Kurma Asih Jembrana Raih Kalpataru Lestari 2026 Berkat Dedikasi Konservasi Penyu

  • 11 Jun 2026 18:39 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara – Komitmen panjang dalam menjaga kelestarian penyu mengantarkan Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih dari Desa Perancak, Kecamatan Jembrana, meraih penghargaan tertinggi lingkungan hidup tingkat nasional, Kalpataru Lestari 2026.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang dirangkaikan dengan Pameran Teknologi Lingkungan Internasional (INVIROTECH) 2026 di Jakarta, Kamis 11 Juni 2026.

Kurma Asih menjadi salah satu dari lima penerima penghargaan Kalpataru Lestari tahun ini. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi kelompok dalam menjalankan upaya pelestarian lingkungan, khususnya konservasi penyu dan perlindungan ekosistem pesisir selama hampir tiga dekade.

Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena diraih bertepatan dengan hari jadi ke-29 Kelompok Kurma Asih. Organisasi konservasi berbasis masyarakat itu didirikan pada 11 Juni 1997 dan hingga kini tetap aktif mengawal penyelamatan penyu yang menjadi satwa dilindungi.

Ketua Kelompok Kurma Asih, I Wayan Anom Astika Jaya, mengatakan penghargaan Kalpataru Lestari merupakan kelanjutan dari penghargaan Kalpataru yang pernah diterima kelompoknya pada 2017.

Menurutnya, penghargaan terbaru ini menjadi bukti bahwa berbagai program konservasi yang dijalankan terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan.

“Setelah menerima Kalpataru pada 2017, kini ada Kalpataru Lestari. Penghargaan ini diberikan karena kami dinilai tetap eksis, konsisten, dan berkomitmen dalam upaya penyelamatan penyu lekang yang dilindungi undang-undang,” ujarnya.

Selama 29 tahun terakhir, Kurma Asih dikenal sebagai pelopor konservasi penyu berbasis masyarakat di Kabupaten Jembrana. Berawal dari keprihatinan terhadap maraknya perburuan telur dan penyu di kawasan pesisir, kelompok ini berhasil mengedukasi masyarakat hingga mengubah pola pikir warga dari pemburu menjadi pelindung penyu.

Keberhasilan tersebut dinilai menjadi contoh nyata bagaimana keterlibatan masyarakat dapat mendukung pelestarian keanekaragaman hayati. Di tengah berbagai tantangan lingkungan, mulai dari perubahan iklim hingga pencemaran sampah plastik di laut, keberadaan kelompok konservasi seperti Kurma Asih dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Wayan Anom juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga alam tidak dapat dilakukan secara parsial karena ekosistem dari wilayah hulu hingga pesisir saling berkaitan.

“Ayo selamatkan yang masih tersisa sebelum terlambat. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi tanggung jawab bersama. Hulu dan pesisir adalah satu kesatuan ekosistem yang tidak bisa dipisahkan. Lingkungan yang baik akan menjamin kualitas kehidupan yang lebih baik pula,” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....