Gastronomi Bali Mulai Terpinggirkan di tengah Arus Globalisasi

  • 22 Mei 2026 16:00 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja — Gastronomi tidak hanya berbicara tentang makanan dan cita rasa, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Namun di tengah pesatnya perkembangan pariwisata dan arus globalisasi, warisan gastronomi tradisional Bali kini mulai menghadapi ancaman serius.

Ketua Tim peneliti Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sang Ayu Putu Eny Parwati, mengatakan gastronomi merupakan studi yang mempelajari hubungan antara makanan dengan budaya, sejarah, hingga kehidupan sosial masyarakat.

“Ketika kita berbicara tentang Ayam Betutu, Lawar, atau tradisi Megibung, kita tidak hanya membahas rasa makanan, tetapi juga filosofi dan nilai kehidupan masyarakat Bali,” ujarnya kepada RRI, Jumat 22 Mei 2026.

Menurutnya, makanan tradisional Bali menyimpan nilai budaya yang sangat kuat, termasuk konsep Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Kegiatan pengumpulan data terkait dengan pengajaran BIPA di UPA Bahasa Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja pada Kamis, 20 Mei 2026 (Foto: Dok. BRIN)

Namun, kondisi gastronomi Bali saat ini dinilai memprihatinkan. Arus modernisasi dan gaya hidup serba praktis membuat generasi muda mulai meninggalkan pengetahuan lokal tentang kuliner tradisional.

“Banyak resep nenek moyang, teknik memasak tradisional, hingga makna simbolis dalam sajian upacara mulai terlupakan,” katanya.

Ia menambahkan, sejumlah penelitian menunjukkan lebih dari 60 persen generasi muda Bali tidak mampu mengidentifikasi lima jenis makanan upacara tradisional secara lengkap. Ia menyebut kondisi itu sebagai krisis pewarisan budaya yang nyata.

Karena itu, pelestarian gastronomi dinilai penting dilakukan, tidak hanya melalui sektor kuliner dan pariwisata, tetapi juga melalui pendidikan. Salah satunya dengan pengembangan bahan ajar berbasis gastronomi dalam program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Melalui pendekatan tersebut, pemelajar asing tidak hanya belajar bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya lokal Bali melalui pengalaman memasak, mengenal bahan pangan tradisional, hingga mencicipi makanan khas daerah.

“Gastronomi bukan sekadar soal makan enak, tetapi juga tentang memahami identitas dan warisan budaya masyarakat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....