Bulfest 2026 Hidupkan Kembali Jejak Singaraja Lewat Kuliner Tempo Dulu

  • 15 Agt 2026 19:16 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Buleleng Festival (Bulfest) 2026 tidak hanya disiapkan sebagai agenda hiburan tahunan. Pemerintah Kabupaten Buleleng membawa festival yang digelar 18–23 Agustus 2026 itu ke dalam konsep nostalgia untuk mengangkat kembali sejarah Singaraja sebagai kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan di Bali Utara.

Mengusung tema “Uriping Rasa”, Bulfest tahun ini mengajak masyarakat dan wisatawan mengenal kembali identitas Buleleng melalui sejarah, seni, kuliner, serta kehidupan masyarakat masa lalu. Konsep tersebut akan dipusatkan di sejumlah kawasan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah Singaraja, sehingga festival tidak hanya menawarkan pertunjukan, tetapi juga pengalaman mengenal wajah kota pada masa lampau.

Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra, Sp.OG mengatakan, Bulfest 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kembali kebanggaan masyarakat terhadap sejarah daerah. Menurutnya, perjalanan panjang Buleleng sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan menjadi bagian penting yang perlu terus dikenalkan kepada generasi saat ini.

“Buleleng ini memiliki rekam jejak yang sangat kuat sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, dan kebudayaan masa lalu. Melalui Bulfest 2026, kami tidak hanya menghadirkan nuansa fisik kota lama, tetapi menyalakan kembali 'Uriping Rasa'—rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa cinta terhadap warisan leluhur. Kami mengundang seluruh masyarakat untuk merasakan kembali romantisme Singaraja tempo dulu,” ujarnya saat bertatap muka pada awak media Jumat, 14 Agustus 2026.

Konsep tersebut akan terasa kuat di Zona A atau Area Buleleng Tempo Dulu, mulai dari Tugu Singa Ambara Raja, Jalan Ngurah Rai, Gedung Laksmi Graha hingga kawasan bersejarah Soenda Ketjil. Pengunjung akan menemukan bioskop tempo dulu, pasar tradisional rakyat, permainan anak masa lampau, parade seni jalanan, hingga kuliner legendaris khas Bali Utara yang ditampilkan dengan konsep etalase bergaya vintage.

Tidak hanya mengandalkan sejarah dan kuliner, Bulfest 2026 juga diarahkan untuk memberikan ruang bagi pelaku ekonomi lokal. Sebanyak 105 UMKM terkurasi akan terlibat, mencakup kuliner, kriya, fesyen dan berbagai produk ekonomi kreatif, sementara kawasan festival dibagi menjadi tiga zona, yakni heritage tempo dulu, creative space anak muda, serta zona budaya berkelanjutan.

Ketua Panitia Bulfest 2026, Putu Ariadi Pribadi, mengatakan keterlibatan UMKM dan pegiat seni menjadi bagian penting dalam konsep festival tahun ini. Penataan lapak di kawasan sejarah juga disesuaikan dengan tema agar pengunjung mendapatkan pengalaman yang lebih utuh saat menikmati berbagai sajian dan produk lokal.

“Kami membagi festival ke dalam tiga zona terpadu, mulai dari kawasan heritage tempo dulu, zona creative space anak muda, hingga zona budaya berkelanjutan. Seluruh lapak UMKM di zona sejarah didesain dengan estetika vintage agar selaras dengan narasi Buleleng masa lalu,” ujar Ariadi.

Dari sisi seni pertunjukan, lebih dari 60 kelompok kesenian daerah dan musik modern dijadwalkan ambil bagian dalam Bulfest 2026. Sejumlah pementasan kolosal seperti Tari Trunajaya, Wiranjaya dan Palawakya akan melibatkan ratusan penari dari berbagai sanggar, berdampingan dengan gong kebyar, drama gong serta penampilan KLa Project, Dialog Dini Hari, Lolot dan White Swan.

Untuk mendukung kelancaran kegiatan selama enam hari, sekitar 200 personel keamanan gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Satpol PP dan Pecalang disiapkan setiap hari. Dinas Perhubungan Buleleng bersama Polres Buleleng dan Desa Adat Buleleng juga menyiapkan rekayasa lalu lintas serta sejumlah kantong parkir untuk mengantisipasi kepadatan di sekitar lokasi festival.

Dengan perpaduan sejarah, kuliner, seni dan keterlibatan UMKM, Bulfest 2026 diarahkan tidak berhenti pada perayaan semata. Festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali jejak Singaraja sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal, dengan kawasan kota tua sebagai salah satu titik utama pengalaman festival.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....