Penyuluh Kemenag Tarakan Ajak Umat Praktikkan Dhamma

  • 15 Sep 2026 15:06 WIB
  •  Tarakan

RRI.CO.ID, Tarakan — Penyuluh Agama Buddha Kementerian Agama Kota Tarakan, Rudy Pratama, S.Ag., mengulas pentingnya pemaknaan khotbah pertama Buddha dalam siaran Mimbar Agama Buddha di RRI Pro 1 Tarakan. Dalam siaran tersebut, Rudy menekankan bahwa peristiwa pemutaran Roda Dhamma di Taman Rusa Isipatana, Bārāṇasī, bukan sekadar sejarah moral, melainkan petunjuk praktis untuk mengakhiri penderitaan hidup manusia sehari-hari.

Rudy menjelaskan bahwa Buddha mengawali ajarannya dengan memperkenalkan konsep Jalan Tengah. Menurutnya, jalan ini menghindarkan manusia dari dua kutub ekstrem, yakni pemanjaan nafsu indria dan penyiksaan diri. "Jalan Tengah yang dimaksud Buddha adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar," ungkapnya.

Lebih lanjut, penyuluh Kemenag ini menguraikan Empat Kebenaran Mulia yang membedah akar penderitaan serta solusinya. Ia menegaskan bahwa ketidakpuasan dan kekecewaan berawal dari kehausan batin atau tanha yang selalu menuntut kepuasan sementara. "Dhamma Buddha tidak berhenti dengan mengatakan bahwa kehidupan mengandung penderitaan. Ada kabar yang jauh lebih penting: penderitaan dapat berakhir," tegas Rudy.

Dalam penyampaiannya, Rudy juga menyoroti kerangka tiga fase dan 12 aspek yang melengkapi pemahaman Empat Kebenaran Mulia. Konsep tersebut menuntut setiap insan untuk tidak sekadar paham teori, tetapi bertindak nyata sampai ajaran tersebut terealisasi. Keberhasilan penyampaian ajaran ini terbukti sejarah ketika Koṇḍañña meraih pencerahan awal dan memahami bahwa segala sesuatu yang muncul pasti akan berakhir.

Rudy mengingatkan bahwa pemutaran Roda Dhamma harus relevan dengan dinamika kehidupan modern. Ketika seseorang mengalami kemarahan, kekecewaan, atau perubahan situasi yang tidak menyenangkan, ajaran Dhamma hadir sebagai panduan moral untuk mengendalikan batin dan bertindak bijaksana. Praktik-praktik sederhana seperti menjaga ucapan dan perbuatan merupakan wujud nyata pemutaran Roda Dhamma di era sekarang.

Menutup siarannya, ia mengajak umat Buddha untuk melangkah secara bertahap dalam melatih kesadaran diri dan menumbuhkan cinta kasih. "Dhamma bukan sekadar untuk didengar atau dibaca, tetapi untuk dipahami, dipraktikkan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari," tutur Rudy di penghujung pesan keagamaannya.

Melalui pesan tersebut, Kementerian Agama Kota Tarakan berharap siaran Mimbar Agama Buddha ini dapat memperkuat nilai-nilai toleransi, kebijaksanaan, dan kedamaian batin bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan menjadikan Dhamma sebagai penerang langkah, setiap individu diharapkan mampu menghadapi perubahan hidup dengan sabar dan tenang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....