Ragam Fungsi Kawangen dalam Pelaksanaan Upacara Yadnya
- 12 Jun 2026 14:41 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam teologi Hindu Bali, sarana upacara bukanlah sekadar hiasan ragawi, melainkan media spiritual yang sarat makna. Salah satu sarana penting dalam berbagai ritual Yadnya adalah Kawangen. Berakar dari kata wangi (keharuman/kesucian), sarana berbentuk kerucut dari daun pisang ini melambangkan aksara suci Omkara serta penyatuan unsur Purusa (jiwa) dan Pradhana (materi) untuk memohon keseimbangan lahir batin.
Merujuk pada buku Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu karya I Ketut Wiana, Kawangen memiliki fleksibilitas fungsi yang sangat dinamis dalam kehidupan religius masyarakat Bali.
Berikut adalah beberapa fungsi Kawangen dalam pelaksanaan upacara Yadnya:
Dalam prosesi pembangunan rumah maupun tempat suci, Kawangen berfungsi sebagai Pangurip-urip (pembangkit jiwa). Sarana ini disisipkan pada Banten Dasar dan Banten Pedagingan dari tahap awal (Ngeruwak Karang) hingga puncak upacara (Melaspas).
Kawangen digunakan berpasangan dalam Banten Dewa Dewi di Sanggar Surya sebagai simbol Ardhanareswari (penyatuan maskulin-feminin). Bertujuan untuk memberikan vibrasi kesucian (niskala) agar bangunan tidak menjadi benda mati, melainkan memancarkan energi yang seimbang demi keselamatan penghuninya.
Pada ritual kematian, Kawangen menjadi simbol pelepasan unsur kebendaan dari jiwa manusia melalui beberapa tahapan. Saat memandikan jenazah (Mreteka Wong Pejah) sebanyak 22 buah Kawangen diletakkan pada persendian dan titik vital raga untuk mengantarkan roh dari alam keduniawian menuju alam kesucian.
Dalam upacara Ngereka & Nyekah (Atma Wedana), Kawangen digunakan saat merangkai abu jenazah, hingga menjadi bagian dari Puspa Lingga (simbol badan halus roh). Setelah Puspa Lingga dibakar, abunya di reka (dirangkai khusus) menggunakan 9 buah Kawangen, lalu dihanyutkan ke laut atau sungai.
Rangkaian akhir dari penyucian roh, Kawangen digunakan setelah Dakṣiṇa Panuntun disthanakan di Sanggah Kamulan. Melalui upacara sebagaimana mestinya, Daksina penuntun Dibakar, abunya dimasukkan ke dalam kelapa gading lalu ditanam di belakang Sanggah Kamulan bersama sebuah Kawangen.
Berdasarkan panduan sastra suci seperti Lontar Purwa Bhumi Kamulan dan Lontar Pitutur Lebur Gangsa, Kawangen di tahap akhir ini menjadi sarana bagi keturunan (Pratisentana) untuk memohon limpahan anugerah dari Dewa Pitara yang telah menyatu menjadi Baṭara Hyang Guru.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....