Refleksi Ajaran Slokantara dalam Pergaulan Remaja
- 14 Agt 2026 12:38 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi media sosial, remaja masa kini menghadapi tantangan psikologis yang kian berat, salah satunya adalah peer pressure atau tekanan sosial atau dorongan dari teman sebaya. Keinginan kuat untuk diakui dalam kelompok sering kali mengaburkan batasan antara hal positif dan negatif. Ketakutan dicap sebagai anak yang cupu atau kurang pergaulan (kuper) kerap menjadi pemicu utama yang menjerumuskan generasi muda ke dalam lingkaran pertemanan yang tidak sehat.
Menghadapi fenomena global ini, Kitab Slokantara salah satu teks kesusastraan Jawa Kuno berbentuk Nibanda (kitab hukum atau ulasan moral dengan 84 sloka) memberikan tuntunan etika dan susila dalam menentukan arah hubungan sosial.
Dalam kajian etika pergaulan yang termuat dalam Kitab Slokantara, karakter dan masa depan seseorang ditegaskan sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempatnya berinteraksi sehari-hari. Konsep ini dikenal erat dalam pembahasan mengenai sangsarga atau pergaulan atu interaksi sosial yang secara spesifik mengingatkan bahaya bergaul dengan pribadi yang berkarakter buruk.
Kitab Slokantara dengan tegas mengingatkan bahwa lingkungan sosial menentukan nasib seseorang. Bergaul dengan figur berbudi luhur (sadhujana) akan menularkan kebajikan, sedangkan kedekatan dengan karakter buruk hanya akan bermuara pada penderitaan. Slokantara Sloka 6 memetakan lima ciri ideal teman penuntun hidup: taat hukum agama (dharma), mampu mengendalikan amarah, rendah hati, berilmu, dan setia pada pasangan.
Selaras dengan itu, Sarasamuscaya Sloka 300 memperkuat pentingnya memilih lingkaran pergaulan lewat metafora bunga. Layaknya keharuman kelopak yang berpindah ke benda di sekitarnya. Ajaran ini memberikan perumpamaan bahwa kedekatan dengan individu yang utama akan membawa pengaruh baik, layaknya tanah yang tertular aroma bunga.
Di era modern saat ini, peer pressure tidak lagi hanya terjadi di ruang kelas atau tongkrongan fisik, melainkan telah merambah ke dunia maya. Tekanan untuk mengikuti tren negatif, mulai dari gaya hidup hedonistik, perundungan siber (cyberbullying), hingga perilaku menyimpang lainnya, menjadi ujian nyata bagi integritas remaja.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai etika Slokantara menjadi benteng pertahanan mental. Melalui pemahaman ajaran ini, remaja diajak untuk tidak sekadar menjadi pengikut arus, melainkan berani mengambil sikap selektif.
Menjaga diri dari pengaruh buruk pergaulan bukan berarti menutup diri dari sosialisasi, melainkan membangun kecerdasan emosional dan sosial untuk berani berkata tidak pada hal-hal yang merugikan masa depan. Dengan membentengi diri menggunakan prinsip moral yang kokoh, generasi muda diharapkan mampu mempertahankan kemurnian jati dirinya, tetap jernih di tengah lingkungan yang mungkin penuh dengan lumpur negatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....