Praja Mandala Singa Ambara Raja, Begini Arti Nama Baru Kawasan Titik Nol Singaraja
- 29 Jul 2026 22:03 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Pemerintah Kabupaten Buleleng telah menetapkan nama baru untuk Kawasan Titik Nol Singaraja menjadi 'Praja Mandala Singa Ambara Raja' melalui upacara melaspas pada Rabu, 29 Juli 2026.
- Nama terbaik ini dipilih dari 868 usulan nama yang dikirimkan oleh masyarakat Singaraja setelah melalui proses seleksi yang ketat.
- Nama 'Praja Mandala Singa Ambara Raja' diusulkan oleh Kadek Dika Wirawan, seorang mahasiswa dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja.
RRI.CO.ID, Singaraja - Nama baru bagi Kawasan Titik Nol Singaraja telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng bersamaan dengan upacara melaspas kawasan Titik Nol pada hari Rabu, 29 Juli 2026 usai menyisihkan ratusan usulan. Dari sekitar 868 usulan nama yang dikirimkan oleh masyarakat, telah terpilih satu nama terbaik yang akan menjadi identitas Titik Nol Kota Singaraja.
'Praja Mandala Singa Ambara Raja' merupakan nama yang dipilih sebagai identitas baru kawasan yang menjadi salah satu titik penting di pusat Kota Singaraja. Diketahui nama baru itu diusulkan oleh Kadek Dika Wirawan, seorang mahasiswa dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja.
Berdasarkan laman Pemkab Buleleng, penamaan Praja Mandala Singa Ambara Raja adalah hasil dari proses bertukar pikiran serta pendalaman sejarah bersama para Penglingsir (tetua) Puri se-Buleleng. Hal itu sebagai upaya menghadirkan identitas kawasan pusat pemerintahan yang berakar pada nilai sejarah, budaya dan kearifan lokal Buleleng.
Bukan sekadar sebuah nama, Praja Mandala Singa Ambara Raja adalah simbol identitas, sejarah dan arah masa depan Buleleng. Berlandaskan semangat kepemimpinan Panji Sakti, nama ini merepresentasikan pusat pemerintahan yang berwibawa, berorientasi pada pelayanan, serta menjadi penggerak pembangunan yang visioner, kuat, dan mengayomi masyarakat.
Setiap kata pun mengandung makna mendalam. Praja melambangkan pemerintahan dan rakyat sedangkan Mandala sebagai pusat aktivitas dan pembangunan,
Sementara itu Singa menggambarkan keberanian serta kewibawaan. Kata Ambara melambangkan cakrawala dan visi masa depan, sedangkan Raja mencerminkan kepemimpinan yang bijaksana dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat.
Seluruh rangkaian kata tersebut menjadi representasi kawasan pusat pemerintahan yang berpijak pada sejarah namun terus melangkah menuju kemajuan. Melalui identitas ini, Buleleng meneguhkan komitmennya untuk menjaga warisan sejarah, memperkuat jati diri daerah serta membangun masa depan yang selaras dengan visi BULELENG PATEN: Produktif, Adaptif, Tuntas, Emansipatif, dan Nyata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....