Krishna Candaka Abinawa Tampil Memikat di PKB 2026

  • 20 Jun 2026 11:50 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara – Duta Baleganjur Remaja Kabupaten Jembrana kembali mencuri perhatian pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis 19 Juni 2026, Sekaa Baleganjur Krishna Candaka Abinawa dari Sanggar Seni Arsa Wijaya, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, menghadirkan pertunjukan yang memadukan kekuatan musikal, dramatika, dan pesan reflektif.

Penampilan yang turut disaksikan Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan itu membawakan karya baleganjur kontemporer berjudul “Atma Kerti”. Garapan tersebut terinspirasi dari tradisi Ngajum Sekah, prosesi merias dan menyusun puspa lingga sebagai simbol atma atau roh dalam rangka penghormatan kepada Sang Pitara menuju kesempurnaan jiwa.

Tidak hanya mengangkat makna ritualnya, karya ini juga menyoroti pemaknaan lain yang berkembang di masyarakat. Istilah Ngajum Sekah kerap digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang yang gemar mempercantik citra diri, menonjolkan kehormatan, hingga mempertontonkan ego. Dualitas makna itulah yang menjadi landasan utama garapan “Atma Kerti”.

Melalui rangkaian monolog yang menyatu dengan pertunjukan, penonton diajak merenungkan hubungan antara penghormatan, simbol, dan kesadaran manusia. Narasi yang disampaikan juga menyinggung berbagai persoalan sosial dan lingkungan yang kian terasa dalam kehidupan sehari-hari.

“Sungai dipenuhi sampah, hutan perlahan menghilang, laut mengembalikan apa yang kita buang, ruang hidup semakin sesak, jalan-jalan semakin padat, dan manusia semakin terburu-buru,” demikian salah satu penggalan narasi yang mengiringi pertunjukan.

Pertunjukan tersebut mengajak publik mempertanyakan kembali hakikat penghormatan yang sesungguhnya. Apakah manusia saat ini memuliakan kesadaran yang hidup dalam dirinya, atau justru lebih sibuk merayakan simbol-simbol yang tampak di permukaan.

Dari sisi musikalitas, gagasan Ngajum Sekah diterjemahkan melalui metode Mayasin atau merias gending. Unsur melodi, tempo, ritme, dan sukat dikembangkan dengan berbagai ornamentasi yang semakin kompleks. Konsep itu menggambarkan proses menghias puspa lingga dalam ritual Ngajum Sekah yang terus diperkaya dengan beragam elemen estetis.

Menariknya, garapan ini juga memasukkan idiom dan karakter permainan Jegog khas Jembrana. Kehadiran unsur tersebut tidak hanya mempertegas identitas daerah, tetapi juga menjadi simbol bagaimana rasa bangga dan penghormatan kerap berjalan berdampingan dengan dorongan ego manusia.

Dengan konsep artistik yang kuat, komposisi musik yang dinamis, serta koreografi yang mendukung alur pertunjukan, Krishna Candaka Abinawa berhasil menyajikan sajian baleganjur yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang kehidupan, kesadaran, dan nilai kemanusiaan.

Karya “Atma Kerti” digarap oleh tim kreatif yang terdiri atas Gede Yogi Sukawidjana sebagai konseptor, I Kadek Widyawan dan Gede Yogi Sukawidjana sebagai komposer, serta Agus Onek sebagai koreografer. Adapun pembina sekaa adalah Toedi Pande dan Bagas Suradinata, dengan I Wayan Sudiartawan sebagai koordinator sekaa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....