Bukan Sekadar Estetika, Ini Makna Meru dalam Arsitektur Pura di Bali

  • 31 Jul 2026 15:32 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Bangunan Pelinggih meru dengan atap tumpang berbahan ijuk hitam yang menjulang tinggi selalu menjadi ikon visual yang magis di setiap pura di Bali. Namun, di balik keindahan arsitektur tradisional tersebut, meru menyimpan landasan teologi dan kosmologi yang sangat mendalam bagi umat Hindu, yang tertuang dalam teks-teks sastra suci kuno (lontar).

Meru secara fisik dibentuk menyerupai gunung bertingkat. Struktur ini merupakan tiruan dari Gunung Mahameru yang dipercaya sebagai pusat kosmos, sekaligus tempat bersemayamnya para Dewata dan roh suci leluhur yang telah disucikan.

Berdasarkan tulisan Ketut Wiana di laman Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), (https://www.phdi.parisada.or.id/artikel.php?id=makna-meru-bagi-tahapan-kehidupan-di-bumi) keberadaan meru bukan sekadar dekorasi bertingkat, melainkan simbolisasi visual dari hukum alam semesta dan aksara suci.

Dalam tulisan tersebut, terdapat kutipan Lontar Andha Bhuwana yang menyatakan bahwa: "Meru ngaran pratiwimba Andha Bhuwana. Pawangunan pelinggih makadi meru muang candi, juga pratiwimba saking pengelukunan wijaksara dasaksara mewastu manunggal dadi Om."

Kutipan tersebut menegaskan dua makna utama meru, yaitu:

1. Pratiwimba Andha Bhuwana: Meru merupakan replika atau simbolisasi nyata dari makrokosmos (alam semesta) beserta seluruh lapisan dunianya (Sapta Loka dan Sapta Patala).

2. Pengelukunan Dasaksara: Tingkatan atap meru yang ganjil (3 hingga 11 tingkat) melambangkan proses penyatuan sepuluh aksara suci (Dasaksara) menjadi satu aksara tunggal yang mahasuci, yaitu Om (Pranawa).

Melalui struktur atapnya yang mengecil ke atas, meru menuntun pikiran umat untuk fokus menuju satu titik kesadaran rohani yang tertinggi. Perbedaan jumlah tingkatan (tumpang) atap ditentukan secara ketat oleh manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang dipuja di dalamnya:

Tumpang Tiga: Digunakan sebagai simbol Tri Purusa (Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa) atau penguasa tiga gunung utama di Bali.

Tumpang Sembilan: Menjadi stana suci bagi Dewata Nawasanga (sembilan dewa penjuru mata angin).

Tumpang Sebelas: Merupakan meru tertinggi yang dibangun khusus untuk memuja kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk Dewa Siwa Lingga atau Panca Dewata.

Pelestarian meru bukan sekadar merawat bangunan fisik kayu dan ijuknya, melainkan juga menjaga nilai spiritualitas yang menyelaraskan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....