Balinese ECARY Dorong Guru Buleleng Ciptakan Kelas Inggris Lebih Seru
- 21 Agt 2026 14:02 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat sekolah dasar mulai diarahkan untuk tidak sekadar mengejar penguasaan materi. Guru didorong menciptakan proses belajar yang membuat siswa lebih nyaman, aktif, dan berani menggunakan Bahasa Inggris secara lisan.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Balinese ECARY di SDS Lab Undiksha Singaraja yang melibatkan 23 guru. Program yang berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026 ini berfokus pada penguatan kapasitas guru dalam menerapkan joyful learning, terutama untuk menstimulasi kemampuan berbicara Bahasa Inggris siswa melalui strategi kreatif dan media yang sesuai dengan karakteristik anak sekolah dasar.
Program tersebut melibatkan Kepala SDS Lab Undiksha Putu Sukma Andreani, M.Pd., Gr., guru Bahasa Inggris, serta guru kelas. Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan, praktik pembelajaran, implementasi di kelas hingga evaluasi melalui post-test.
Kegiatan diawali pada 13 Juli 2026 melalui pembukaan dan sosialisasi Balinese ECARY. Kepala sekolah dan guru mendapatkan penjelasan mengenai tujuan, ruang lingkup, manfaat serta mekanisme program, sekaligus mengikuti pre-test untuk memetakan kondisi awal. Pada hari yang sama, penguatan materi diberikan melalui pemaparan bertajuk “Transformasi Pembelajaran Bahasa Inggris melalui Media Digital: Mewujudkan Joyful Learning untuk Mendukung Perkembangan Komunikasi Anak” oleh Dr. A.A. Ngurah Yudha Martin Mahardika, S.Pd., M.Pd. Pemanfaatan media digital dalam pembelajaran menjadi salah satu perhatian dalam program tersebut. Guru tidak hanya diarahkan menyampaikan materi, tetapi juga merancang aktivitas yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berkomunikasi secara aktif. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi pembelajaran yang monoton dan membuka lebih banyak ruang bagi siswa untuk mencoba berbicara Bahasa Inggris.
Tahapan berikutnya berlangsung pada 15 Juli 2026 melalui pelatihan dan pendampingan guru. Peserta mendapat penguatan mengenai prinsip joyful learning, strategi stimulasi kemampuan speaking, serta penggunaan media Balinese ECARY. Pelatihan juga dilakukan melalui simulasi agar guru dapat langsung mencoba strategi yang nantinya diterapkan di kelas.
Materi “Empowering Teachers: Transforming English Classrooms through Joyful Learning” disampaikan oleh Dr. I Wayan Swandana, S.S., M.Hum. Penguatan tersebut menitikberatkan pada kapasitas guru dalam mengembangkan kelas Bahasa Inggris yang lebih interaktif sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk membangun keberanian menggunakan Bahasa Inggris, ujarnya.
Implementasi awal kemudian dilakukan pada 30 Juli 2026. Guru mulai menerapkan strategi dan media yang diperoleh selama pelatihan dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Pendampingan kembali dilakukan pada 3 Agustus 2026 melalui perencanaan pembelajaran, termasuk integrasi Balinese ECARY ke dalam modul ajar dan perangkat pembelajaran.
Pada tahap tersebut, materi “Building Confident Communicators: Creating Positive Learning Environments for Speaking Development” disampaikan Septia Rahmawati, M.Pd. Materi tersebut menekankan pentingnya lingkungan belajar yang positif sebagai dasar untuk membangun kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris. Program dilanjutkan dengan implementasi pada 7 Agustus 2026 yang sekaligus menjadi tahap post-test dan penutupan. Hasil evaluasi menunjukkan perubahan pada kesiapan guru maupun keberanian siswa. Sebelum program, hanya 30 persen guru yang memiliki acuan pembelajaran kreatif secara terstruktur, sedangkan setelah mendapatkan panduan dan pendampingan implementasi angkanya meningkat menjadi 82 persen. Perubahan serupa terlihat dari keberanian siswa menggunakan Bahasa Inggris secara lisan. Jika sebelumnya hanya 35 persen siswa yang berani menggunakan Bahasa Inggris secara lisan di kelas, setelah program persentasenya meningkat menjadi 82 persen.
Kepala SDS Lab Undiksha, Putu Sukma Andreani, M.Pd., Gr., menilai program tersebut memberikan pengalaman baru bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakteristik siswa. Menurutnya, guru tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba dan menerapkan strategi secara langsung di kelas.
“Program ini memberikan pengalaman baru bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih menyenangkan. Guru tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mendapatkan pendampingan untuk mencoba dan menerapkannya langsung dalam pembelajaran,” ujarnya pada Kamis, 20 AGustus 2026.
Menurut Putu Sukma Andreani, pendampingan menjadi bagian penting karena guru membutuhkan contoh serta praktik nyata agar strategi yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada pemahaman materi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat terus digunakan dalam pembelajaran sehari-hari. “Yang kami harapkan bukan hanya kegiatan pelatihannya selesai, tetapi guru dapat terus menggunakan pendekatan dan media yang sudah dipelajari sehingga anak semakin percaya diri untuk berbicara Bahasa Inggris,” tambahnya.
Respons terhadap program juga datang dari guru peserta. Salah seorang guru mengaku pendekatan yang diperkenalkan memberikan alternatif untuk mengembangkan kegiatan speaking yang dapat melibatkan lebih banyak siswa dalam proses pembelajaran. “Sebelumnya kami terkadang masih kesulitan membuat kegiatan speaking yang dapat melibatkan semua siswa. Melalui pendampingan ini, kami mendapatkan ide dan contoh kegiatan yang lebih menyenangkan sehingga siswa lebih berani untuk mencoba berbicara,” ungkapnya. Menurutnya, penggunaan media dan aktivitas yang lebih interaktif turut memengaruhi keterlibatan siswa selama pembelajaran. Siswa dinilai lebih berani mencoba menggunakan Bahasa Inggris karena kegiatan belajar dibuat lebih santai dan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi. “Anak-anak menjadi lebih aktif dan tidak terlalu takut ketika diminta berbicara Bahasa Inggris. Mereka lebih berani mencoba karena suasana pembelajarannya dibuat lebih santai dan menyenangkan,” jelasnya.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan joyful learning dapat digunakan untuk memberikan ruang belajar yang lebih nyaman bagi siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar, keberanian berbicara menjadi bagian penting karena siswa membutuhkan kesempatan untuk berlatih tanpa tekanan ketika melakukan kesalahan. Pelaksanaan Balinese ECARY juga menempatkan guru sebagai bagian utama dalam keberlanjutan program. Penguatan tidak hanya diberikan melalui pelatihan, tetapi diteruskan dengan praktik, pendampingan dan evaluasi sehingga guru memiliki pengalaman dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual.
Program ini dilaksanakan berdasarkan Nomor Kontrak Induk 182/C3/DT.05.00/PM/2026 dan Nomor Kontrak Turunan 293/UN48.16/PM.01.01/2026. Dengan peningkatan kapasitas guru dari 30 persen menjadi 82 persen serta keberanian siswa menggunakan Bahasa Inggris secara lisan dari 35 persen menjadi 82 persen, Balinese ECARY menunjukkan hasil yang terukur pada pelaksanaan program. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar strategi tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan program, tetapi menjadi bagian dari praktik pembelajaran Bahasa Inggris di SDS Lab Undiksha secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....