24 Ribu Telur untuk Maulid Nabi, Pajegan Sokok Perekat Persaudaraan Warga

  • 26 Agt 2026 15:23 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Sebanyak 24 ribu butir telur digunakan sebagai pajegan sokok dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali pada Rabu 26 Agustus 2026. Ribuan telur tersebut dihias dan ditata dalam bentuk pajegan sebagai salah satu tradisi khas masyarakat muslim Desa Pegayaman yang terus dipertahankan setiap perayaan Maulid Nabi.

Pajegan Sokok Telur yang diletakan di depan rumah warga pegayaman, Rabu, 26 Agustus 2026. (Foto: RRI/ Riska Desiandra).

Pajegan sokok bukan sekadar ornamen dalam perayaan keagamaan. Telur yang telah dihias dan disusun tersebut nantinya akan disedekahkan kepada anak-anak serta masyarakat. Tradisi ini menjadi bagian dari semangat berbagi sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga dalam momentum peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ketua Panitia Maulid Nabi Desa Pegayaman, Abdul Manaf, mengatakan rangkaian peringatan Maulid Nabi telah berlangsung sejak 13 Agustus dan mencapai puncaknya pada 26 Agustus 2026. Beragam kegiatan digelar, mulai dari wiridan di masjid, pekan lomba Maulid, parade hadrah dan burdah, muludan tanggal akut, rotibul haddad dan hiziban, hingga kegiatan gotong royong pemasangan ambu.

“Rangkaian kegiatan ini sudah dimulai sejak 13 Agustus. Puncaknya hari ini, dan pajegan sokok menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi Maulid di Pegayaman,” ujar Abdul Manaf.

Perbekel Desa Pegayaman, A. Asyghor Ali atau Agus Asyghor Ali, menyebut seluruh rangkaian Maulid Nabi merupakan bentuk rasa syukur masyarakat. Menurutnya, tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang untuk memperkuat kebersamaan masyarakat Pegayaman.

“Ini merupakan wujud syukur masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, berbagi, dan mempererat persaudaraan,” kata Agus Asyghor Ali.

Setelah puncak peringatan, rangkaian Maulid Nabi di Desa Pegayaman masih berlanjut hingga 29 Agustus melalui kegiatan Manis Muludan yang diisi atraksi pencak silat. Tradisi tersebut menunjukkan bagaimana peringatan Maulid Nabi di Pegayaman tidak hanya menghadirkan nuansa religius, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga budaya, gotong royong, berbagi, dan memperkuat identitas masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....