktif di RRI Tarakan, Ustaz Sultan Halim menekankan bahwa sering kali keberkahan bulan suci terlewat begitu saja karena kurangnya manajemen waktu. Beliau mengajak warga untuk lebih jeli melihat peluang ibadah di tengah rutinitas harian yang padat di kota pelabuhan ini.

Salah satu tantangan besar yang disoroti adalah penggunaan gawai atau HP yang berlebihan saat menjalankan ibadah puasa. Ustaz Sultan memperingatkan bahwa HP bisa menjadi penghalang kualitas iman jika tidak dikendalikan dengan bijak.

Alih-alih mendapatkan pahala, waktu berharga justru habis hanya untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas, yang dapat melemahkan fokus batin dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Beliau memaparkan bahwa terdapat tiga waktu krusial yang harus dijaga oleh setiap muslim di Tarakan agar puasanya berkualitas. Waktu emas tersebut meliputi saat makan sahur, momen setelah salat Subuh, hingga detik-detik menjelang berbuka puasa.

Pada jam-jam tersebut, doa-doa diyakini sangat mustajab, sehingga warga diminta tidak menyibukkan diri dengan hal duniawi atau sekadar bersantai tanpa zikir dan permohonan yang tulus.

Selain manajemen waktu, menghidupkan Al-Qur'an secara tartil menjadi rekomendasi utama dalam menata hati selama Ramadhan ini. Ustaz Sultan menyarankan agar warga tidak hanya mengejar target khatam secara cepat, tetapi lebih mengutamakan pemahaman makna melalui tadabur.

Membaca lima hingga sepuluh ayat yang disertai pemahaman terjemahan dinilai lebih berdampak pada perubahan perilaku dan ketenangan jiwa masyarakat dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari.

Sisi lain yang menarik dalam dialog tersebut adalah anjuran untuk menghidupkan kembali tradisi sedekah secara senyap atau "gerakan bawah tanah".

Di era digital yang penuh dengan pencitraan, warga Tarakan didorong untuk memberikan bantuan tanpa harus diketahui orang lain demi menjaga kemurnian niat. Hal ini dianggap sebagai latihan mental yang efektif untuk mengikis sifat sombong dan keinginan untuk dipuji oleh sesama manusia.

Dialog ini juga mengingatkan pentingnya melakukan muhasabah atau evaluasi diri setiap malam sebelum beristirahat. Warga diajak merenung apakah ucapan dan tindakan mereka hari ini sudah sesuai dengan nilai-nilai mukmin yang paripurna atau justru melukai perasaan orang lain.

Refleksi harian ini menjadi kontrol sosial yang baik bagi masyarakat Tarakan agar tetap rendah hati dan tidak merasa lebih suci dibandingkan orang lain.

Sebagai penutup, ditekankan bahwa perubahan diri yang konsisten jauh lebih berharga daripada ibadah yang besar namun hanya bersifat musiman. Ramadhan harus dijadikan momentum transformasi total bagi warga untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang dapat menurunkan kualitas spiritual.

Dengan menjaga waktu emas dan mengendalikan diri dari gangguan digital, diharapkan masyarakat Tarakan dapat meraih kemenangan yang sesungguhnya di penghujung bulan suci nanti. (ADR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....