Dukung Proyek Shortcut Mengwitani-Singaraja, Warga Pegayaman Gelar Doa Tolak Bala

  • 01 Okt 2026 10:11 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Ratusan warga Desa Pegayaman menggelar tradisi doa tolak bala di salah satu titik lokasi proyek jalan pintas Mengwitani-Singaraja untuk memohon keselamatan.
  • Ritual dipimpin langsung oleh Penghulu Imam Desa Pegayaman H. Abdul Gofar Ismail dengan kehadiran penglingsir, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, dan perwakilan pelaksana proyek.
  • Prosesi doa ini merupakan respons terhadap fenomena kesurupan yang menimpa sejumlah siswa sekolah dasar di daerah tersebut belakangan ini.

RRI.CO.ID, Singaraja - Ratusan warga Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, Bali, menggelar tradisi doa tolak bala di salah satu titik lokasi proyek jalan pintas (shortcut) Mengwitani-Singaraja yang menghubungkan Bali Selatan dan Bali Utara guna memohon keselamatan sekaligus merespons keresahan masyarakat atas fenomena kesurupan yang menimpa sejumlah siswa sekolah dasar (SD) belakangan ini.

Ritual yang dipusatkan di Banjar Dinas Kubu, Desa Pegayaman, itu dipimpin langsung oleh Penghulu Imam Desa Pegayaman, H. Abdul Gofar Ismail. Turut hadir dalam prosesi tersebut para penglingsir, tokoh masyarakat, tenaga pendidik, serta perwakilan pelaksana proyek.

"Dengan tolak bala ini, mudah-mudahan kita semua, baik warga sekitar maupun para pekerja proyek, senantiasa diberikan keselamatan dan kesehatan," kata Abdul Gofar, Rabu, 30 September 2026.

Dalam pelaksanaannya, prosesi diwarnai dengan pembentukan formasi warga yang menghadap ke berbagai penjuru mata angin. Ratusan warga kemudian mengumandangkan adzan secara serentak yang menggema di kawasan perbukitan, sebelum dilanjutkan dengan pembacaan doa tolak bala.

Setelah itu, warga melakukan prosesi berjalan kaki melintasi medan terjal yang menanjak dan menurun menuju beberapa titik proyek lainnya sambil terus melantunkan kalimat tahlil. Di setiap titik perhentian, kumandang adzan dan doa tolak bala kembali diulang hingga prosesi berakhir di Musholla Misbahul Busthan, Banjar Dinas Kubu.

Tokoh masyarakat sekaligus pemerhati Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan respons dari Adat Kepenghuluan Pegayaman dan aparatur desa guna memulihkan kondisi psikologis warga.

"Tolak bala ini dilaksanakan terkait keresahan masyarakat karena adanya kejadian kerauhan atau kesurupan pada anak-anak SD. Tujuan utamanya semata-mata untuk mendukung proyek (shortcut) ini agar berjalan dengan baik dan lancar, tanpa ada lagi insiden kesurupan," ujar Suharto.

Suharto menegaskan bahwa ritual adat ini sama sekali bukan bentuk perlawanan warga terhadap program pembangunan infrastruktur dari pemerintah. Sebaliknya, hal ini merupakan wujud kearifan lokal masyarakat Pegayaman dalam menyelaraskan pembangunan fisik dengan keseimbangan lingkungan secara spiritual.

"Kami warga Pegayaman punya cara sendiri melalui adat kami. Kami ingin warga tenang dan proyek pemerintah berjalan lancar tanpa risiko gangguan. Kegiatan ini juga dikomunikasikan dan didukung penuh oleh pihak pelaksana proyek," ucapnya menegaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....