Di Balik Butiran Garam Les, Ekonomi Desa yang Kembali Berdenyut

  • 24 Jun 2026 21:45 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Suasana Pasar Tradisional Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, pagi itu riuh oleh aktivitas warga. Pedagang dan pembeli saling bersahut, menciptakan denyut ekonomi desa pesisir di Bali Utara yang tak pernah benar-benar sepi. Di antara keramaian itu, tampak seorang pria paruh baya, Nyoman Sutawan (61), berdiri di ujung lorong pasar sambil menyerok butiran garam.

Garam yang ia pegang bukan garam biasa. Butirannya tampak lebih besar, kasar, dan bertekstur alami, berbeda dengan garam halus yang umum dijual di toko kelontong modern atau supermarket. Di tangannya, garam itu seolah bukan sekadar komoditas, melainkan jejak panjang tradisi yang masih bertahan di tengah arus modernisasi.

Tiba-tiba, suara Nyoman memecah riuh pasar. Keras, lantang, dan tanpa basa-basi. Refleks, kepala saya menoleh. Sekilas, ada dugaan suasana memanas, seperti ada perdebatan yang terjadi di antara pedagang dan pembeli.

“Lakar abe ke BUMDes!” teriaknya kepada seorang pembeli yang bertanya. Dalam Bahasa Bali, ia menegaskan bahwa garam itu akan dibawa ke BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) untuk dipasarkan.

Nada bicaranya terdengar kasar, pendek, dan tegas, jauh dari kelembutan dialek Bali halus yang kerap terdengar di wilayah lain. Namun tidak ada yang terusik. Para petani dan pembeli di sekitarnya justru merespons dengan anggukan ringan, seolah memahami itu sebagai bagian dari keseharian mereka. Itulah tutur khas masyarakat Desa Les, desa tua yang dikenal sebagai Bali Mula di Buleleng

Desa Les merupakan penghasil garam organik yang namanya telah melampaui batas pulau bahkan negara. Di tengah gempuran teknologi dan produksi massal, masyarakat di sini tetap setia pada cara-cara lama yang diwariskan turun-temurun. Mereka menyebutnya “ uyah palungan” proses pengolahan garam tradisional yang mengandalkan ketelitian, ketabahan, dan kesabaran yang seirama dengan ritme alam.

Uyah berarti garam, dan palungan adalah palung tempat menampung air laut yang telah disaring oleh pasir hitam khas pesisir Les. Di sanalah setiap tetes air asin dijemur hingga matahari menyulapnya menjadi kristal putih yang halus dan bercita rasa khas. Tidak ada mesin yang menderu, tidak ada pabrik yang mengepul. Yang ada hanya keterampilan tangan, panas yang menyengat kulit, dan dedikasi yang ditenun oleh generasi demi generasi.

Palungan yang dibuat secara tradisional oleh petani garam di Desa Les, Buleleng Bali. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

Nyoman Sutawan tidak hanya menjadi penjual di pasar, tetapi juga bagian penting dari rantai ekonomi garam tradisional Desa Les. Ia merupakan pengepul uyah palungan, garam hasil olahan petani lokal yang diproduksi secara tradisional dari air laut yang diuapkan melalui proses alami.

Garam tersebut tidak dijual dalam bentuk mentah semata, melainkan akan dikemas dan dipasarkan lebih lanjut melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Skema ini menjadi upaya desa untuk memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan nilai jual produk lokal agar petani tidak selalu berada di posisi paling bawah dalam struktur keuntungan.

Di tengah kesibukannya, Nyoman menegaskan perannya sebagai penghubung antara petani dan pasar desa.

“Saya ini pengepul garam palungan. Garam ini nanti akan dikemas di BUMDes, supaya ada nilai tambah yang lebih baik, dan petani tidak dirugikan di tengah jalan,” ujar Nyoman Sutawan.

Pandangan saya kemudian tertuju pada seorang petani garam di ujung ladang yang berada di pesisir Pantai Desa Les, sekitar 300 meter dari pasar. Jarak ini dapat ditempuh hanya dalam waktu sekitar satu menit menggunakan kendaraan bermotor atau berjalan kaki.

Di sana, ia tampak asyik menggaruk tanah, dengan topi sederhana berwarna biru menutupi sebagian wajahnya. Sosok itu adalah Wayan Selamat, pria berkulit legam dengan tubuh kurus namun kokoh, seperti batang-batang kelapa yang tumbuh di pesisir.

Wayan Selamat yang berdiri di ladang garam miliknya. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

Sejak masih bocah, Wayan sudah akrab dengan proses pembuatan garam tradisional. Dari mengalirkan air laut, menjemur, hingga memanen kristal garam yang terbentuk perlahan di atas tanah palungan, semuanya menjadi bagian dari rutinitas yang ia jalani tanpa jeda panjang.

“Saya sudah ikut ke ladang sejak umur lima tahun,” ujarnya sambil tersenyum, seolah mengenang masa kecilnya yang penuh rasa penasaran.

Ia tumbuh dengan pemandangan palungan, pasir hitam, dan cahaya matahari yang tak pernah absen dari profesi ini. Wayan Selamat memahami setiap tahapan membuat garam tradisional sebagaimana seseorang memahami denyut nadinya sendiri. Ia menjelaskan proses dimulai dari mengambil air laut, atau yang mereka sebut ngewayahang. Air itu kemudian disaring melalui tabung bambu sebelum dituangkan ke palungan batang kelapa yang telah dikeruk dalam dan dijajarkan rapi seperti rel-rel kecil di tepi pantai.

“Kalau matahari sedang bagus, cepat sekali mengkristalnya, Garamnya lebih putih dan lebih bersih,” katanya.

Garam yang dihasilkan dengan cara tradisonal ini memiliki cita rasa yang berbeda, maka dari itu tidak heran garam desa les bukan saja terkenal di lokal namun sudah dikirim ke jepang dan beberapa negara lainnya. Setiap musim kemarau, masyarakat Les dapat menghasilkan dua hingga tiga ton garam per panen bukti bahwa tradisi bisa tetap produktif di era modern.

Wayan Selamat sempat khawatir garam palungan akan ditinggalkan karena semakin sedikit yang meneruskan pekerjaan sebagai petani garam tradisional. Ia melihat minat generasi muda mulai menurun dan tradisi itu perlahan terancam.

Namun kekhawatiran itu mulai berubah seiring masuknya kemudahan teknologi, terutama dalam pengemasan dan pemasaran melalui BUMDes. Garam palungan yang sempat dianggap tertinggal kini kembali diminati karena lebih tertata dan punya akses pasar yang lebih luas.

“Saya sempat khawatir garam ini akan ditinggalkan. Tapi sekarang, dengan bantuan teknologi dan BUMDes, justru mulai banyak yang melirik lagi,” ujar Wayan Selamat.

Kolaborasi antara petani garam, pengepul, dan BUMDes di Desa Les menjadi titik balik penting bagi kebangkitan ekonomi lokal yang sebelumnya nyaris meredup. Skema kerja sama ini tidak hanya memperpendek rantai distribusi, tetapi juga memastikan nilai tambah produk kembali ke tangan petani.

Perubahan Memberi Nafas Baru

Nyoman Sutawan menuturkan perubahan paling terasa dalam rantai usaha garam palungan adalah kemudahan transaksi keuangan setelah masuknya sistem digitalisasi perbankan melalui PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI. Jika sebelumnya pembayaran kepada petani dilakukan secara tunai dan kerap membutuhkan waktu, kini proses tersebut menjadi lebih cepat, transparan, dan tercatat dengan baik.

Ia menjelaskan, sistem pembayaran digital ini membantu pengepul dalam menjaga arus kas tetap stabil, sekaligus meminimalkan risiko keterlambatan pembayaran kepada petani. Transaksi yang lebih tertib juga membuat hubungan antara petani, pengepul, dan BUMDes berjalan lebih efisien.

“Sekarang lebih mudah, pembayaran ke petani bisa langsung lewat sistem digital. Jadi tidak menunggu lama, semua lebih cepat dan jelas,” ujar Nyoman Sutawan.

Penguatan usaha garam palungan tidak hanya datang dari sisi transaksi digital, tetapi juga dukungan pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BNI. Nyoman Sutawan menuturkan, ia sempat mengalami kesulitan dalam memutar modal usaha, terutama saat kebutuhan pembelian garam dari petani meningkat dalam waktu bersamaan. Kondisi tersebut kerap membuat arus perputaran usaha berjalan tersendat.

“Dulu sempat kesulitan memutar modal, apalagi saat pembelian garam dari petani sedang ramai-ramainya. Tapi sekarang dengan adanya dukungan pembiayaan,” ujar Nyoman Sutawan.

Awalnya, Nyoman Sutawan memulai usahanya dari pinjaman kecil sebesar Rp20 juta. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli garam dari petani di Desa Les, lalu memutarnya kembali dengan menjual hasilnya ke pasar yang lebih luas. Dari proses sederhana itu, perlahan ia mulai membangun rantai usaha garam palungan yang kini berkembang bersama BUMDes.

“Awalnya saya pinjam Rp20 juta, saya putar untuk beli garam dari petani, lalu saya jual lagi. Dari situ pelan-pelan usaha ini bisa jalan sampai sekarang,” ujar Nyoman Sutawan.

Dengan adanya akses pembiayaan tersebut, arus perputaran usaha menjadi lebih stabil. Nyoman dapat membeli hasil produksi petani secara lebih cepat tanpa harus menunggu modal berputar terlalu lama, sehingga rantai produksi tidak terhambat.

“Ini sangat membantu sekali, karena semua jadi lebih dekat. Tidak perlu jauh-jauh ke bank, semua kebutuhan transaksi bisa dilakukan menggunakan aplikasi wondr by BNI,” ujar Nyoman Sutawan.

Aplikasi Wondr by BNI. (Foto: RRI/BNI).

Hingga kini, pemasaran garam Desa Les tidak lagi terbatas pada pasar lokal. Produk garam palungan yang dihasilkan para petani mulai menjangkau wisatawan yang datang langsung ke desa untuk melihat proses pembuatannya. Banyak pengunjung yang tertarik bukan hanya pada hasil akhirnya, tetapi juga pada cara tradisional yang masih dipertahankan secara turun-temurun.

“Sekarang garam ini nggak cuma dijual di pasar lokal, tapi juga sudah banyak dibeli wisatawan yang datang ke Desa Les. Mereka biasanya lihat prosesnya dulu, terus sekalian beli,” ujar Nyoman Sutawan.

Selain potensi garamnya, Desa Les juga menyimpan kekayaan alam yang tak kalah memikat. Terletak di Kecamatan Tejakula, Buleleng, desa ini berada di titik pertemuan pegunungan dan laut, sebuah lanskap yang oleh warga setempat diyakini sebagai perwujudan konsep nyegara gunung dalam filosofi Bali. Harmoni dua elemen alam tersebut terasa kuat, seolah menjadi nadi yang menghidupkan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Kepala Desa Les, Gede Adi Wistara, menyebut pihaknya terus mendorong penguatan ekonomi desa melalui berbagai kerja sama strategis. Salah satunya dengan membuka akses pergerakan ekonomi masyarakat agar lebih inklusif dan berkelanjutan, termasuk melalui kemitraan dengan BNI.

Kepala Desa Les, Gede Adi Wistara saat mengawasi pengemasan garam Desa Les. (Foto: RRI/Desa Les).

Menurutnya, kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi desa, terutama dengan menghidupkan kembali sektor usaha lokal seperti garam palungan yang dikelola melalui BUMDes.

“Kerja sama ini kami dorong untuk membuka akses ekonomi masyarakat. Harapannya, kemandirian ekonomi desa bisa terwujud, salah satunya melalui penguatan BUMDes dan dukungan perbankan,” ujar Gede Adi Wistara.

Selain menggerakkan sektor ekonomi berbasis garam, transformasi digital dalam sistem transaksi keuangan juga mulai memberi dampak pada sektor pariwisata lokal Desa Les. Kemudahan pembayaran non-tunai membuat aktivitas wisata lebih praktis bagi pengunjung, sekaligus mendorong pelaku usaha kecil seperti warung, homestay, hingga jasa lokal untuk lebih siap menerima wisatawan.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat dukungan terhadap sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui penyaluran kredit produktif serta inovasi layanan perbankan yang berkelanjutan.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan bahwa perseroan konsisten menerapkan strategi inklusif dengan memperluas pembiayaan berbasis sektor produktif serta mempercepat transformasi layanan digital. Langkah ini ditujukan agar UMKM dapat tumbuh lebih berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

“Dengan strategi inklusif, pembiayaan berbasis sektor produktif, hingga inovasi digital, BNI akan terus mendukung UMKM agar mampu tumbuh berkelanjutan dan meningkatkan kontribusinya bagi perekonomian nasional,” ujar Okki Rushartomo.

Hingga triwulan pertama dan menjelang pertengahan 2026, penyaluran pembiayaan UMKM BNI mencatat pertumbuhan positif. Total kredit secara keseluruhan mencapai Rp919,3 triliun, atau tumbuh 20,1 persen secara year-on-year. Capaian ini ditopang oleh berbagai produk pendanaan strategis serta suku bunga kompetitif yang difokuskan bagi pelaku usaha di Indonesia.

Dari garam palungan, dari tangan-tangan petani, hingga geliat wisata yang mulai ramai, Desa Les pelan-pelan menunjukkan kemandirian ekonomi tidak datang dalam sekejap. Ia tumbuh dari kerja panjang, dari kebiasaan yang dijaga, dan dari keberanian untuk berubah tanpa meninggalkan akar.

Di tengah itu, hadirnya dukungan pembiayaan KUR, penguatan koperasi, hingga akses pasar yang lebih luas melalui BNI Xpora membuat usaha-usaha kecil di desa ini tidak lagi berjalan sendiri. Rantai ekonomi yang dulu terputus kini mulai tersambung, dari produksi, pengemasan, sampai ke pasar yang lebih jauh.

Dukungan BNI untuk mitra Binaan. (Foto: RRIBNI).

Dalam semangat Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Desa Les menjadi contoh kecil kemandirian ekonomi rakyat bertumpu pada desa, pada petani, pengepul, dan pelaku usaha yang terus bergerak meski dengan keterbatasan.

Pengakuan itu datang pada 2024, ketika Desa Les dinobatkan sebagai Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI). Tapi bagi warga, yang lebih penting dari penghargaan itu adalah perubahan yang teras, garam kembali bernilai, wisata mulai hidup, dan desa tidak lagi berjalan di tempat.

Desa Les tidak lagi sekadar cerita tentang desa tua di pesisir Buleleng. Ia menjadi ruang yang terus bergerak, tempat ekonomi rakyat tumbuh perlahan, dan harapan tidak lagi terdengar seperti janji, tapi mulai terlihat di kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....