Antisipasi Kemarau Panjang, Distankan Buleleng Tekan Risiko Gagal Panen

  • 20 Apr 2026 09:53 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Distankan) Kabupaten Buleleng terus memperkuat langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap sektor pertanian. Upaya ini difokuskan pada pemetaan wilayah rawan kekeringan serta penyusunan langkah mitigasi guna mencegah potensi gagal panen.

Kepala Distankan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan pihaknya telah mengidentifikasi sejumlah titik irigasi yang berpotensi terdampak kekeringan. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang tepat agar produksi pertanian tetap terjaga.

“Kami sudah memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kemarau panjang, sehingga langkah mitigasi bisa dilakukan lebih awal untuk mencegah gagal panen,” ujarnya, Senin 20 April 2026.

Distankan Buleleng mencatat luas baku sawah di Bali Utara mencapai sekitar 7.000 hektare dengan pola tanam hingga tiga kali dalam setahun. Dengan demikian, target luas tanam dapat mencapai sekitar 18.000 hektare per tahun, meskipun saat ini mengalami penurunan menjadi sekitar 16.000 hektare akibat fenomena El Nino.

Sebagai solusi, pembangunan irigasi perpompaan terus didorong untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian. Program ini juga mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.

Saat ini, Distankan Buleleng telah memiliki sekitar 10 unit irigasi perpompaan yang tersebar di beberapa wilayah, dengan salah satu contoh keberhasilan berada di Subak Penarukan. Sistem ini juga dikembangkan melalui kolaborasi dengan perusahaan daerah guna memastikan keberlanjutan operasional di lapangan.

“Irigasi perpompaan menjadi solusi penting karena kendala utama pertanian adalah air. Dengan sistem ini, kita bisa membuka sumber air baru untuk menjaga produksi,” ucapnya.

Selain itu, perbaikan infrastruktur irigasi juga terus dilakukan, termasuk penanganan saluran yang mengalami kerusakan. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan sektor pertanian dan meminimalisir risiko gagal panen.

“Sekarang kondisinya justru lebih aman karena beberapa titik yang sebelumnya bermasalah sudah diperbaiki. Ini bagian dari upaya menjaga produksi tetap stabil,” katanya.

Melalui berbagai langkah tersebut, pihaknya optimis produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi tantangan kemarau panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....