Eceng Gondok Ancam Danau Buyan, Pembersihan Kolaboratif Terus Digencarkan

  • 21 Jun 2026 08:54 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Keberadaan eceng gondok yang menutupi sekitar delapan hektare kawasan Danau Buyan menjadi perhatian serius pemerintah dan para pemangku kepentingan. Pertumbuhan gulma air yang cukup masif itu dinilai berpotensi mengganggu fungsi ekologis danau, sehingga upaya pembersihan terus digencarkan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida bersama pemerintah daerah, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), serta masyarakat sekitar danau kini memperkuat sinergi untuk mempercepat pembersihan badan air Danau Buyan. Langkah tersebut dilakukan agar fungsi danau sebagai sumber air dan kawasan konservasi tetap terjaga.

Kepala BWS Bali-Penida, Gunawan Suntoro, mengatakan pembersihan Danau Buyan sebenarnya telah dilakukan secara rutin. Namun, prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama karena selain harus mengangkat gulma dari badan air, petugas juga menghadapi kendala dalam proses pengangkutan dan pembuangannya.

“Pembersihan ini sebenarnya rutin kami lakukan, tetapi memang membutuhkan waktu yang lama. Yang dibutuhkan adalah ketika ada pasukan atau personel di darat untuk bisa mengangkut dan membuang gulma atau tanaman-tanaman yang dibersihkan. Tugas kami memang melakukan perawatan badan air agar tetap terjaga,” ujarnya pada 9 Juni 2026pada 9 Juni 2026 pada 9 Juni 2026 pada 9 Juni 2026.

Menurut Gunawan, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan pembersihan saat ini sangat membantu mempercepat penanganan eceng gondok di Danau Buyan. Ia mengapresiasi dukungan yang diberikan karena persoalan gulma di danau tidak dapat ditangani oleh satu instansi saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor.

“Dengan kegiatan ini sangat baik sekali dan kami sangat apresiasi sekali karena akan mempercepat proses pembersihan Danau Buyan ini. Ke depan kami tetap akan melakukan pemeliharaan badan air di Danau Buyan bekerja sama dengan BKSDA dan pemerintah daerah,” katanya.

Ia mengungkapkan, keberadaan eceng gondok yang mencapai sekitar delapan hektare berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem danau. Dari sisi pengelolaan sumber daya air, keberadaan gulma yang berlebihan dapat memengaruhi fungsi konservasi, meningkatkan potensi gangguan terhadap aliran air, serta berdampak pada kualitas pemanfaatan air bagi masyarakat.

“Kalau untuk eceng gondoknya sendiri, secara alam tentu akan mengganggu habitat-habitat, mungkin ikan dan segala macam. Dari sisi sumber daya air, kami mengelola konservasi sumber air agar tetap terjaga, termasuk pencegahan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh air seperti banjir dan juga pemanfaatan airnya,” ucapnya.

Gunawan berharap upaya pembersihan yang dilakukan secara kolaboratif dapat mengurangi bahkan mengatasi persoalan eceng gondok di Danau Buyan. Dengan kondisi danau yang lebih bersih, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga oleh masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan dan aktivitasnya pada keberadaan danau tersebut.

“Masyarakat bisa menggunakan airnya dengan lebih baik dan lebih segar. Sumber air akan lebih terjaga dan alam di sekitar Danau Buyan juga dapat tetap lestari,” katanya.

Pemerintah dan seluruh pihak terkait pun berkomitmen melanjutkan pemeliharaan Danau Buyan secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi yang semakin kuat, Danau Buyan diharapkan dapat terbebas dari ancaman eceng gondok dan tetap menjadi salah satu sumber daya alam penting yang menopang kehidupan masyarakat serta menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan Bali Utara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....