Makna Filosofis di Balik Bersihnya Kelapa Daksina
- 04 Jun 2026 12:41 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu di Bali, Banten Daksina menduduki posisi yang sangat penting sebagai simbol kehadiran Tuhan (Sthana Tuhan) serta wujud penghormatan umat. Buah kelapa yang digunakan sebagai bahan pokok daksina harus dikerik dan dibersihkan dari serabutnya hingga benar-benar bersih.
Menurut penjelasan I Ketut Wiana dalam buku Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu, serabut kelapa yang melekat erat pada buahnya merupakan lambang indria yang mengikat diri manusia. Serabut-serabut tersebut diibaratkan sebagai keinginan, nafsu, dan pamrih keduniawian yang sering kali membelenggu jiwa.
Proses mengerik dan membersihkan serabut kelapa hingga bersih memuat pesan moral bahwa umat manusia harus mampu mengendalikan dan membersihkan diri dari ikatan-ikatan indria tersebut. Katha Upanisad menganalogikan tubuh manusia ibarat kereta.
Atman adalah pemilik kereta, badan adalah kereta itu sendiri, Buddhi (kecerdasan) adalah kusir kereta, Pikiran adalah tali kekang kuda dan Indria adalah kuda penarik kereta. Apabila indria (kuda) dibiarkan liar tanpa kendali pikiran dan buddhi yang sehat, maka arah kehidupan manusia akan tersesat ke dalam kesengsaraan (Samsara).
Oleh karena itu, serabut kelapa yang bersih menjadi lambang daya pengikat indria yang telah berhasil dijinakkan dan dibersihkan melalui ketetapan hati yang suci. Dalam lontar Yadnya Prakerti, Daksina adalah lambang Hyang Guru atau Hyang Tunggal yang berfungsi sebagai tapakan, sthana suci, dan saksi dewata.
Daksina disebut juga Yadnya Patni, serta simbol persembahan yang suci dan tanda terima kasih yang tulus, murni tanpa pamrih. Dengan memahami makna ini, proses mengupas dan mengerik kelapa daksina menjadi sebuah latihan spiritual bagi umat Hindu untuk membersihkan kekotoran batin sebelum menghubungkan diri dengan Sang Pencipta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....