Waspada DBD, Dinkes Buleleng Temukan Banyak Sarang Jentik

  • 14 Apr 2026 09:41 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Buleleng menemukan sejumlah titik perkembangbiakan jentik nyamuk di sekitar lokasi kasus setelah melakukan penyelidikan epidemiologi.

Kepala Dinkes Buleleng, dr. Sucipto, mengatakan tim penyelidik epidemiologi (PE) langsung turun ke lapangan begitu menerima laporan kasus dari masyarakat. Hasil penelusuran menunjukkan adanya jentik nyamuk di beberapa titik yang berpotensi menjadi sumber penularan.

“Begitu kami terima laporan, langsung kami lakukan PE. Dari hasil pemeriksaan ditemukan sejumlah titik jentik,” ujarnya, Senin 13 April 2026.

Temuan tersebut memperkuat indikasi terjadinya transmisi lokal, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi. Petugas kemudian melakukan penyisiran ke rumah-rumah warga untuk memastikan tidak ada lagi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Sebagai langkah penanganan cepat, Dinkes melakukan fogging secara selektif di lokasi terdampak. Namun demikian, fogging ditegaskan bukan menjadi solusi utama dalam memutus rantai penularan DBD.

“Yang paling penting tetap pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Fogging hanya membasmi nyamuk dewasa, sementara jentik masih berpotensi berkembang, bahkan bisa menimbulkan pencemaran udara,” ucapnya.

Sucipto juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan melalui pengelolaan sampah dan menghindari genangan air yang menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk.

Menurutnya, kepadatan penduduk, cuaca ekstrem, serta kurangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan menjadi faktor utama meningkatnya kasus DBD di Buleleng. Lingkungan yang tidak terkelola dengan baik dinilai sangat rentan menjadi sarang nyamuk.

“Lingkungan padat dan banyak tempat genangan air yang tidak dibersihkan bisa menjadi sarang jentik. Ini yang harus diwaspadai,” katanya.

Hingga 9 April 2026, Dinkes Buleleng mencatat sebanyak 109 kasus DBD sejak awal tahun. Kecamatan Gerokgak menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Kecamatan Buleleng, Kubutambahan, Tejakula, dan Sukasada, sementara empat kecamatan lainnya masih nihil kasus.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak mengabaikan gejala awal DBD seperti demam tinggi lebih dari tiga hari, muncul bintik merah di kulit, mual, muntah, atau mimisan. Jika gejala tersebut muncul, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Selain itu, seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan telah diminta untuk segera melaporkan setiap temuan kasus agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. Langkah cepat dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran kasus lebih luas.

“Kalau laporan cepat, penanganan juga bisa cepat. Ini kunci untuk mencegah kasus meluas,” ujarnya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....