Senam Senang Hati, Inovasi Undiksha Perkuat Ketahanan Mental dan Regulasi Emosi

  • 14 Agt 2026 13:57 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja meluncurkan program inovasi 'Senam Senang Hati' yang menggabungkan aktivitas fisik dengan kesadaran emosi untuk memperkuat ketahanan mental siswa sekolah dasar.
  • Program ini dikembangkan melalui pengabdian kepada masyarakat bersama SDN 2 Sari Mekar, Kabupaten Buleleng, Bali, yang memiliki 125 peserta didik di enam jenjang kelas.
  • Senam Senang Hati dirancang sebagai media pembelajaran kinetik yang mengintegrasikan latihan pernapasan, afirmasi positif, dan refleksi untuk membantu siswa mengenali emosi dan melatih regulasi respons terhadap berbagai situasi.

RRI.CO.ID, Singaraja - Aktivitas senam di sekolah selama ini lebih banyak dikenal sebagai kegiatan untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, melalui program pengabdian kepada masyarakat, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menghadirkan pendekatan berbeda melalui 'Senam Senang Hati', sebuah inovasi senam berbasis kesadaran emosi yang dirancang untuk membantu memperkuat ketahanan mental dan kemampuan regulasi emosi siswa sekolah dasar. Program tersebut dilaksanakan bersama SDN 2 Sari Mekar, Kabupaten Buleleng, Bali, dengan memadukan aktivitas fisik, kesadaran emosi, latihan pernapasan, afirmasi positif, serta refleksi sederhana dalam satu rangkaian kegiatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik anak.

Pengembangan Senam Senang Hati berangkat dari kebutuhan untuk memperkuat aspek sosial dan emosional siswa di lingkungan sekolah. SDN 2 Sari Mekar memiliki 125 peserta didik yang tersebar pada enam jenjang kelas dan didukung oleh 12 orang guru. Kondisi tersebut menempatkan sekolah sebagai ruang strategis untuk menghadirkan pembelajaran sosial-emosional yang kontekstual, menyenangkan, sekaligus dapat diterapkan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, Senam Senang Hati tidak dirancang sebagai senam biasa. Program ini dikembangkan sebagai media pembelajaran kinetik berbasis kesadaran emosi, sehingga aktivitas fisik menjadi sarana bagi siswa untuk belajar mengenali kondisi dirinya, memahami emosi, dan melatih kemampuan mengelola respons terhadap berbagai situasi.

Tim pengabdian Undiksha bersama guru SDN 2 Sari Mekar dalam kegiatan
sosialisasi program Senam Senang Hati (Foto: Dok. undiksha)

Program Pengabdian yang dilaksanakan pada April hingga Desember 2026 ini berlangsung dalam lima tahapan utama, yaitu:

Sosialisasi program.

Tahap awal dilakukan melalui pengenalan program kepada pihak sekolah, khususnya guru dan pihak terkait. Pada tahap ini disampaikan konsep, tujuan, manfaat, serta urgensi penguatan regulasi emosi dan ketahanan mental siswa melalui aktivitas fisik yang terintegrasi dengan pembelajaran sosial-emosional.

Pelatihan dan praktik Senam Senang Hati.

Guru dan siswa diperkenalkan pada konsep sekaligus praktik Senam Senang Hati. Gerakan senam dipadukan dengan latihan kesadaran diri, teknik pernapasan, afirmasi positif, serta aktivitas yang mendorong siswa mengenali dan mengekspresikan emosinya secara tepat.

Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif. Siswa tidak hanya mengikuti instruksi gerakan, tetapi juga diajak memahami makna dari aktivitas yang dilakukan. Pendekatan ini diharapkan membuat proses penguatan karakter dan regulasi emosi menjadi lebih konkret karena dialami langsung oleh siswa melalui gerak tubuh.

Penerapan teknologi dan media inovatif.

Program Senam Senang Hati juga didukung oleh pemanfaatan teknologi. Tim menyediakan video instruksional sebagai panduan visual bagi guru dan siswa, serta mengembangkan modul dalam bentuk cetak dan digital. Pemanfaatan QR Code turut digunakan untuk memudahkan akses terhadap media pendukung program.

Teknologi tersebut juga diarahkan untuk membantu siswa mengenali kondisi emosinya melalui instrumen pemantauan sederhana yang dikembangkan dalam program. Dengan demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai tujuan utama, tetapi sebagai sarana untuk membuat program lebih mudah digunakan, diakses, dan dilanjutkan oleh sekolah.

Pendampingan dan evaluasi.

Setelah pelatihan, guru mendapatkan pendampingan dalam menerapkan Senam Senang Hati di lingkungan sekolah. Pendampingan dilakukan agar guru tidak hanya memahami gerakan, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai kesadaran emosi dan regulasi diri dalam pelaksanaan kegiatan. Evaluasi program dilakukan melalui observasi, survei, wawancara, dan pengamatan terhadap penerapan Senam Senang Hati. Evaluasi diarahkan untuk melihat pemahaman peserta, pengalaman selama kegiatan, serta perkembangan penerapan program dalam mendukung regulasi emosi dan ketahanan mental siswa.

Tindak lanjut dan keberlanjutan program.

Tahap terakhir diarahkan pada penyusunan rencana tindak lanjut bersama pihak sekolah. Program tidak diharapkan berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi dapat diterapkan sebagai bagian dari pembiasaan di sekolah. Guru diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu melanjutkan penerapan Senam Senang Hati dalam kegiatan pembelajaran maupun aktivitas pembiasaan sehari-hari.

Siswa mempraktikkan gerakan Senam Senang Hati bersama fasilitator (Foto: Dok. Undiksha)

Keunikan Senam Senang Hati terletak pada upaya menghubungkan aktivitas fisik dengan pembelajaran sosial-emosional. Siswa diajak memahami bahwa ketika merasa marah, sedih, cemas, atau tidak nyaman, mereka dapat belajar mengenali perasaan tersebut dan meresponsnya dengan cara yang lebih positif.

Gerakan fisik menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran terhadap tubuh dan emosi. Sementara itu, afirmasi positif dan latihan pernapasan digunakan untuk membantu siswa membangun suasana diri yang lebih tenang dan siap mengikuti pembelajaran. Dengan pendekatan tersebut, senam tidak lagi sekadar menjadi kegiatan rutin, tetapi dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak untuk mengenal dirinya sendiri.

Program pengabdian ini melibatkan tim dosen Undiksha dengan kompetensi yang saling melengkapi. Kadek Yogi Parta Lesmana berperan pada aspek olahraga dan kesehatan jasmani, Dewi Arum Widhiyanti Metra Putri pada bidang bimbingan konseling, kesehatan mental, dan regulasi emosi, sedangkan Fatimatuz Zahrah berkontribusi dalam aspek regulasi emosi, pendidikan karakter, serta pengembangan media pendukung program. Keterlibatan mahasiswa juga mendukung pelaksanaan kegiatan, khususnya dalam asistensi lapangan, pendampingan peserta, dokumentasi, administrasi, serta pengelolaan media kegiatan.

Melalui program ini, Senam Senang Hati diharapkan dapat menjadi alternatif kegiatan sederhana, menyenangkan, dan mudah diterapkan untuk mendukung perkembangan sosial-emosional siswa. Program menargetkan sedikitnya 85 persen siswa sasaran mampu menunjukkan kemampuan regulasi emosi dan ketahanan mental yang lebih baik, serta seluruh kelas di SDN 2 Sari Mekar memiliki akses terhadap media digital berupa video dan QR Code Senam Senang Hati.

Selain itu, sekolah diharapkan memiliki modul Senam Senang Hati yang dapat digunakan oleh guru, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Media tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan program setelah rangkaian pengabdian selesai.

Pada akhirnya, Senam Senang Hati tidak hanya mengajak anak bergerak, tetapi juga mengajak mereka mengenali apa yang dirasakan. Melalui gerakan, pernapasan, afirmasi, dan refleksi, siswa belajar bahwa menjaga kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh yang aktif, tetapi juga dengan kemampuan memahami dan mengelola emosi. Program ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang lebih holistik, pendidikan yang tidak hanya memperhatikan capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kesehatan emosional, dan ketahanan mentalanak sejak usia sekolah dasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....